Sebelum Buka Sekolah, Selesaikan Dulu PR-nya!

- Jumat, 29 Mei 2020 | 14:09 WIB
Ilustrasi siswa sekolah dasar yang tengah beraktivitas di sekolah. (Dayinta Pinasthika, IOM 2018)
Ilustrasi siswa sekolah dasar yang tengah beraktivitas di sekolah. (Dayinta Pinasthika, IOM 2018)

Negara lain juga menanggapi kembali sekolah dengan berbagai cara. Misalnya negara tetangga Filipina melalui Presiden Rodrigo Duterte mengatakan tidak akan mengizinkan para siswa kembali ke sekolah hingga vaksin penyakit virus href="https://www.ayobandung.com/tag/corona">corona ditemukan.

Sementara itu, Korea Selatan memutuskan untuk membuka kembali aktivitas di sekolah setelah pandemi di negaranya berangsur-angsur mereda. Sejumlah sekitar 2 juta siswa pun diwajibkan untuk menggunakan protokol kesehatan ketat guna mencegah kasus baru. Protokol tersebut antara lain pemeriksaan suhu dan pemberian hand sanitizer bagi siswa yang ingin masuk, penerapan salam siku, dan tentunya physical distancing.

 

xss=removed>AYO BACA: 7 Situs Resmi untuk Pantau Perkembangan Virus Corona di Indonesia

xss=removed>AYO BACA: Bagaimana Corona Covid-19 Menyebar, Benarkah Melalui Jaringan 5G?

xss=removed>AYO BACA: xss=removed> Jahe dan Kunyit, Mana yang Lebih Berkhasiat?

Meskipun angka kasus merosot tajam, dibukanya sekolah dengan serangkaian protokol ketat tidak bisa benar-benar menghentikan laju penularan, setidaknya di Korea. Hal ini disebabkan adanya kasus penularan oleh guru di sebuah TK di kota Seoul. Murid yang tertular berusia enam tahun dan sang guru sebelumnya sempat mengajar sebanyak 35 murid dan berinteraksi dengan tiga guru lainnya.

Membuka sekolah dengan segala aktivitasnya merupakan sebuah tindakan penuh risiko. Di tengah kondisi belum meredanya penyebaran virus di sejumlah daerah, pemerintah seharusnya bisa lebih fokus untuk menurunkan jumlah dengan memperketat banyak aturan. Salah satunya PSBB dan physical distancing yang seringkali dilanggar hingga berujung ke-viral-an di media sosial.

Selain itu, penting bagi pemerintah untuk menerapkan tes polymerase chain reaction (PCR), tracing, dan random test sebanyak mungkin untuk mendeteksi kasus-kasus yang ada di masyarakat. Selagi pemerintah dalam hal ini rumah sakit dan laboratorium menunggu pasien, juga harus giat mencari pasien guna mencegah penularan yang lebih besar lagi.

Padahal, per 26 Mei, menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa, Indonesia baru mengetes 940 per satu juta orang. Angka tersebut masih jauh di bawah negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Halaman:

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

Tags

Terkini

Diversifikasi Prestasi Olahraga Nasional

Minggu, 28 November 2021 | 08:30 WIB

Demam Belanja Online Berkedok Self Healing

Selasa, 23 November 2021 | 17:18 WIB

Pemimpin Masa Depan Bicara di Forum Dialog IISS

Selasa, 23 November 2021 | 08:56 WIB

Villa Isola: Venesia Kecil di Bandung Utara

Senin, 22 November 2021 | 16:59 WIB

Joki Tugas, Rahasia Umum di Masyarakat

Minggu, 21 November 2021 | 19:19 WIB

Mendidik dengan Sepenuh Hati

Minggu, 21 November 2021 | 16:24 WIB

Risalah Untuk Calon Suamiku

Minggu, 21 November 2021 | 12:42 WIB

Pahlawan Big Data di Tengah Pandemi

Jumat, 19 November 2021 | 21:55 WIB

Proses Terbentuknya Karanghawu

Jumat, 19 November 2021 | 15:37 WIB
X