RJ-80 Sengsara di Negeri Makmur

- Kamis, 11 Juni 2020 | 09:42 WIB
Ilustrasi RJ-80
Ilustrasi RJ-80

Mantan Presiden RI BJ Habibie berperan dalam pembuatan pesawat sipil, militer, dan persenjataan seperti peluru kendali pada konsorsium Airbus. Tidak berlebihan bila dikatakan BJ Habibie merupakan tokoh penting dalam industri penerbangan dan militer Jerman, Eropa Barat, serta Pakta Persekutuan Atlantik Utara (NATO).

Airbus dan Boeing Corp. menguasai pembuatan pesawat dengan daya angkut di atas seratus penumpang dengan jarak tempuh sejauh Jakarta-London tanpa henti. Di antaranya Airbus A-380 dan Boeing-787.

Bombardier Inc. dari Kanada dan Embraer Aerospace Company dari Brasil bersaing untuk pesawat-pesawat sipil komersial untuk tujuan regional maupun pesawat eksekutif dengan daya tempuh antar benua.

Pratt & Whitney dan General electric, keduanya dari Amerika Serikat dan Roll Royce dari Inggris bersaing menciptakan mesin yang senyap dan hemat bahan bakar. Mereka juga bersaing dalam menyediakan skema kontrak power by the hour. Artinya kira-kira konsumen membayar berdasarkan lama penggunaan mesin itu. Biasanya penggunaan dalam setahun.

Mengambil Niche

RJ-80 mengambil niche dari pasar regional yang dewasa ini diisi pesawat ATR (Average True Range ) berbagai seri buatan Aerospatiale dari Prancis bersama Aeritalia dari Italia.

Setidaknya 408 unit lebih ATR digunakan di seluruh dunia. Di Indonesia, ATR dipakai diantaranya oleh TransNusa, Trigana, Garuda (dipakai Citilink) , Pelita Air Service dan Wing Air.

Dalam proses pembuatan pesawat ATR, bahkan Bombardier dan Embraer turut serta banyak tenaga ahli dari IPTN. Mereka pergi setelah IMF mensyaratkan pemotongan anggaran bagi IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara).

Pemotongan itu sebagai imbalan pemberian dana talangan US$ 5 miliar untuk mengatasi krisis ekonomi Indonesia tahun 1998. Padahal saat itu, produksi IPTN yakni N-250 sudah mengudara dan sedang dalam proses mengajukan sertifikasi kepada FAA (Federal Aviation Adiministration ).

FAA dianggap ‘dewa’ dalam pemberian sertifikat layak terbang. Sertifikasi FAA menjadi salah satu syarat mutlak dalam bisnis pesawat terbang. Walaupun pernah terungkap, FAA tidak sepenuhnya memeriksa kelainkan B-787 dengan dalih kekurangan tenaga ahli. Kasus yang memalukan ini lenyap begitu saja.

Halaman:

Editor: M. Naufal Hafizh

Tags

Terkini

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB

Sejarah Stasiun Padalarang: Kenangan Dahulu dan Kini

Jumat, 15 Oktober 2021 | 11:04 WIB

Catch Me if You Can di Tjimahi Tempo Doeloe

Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:33 WIB

Nicolaas Vink, 50 Tahun Menjadi Anggota UNI

Rabu, 13 Oktober 2021 | 10:04 WIB

Misteri Perang Bubat IV: Kolofon Carita Parahyangan

Selasa, 12 Oktober 2021 | 10:36 WIB

Menyoal Upaya Pemulihan Ekonomi, Perlukah Alih Konsep?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:58 WIB

Instagram Memang Asyik, Tetapi Mengapa Digugat?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:38 WIB

Memerdekakan Diri untuk Membaca Budaya

Senin, 11 Oktober 2021 | 16:21 WIB

Kesenjangan Antara Masjid dan Toiletnya

Minggu, 10 Oktober 2021 | 17:40 WIB

Evergrande CS Membuat China Bangkrut?

Minggu, 10 Oktober 2021 | 14:00 WIB
X