Sebelum Buka Sekolah, Selesaikan Dulu PR-nya!

- Jumat, 29 Mei 2020 | 14:09 WIB
Ilustrasi siswa sekolah dasar yang tengah beraktivitas di sekolah. (Dayinta Pinasthika, IOM 2018)
Ilustrasi siswa sekolah dasar yang tengah beraktivitas di sekolah. (Dayinta Pinasthika, IOM 2018)

Kini masyarakat tengah dibingungkan dengan kepastian dibukanya aktivitas belajar mengajar di sekolah. Menteri Dikbud Nadiem Makarim dikutip dari detik.com menyatakan sudah menyiapkan banyak skema, hanya saja menunggu keputusan dari beberapa pihak terutama Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 untuk mengetahui keamanan situasi.

xss=removed>AYO BACA: Lebih Baik Mana, Cuci Tangan dengan Air atau Hand Sanitizer?

xss=removed>AYO BACA: Berkumur dengan Air Garam dan Cuka Bisa Bunuh Corona Covid-19?

xss=removed>AYO BACA: Ini Saran Dokter Jika Ada Tamu Saat Pandemi Corona Covid-19

"Kami tidak pernah mengeluarkan pernyataan kepastian, karena memang keputusannya bukan di kami. Jadi mohon stakeholders atau media yang menyebut itu, itu tidak benar," ucap Nadiem.

Pernyataan menteri merupakan respons dari maraknya rumor tengan dibukanya aktivitas sekolah. Termasuk kajian awal dibuat oleh Kementerian Koordinator Perekonomian yang menyebutkan sekolah akan kembali beraktivitas pada 15 Juni dengan sistem shift dan modifikasi materi.

Tampaknya wacana kembali dibukanya sekolah mendapat respons yang kurang baik dari beberapa pihak. Salah satunya Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang khawatir apabila sekolah dibuka maka berpotensi menimbulkan banyak klaster-klaster baru. 

Melalui Komisioner Bidang Pendidikan Retno Listyarti lembaganya telah melakukan riset, meskipun kecil-kecilan dengan melalui komentar unggahan di Facebook, 71% dari 87 responden menyatakan tidak setuju perihal wacana pembukaan sekolah.

"KPAI mendorong Kemendikbud dan Kemenag (Kementrian Agama) RI belajar dari negara lain yang sudah mulai turun kasusnya, bahkan zero kasus, kemudian membuka sekolah dengan menerapkan protokol kesehatan. Namun ternyata ditemukan kasus baru karena siswa dan guru terular COVID-19. Sekolah malah jadi klaster baru," ungkap Retno.

Ungkapan tersebut juga ada benarnya mengingat penambahan kasus di Indonesia yang terus-menerus terjadi secara fluktuatif, belum lagi oleh aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang seringkali dilanggar masyarakat. Yang lebih mencengangkan lagi tentu jumlah tes yang minim dan kenyataan bahwa pemerintah belum memiliki kurva epidemiologis COVID-19.

Halaman:

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

Tags

Terkini

Lezatnya Nasi Ayam, Nasi Liwet Wong Semarang

Jumat, 3 Desember 2021 | 16:09 WIB

Menguak Problem Mendasar Upah Buruh dan Solusinya

Rabu, 1 Desember 2021 | 14:18 WIB

Kisah Barsisha dan Ajaran Berharga tentang Aib Manusia

Senin, 29 November 2021 | 16:55 WIB

Peluang Iran untuk Sedikit Bernapas

Senin, 29 November 2021 | 15:17 WIB

Diversifikasi Prestasi Olahraga Nasional

Minggu, 28 November 2021 | 08:30 WIB
X