RJ-80 Sengsara di Negeri Makmur

- Kamis, 11 Juni 2020 | 09:42 WIB
Ilustrasi RJ-80
Ilustrasi RJ-80

Pembuatan RJ-80, dirintis BJ Habibie pada tahun 2015, didasarkan pada studi selama dua tahun di Amerika Serikat. RJ-80 cocok untuk Indonesia bahkan Asia dan Afrika karena dapat dimanfaatkan untuk penerbangan jarak pendek. Hemat bahan bakar. Mudah perawatannya.

Pesawat ini dapat dikendalikan secara elektronik (fly by wire). By pass rationya 40 sedangkan Airbus dan Boeing 12, hingga semakin tinggi terbang akan semakin cepat dan efisien.

Komisaris PT RAI Ilham Akbar Habibie lima tahun lalu menyatakan, RJ-80 yang berbaling-baling itu sangat sesuai dengan tipikal kepulauan di Indonesia. Cocok juga untuk penerbangan jarak pendek seperti Yogyakarta-Semarang, Surabaya-Banyuwangi.

Biaya operasional murah hingga sesuai dengan karakter penerbangan jarak pendek yang harga tiketnya murah, katanya seraya menambahkan, pengusaha maskapai penerbangan sangat respek.

RJ-80 ditargetkan terbang perdana pada 2018,dan setahun kemudian memperoleh sertifikasi kelaikan udara, tetapi rencana tinggal rencana. Pesawat yang sudah dipesan sejumlah perusahaan penerbangan, seperti NAM Air, itu kini memasuki cuaca buruk.

Perlu Patron

Di negara-negara berkembang, mendirikan industri memerlukan patron, yakni seseorang yang memiliki kekuasaan, wewenang atau pengaruh. BJ Habibie dapat membangkitkan banyak industri strategis karena didukung Presiden Soeharto.

BJ Habibie membawahkan sepuluh industri strategis diantaranya PT PAL, PT PINDAD, PT IPTN, Perum Dahana dan Industri Telekomunikasi Indonesia. Habibie memiliki jaringan bisnis yang luas, alhasil perusahaan-perusahaan itu dapat bekerja sama dengan produsen asing untuk menghasilkan produk–produk yang canggih. Indonesia juga punya daya tawar untuk mengajukan offsett bila membeli produk asing.

Industri strategis terkena dampaknya, ketika kekuasaan Presiden Soeharto surut sebagai dampak krisis moneter-politik. Siapapun tahu krisis itu disebabkan perusahaan-perusahaan yang berutang kelewat batas bukan akibat kelakuan industri strategis.

BJ Habibie menyesalkan keputusan IMF yang mensyaratkan pengurangan anggaran IPTN yang berdampak pada penghentian produksi. Padahal pesawat N-250 Gatot Kaca yang sudah terbang dan pandai melenggak-lenggok tengah dalam proses memperoleh sertifikasi FAA.

Halaman:

Editor: M. Naufal Hafizh

Tags

Terkini

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB

Sejarah Stasiun Padalarang: Kenangan Dahulu dan Kini

Jumat, 15 Oktober 2021 | 11:04 WIB

Catch Me if You Can di Tjimahi Tempo Doeloe

Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:33 WIB

Nicolaas Vink, 50 Tahun Menjadi Anggota UNI

Rabu, 13 Oktober 2021 | 10:04 WIB

Misteri Perang Bubat IV: Kolofon Carita Parahyangan

Selasa, 12 Oktober 2021 | 10:36 WIB

Menyoal Upaya Pemulihan Ekonomi, Perlukah Alih Konsep?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:58 WIB

Instagram Memang Asyik, Tetapi Mengapa Digugat?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:38 WIB

Memerdekakan Diri untuk Membaca Budaya

Senin, 11 Oktober 2021 | 16:21 WIB

Kesenjangan Antara Masjid dan Toiletnya

Minggu, 10 Oktober 2021 | 17:40 WIB
X