Menilik Tradisi Grebeg Syawal di Cirebon saat Pandemi Covid-19

- Kamis, 4 Juni 2020 | 10:48 WIB
Kompleks Pemakaman Gunung Jati, Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Minggu (31/05/2020). (Melly Yustin Aulia)
Kompleks Pemakaman Gunung Jati, Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Minggu (31/05/2020). (Melly Yustin Aulia)

AYOBANDUNG.COM – Setiap Idulfitri, keluarga berziarah ke makam para leluhur yang telah mendahului ke alam abadi.

Begitupun dengan keluarga keraton di seluruh Cirebon mengunjungi kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati, orang sekitar menyebut tradisi tahunan ini dengan “Grebeg Syawal”. Tradisi ini digelar beberapa hari selesai Idulfitri.

Pada 8 Syawal tiap tahunnya, Kesultanan Keraton Kanoman menggelar ritual Grebek Syawal. Ribuan masyarakat Cirebon dan sekitarnya turut mengikuti tradisi ini untuk mendoakan para pemimpin Cirebon terdahulu dan bersilaturahmi dengan keluarga Keraton.

Kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati memiliki sembilan pintu dan berbukit. Pintu Teratai merupakan pintu untuk menuju puncak bukit tempat pesarean Syekh Syarif Hidayatullah atau yang terkenal dengan Sunan Gunung Jati.

Di situlah keluarga keraton berdoa serta berzikir. Hanya keluarga keraton dan juru kunci pemakaman Sunan Gunung Jati saja yang boleh memasuki puncak bukit Gunung Sembung atau Gedung Jinem. Sementara itu, masyarakat umum biasa berdoa di Pintu Pasujudan.

“Kami melakukan tujuh kali doa bersama, tahlil, dan zikir di tujuh areal pemakaman mulai dari makam Sunan Gunung Jati hingga makam cicit Sunan Gunung Jati yang menjadi raja Kanoman generasi kedua. Semuanya dilakukan menghadap kiblat, dan diakhiri dengan tutup doa menghadap Pintu Pasujudan sekaligus menutup kembali pintu tersebut atas izin sultan,” jelas Ratu Raja Arimbi Nurtina, Juru Bicara Keraton Kanoman.

Kesembilan pintu gerbang memiliki nama masing-masing, seperti Pintu Gapura, Pintu Krapyak, Pasujudan, Pintu Ratnakomala, Pintu Jinem, Pintu Rararog, Pintu Kaca, Pintu Bacem, dan terakhir Pintu Teratai. dalam Gedong Jinem, makam Sunan Gunung Jati berdampingan dengan para keluarganya. Terdapat ibunda Sunan Gunung Jati, Ratu Mas Rarasantang. Ada juga Pendiri Cirebon, Pangeran Cakrabuana. Selain itu ada istri Sunan Gunung Jati, Puteri Ong Tien Nio dan lain – lain.

Setelah menghaturkan doa, Keluarga Kesultanan Kanoman melakukan makan bersama. Lalu prosesi Grebek Syawal diakhiri oleh sawer, yakni prosesi pelemparan uang koin kepada peziarah. Uniknya, saat prosesi tersebut para peziarah berebutan untuk mendapatkan secercah uang koin.

Sosok Sunan Gunung Jati

Halaman:

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

Tags

Terkini

Pansos Demi Cuan?

Selasa, 28 September 2021 | 08:00 WIB

Selamatkan Remaja dari Perilaku Kejahatan Seksual

Senin, 27 September 2021 | 12:46 WIB

Pemerintah China Diuji Kasus Evergrande

Senin, 27 September 2021 | 08:00 WIB

Menyelesaikan Pandemi dengan Keimanan, Rasionalkah?

Jumat, 24 September 2021 | 22:58 WIB

Boring Daring, Saatnya Belajar Luring!

Jumat, 24 September 2021 | 19:56 WIB

Perlu Langkah Nyata Beradaptasi dengan Perubahan Iklim

Kamis, 23 September 2021 | 22:23 WIB

Alasan Wajib Bangga Menjadi Orang Bandung

Kamis, 23 September 2021 | 18:27 WIB

Buruk Pengelolaan Lapas di Indonesia

Kamis, 23 September 2021 | 17:28 WIB

Meragukan Keampuhan Strategi Joe Biden

Kamis, 23 September 2021 | 16:47 WIB

Optimistis Menghadapi Pembelajaran Tatap Muka

Rabu, 22 September 2021 | 23:36 WIB

Oase Perdamaian

Rabu, 22 September 2021 | 22:00 WIB

OSVIA, Klub Sepak Bola Pribumi Pertama di Bandung

Rabu, 22 September 2021 | 16:51 WIB

Emas Hijau yang Perlu Kita Rawat dan Lestarikan

Selasa, 21 September 2021 | 23:30 WIB

JANGAN CABULI KAMI!

Selasa, 21 September 2021 | 22:30 WIB

Mesin Waktu dan Media Sosial

Selasa, 21 September 2021 | 21:52 WIB
X