Sampar di Cicalengka, 1932-1935

- Senin, 4 Mei 2020 | 09:03 WIB
Pangbarakan berada di jalur ke arah Curug Sindulang. (Sumber: Mooi Bandoeng, April 1934)
Pangbarakan berada di jalur ke arah Curug Sindulang. (Sumber: Mooi Bandoeng, April 1934)

AYOBANDUNG.COM -- Meski tidak dilahirkan di href="https://www.ayobandung.com/tag/Cicalengka">Cicalengka, di timur Bandung Raya, tapi hubungan saya dengan kota kecamatan ini terbilang terjalin sejak lama. Terutama sejak di SMP dan SMA, saya kian mengenal daerah yang pernah menjadi tempat tinggal masa kecil sastrawan E. Du Perron, Raden Dewi Sartika, Ir. H. Djuanda, Umar Wirahadikusumah, dan lain-lain itu.

Salah satu tempat yang terus membekas dalam benak saya hingga sekarang adalah Kampung Pangbarakan, Desa Babakan Peuteuy. Kampung ini terletak di pinggir jalan arah ke Curug Sindulang dan selalu saya lewati bila hendak pergi ke SMAN href="https://www.ayobandung.com/tag/Cicalengka">Cicalengka. Nama Pangbarakan mengingatkan saya pada kata “barak” yang mengandung arti “sebuah atau sekumpulan gedung tempat tentara; asrama polisi (tentara); bangsal khusus tempat merawat orang sakit (menular); bangunan yg bersifat sementara bagi pekerja” (Kamus Bahasa Indonesia, 2008). Karena mendapatkan awalan pang- dan akhiran -an, Pangbarakan yang berasal dari bahasa Sunda itu berarti tempat membarak. Membarak menurut kamus di atas berarti “memasukkan (menempatkan) dl barak (terutama tt orang yg menderita href="https://www.ayobandung.com/tag/ penyakit menular"> penyakit menular)”.

Pangbarakan berada di jalur ke arah Curug Sindulang. (Sumber: Mooi Bandoeng, April 1934)

Bila demikian, Pangbarakan itu berkaitan dengan href="https://www.ayobandung.com/tag/ penyakit menular"> penyakit menular di daerah tersebut. Bila menengok sejarah, penyakit menular yang pernah menjangkit di href="https://www.ayobandung.com/tag/Cicalengka">Cicalengka adalah href="https://www.ayobandung.com/tag/ sampar"> sampar pada tahun 1930-an. Karena penasaran, saya berusaha mencari keterangan wabah href="https://www.ayobandung.com/tag/ sampar"> sampar di href="https://www.ayobandung.com/tag/Cicalengka">Cicalengka itu. Dengan membuka koran berbahasa Belanda dan Sunda tahun 1932-1935, saya paling tidak mendapatkan gambaran bahwa href="https://www.ayobandung.com/tag/ penyakit menular"> penyakit menular itu mulai muncul di href="https://www.ayobandung.com/tag/Cicalengka">Cicalengka pada 1932 atau tiga tahun setelah muncul di Kota Bandung, yang berjarak sekitar 30 kilometer dari href="https://www.ayobandung.com/tag/Cicalengka">Cicalengka. Tulisan ini, lalu, saya batasi hingga mulai dilaksanakannya vaksinasi href="https://www.ayobandung.com/tag/ sampar"> sampar pada 1935.

Menurut hasil penelusuran itu, kasus pertama korban href="https://www.ayobandung.com/tag/ sampar"> sampar di href="https://www.ayobandung.com/tag/Cicalengka">Cicalengka ditemukan pada hari Sabtu, 19 Maret 1932. Keterangan ini, antara lain, dimuat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie dan De Koerier edisi 23 Maret 1932. Di situ disebutkan, “De Pest te Tjitjalengka. Te Tjitjalengka werd Zaterdag 1.1 een geval van bubonen-pest met doodelijken afloop geconstateerd bij een Chineeschen tokohouder. Dit is het eerste pestgeval in deze streek en plaats” (Sampar di href="https://www.ayobandung.com/tag/Cicalengka">Cicalengka. Di href="https://www.ayobandung.com/tag/Cicalengka">Cicalengka pada Sabtu lalu ditemukan kasus href="https://www.ayobandung.com/tag/ sampar"> sampar yang mengakibatkan kematian pada seorang Tionghoa pemilik toko. Ini merupakan kasus pertama href="https://www.ayobandung.com/tag/ sampar"> sampar di daerah dan tempat itu).

Kemudian, pada bulan-bulan selanjutnya korban href="https://www.ayobandung.com/tag/ sampar"> sampar di href="https://www.ayobandung.com/tag/Cicalengka">Cicalengka bertambah. Dalam laporan Dinas Kesehatan antara 8-14 Mei 1932 ada enam orang yang meninggal; 26 Juni-2 Juli seorang; 10-16 Juli, seorang; 17-23 Juli dua orang; 31 Juli-6 Agustus dua orang; 17-23 Juli tiga orang; 14-20 Agustus dua orang; 4-10 September tiga orang; 6-12 November ada 19 pribumi dan seorang Tionghoa; 27 November-3 Desember ada 15 orang; 11-17 Desember 1932, 12 orang; dan pada 30 Desember 1932 disebutkan ada 16 pribumi dan dua orang Tionghoa korban href="https://www.ayobandung.com/tag/ sampar"> sampar.

AYO BACA : Dokter Otten, dari Sepak Bola ke Wabah Sampar

Di antara orang Tionghoa yang meninggal, selain kasus pertama, adalah siswi Hoogere Burger School (HBS) di Bandung. Dalam berita Bataviaasch Nieuwsblad edisi 21 Oktober 1932 disebutkan: “Woensdag heft het AID gemeld, dat een Chineesch meisje uit Tjitjalengka, leerlinge der Hoogere Burger School te Bandoeng, aan builenpest zou zijn overladen”.

Halaman:

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

Tags

Terkini

‘Nyanyian’ Krisdayanti dan Gejala Alienasi

Kamis, 16 September 2021 | 22:42 WIB

Dermaga Cikaobandung di Tempuran Ci Kao dengan Ci Tarum

Kamis, 16 September 2021 | 16:51 WIB

Musim Hujan Segera Tiba, Jabar Rawan Longsor

Kamis, 16 September 2021 | 16:28 WIB

Berantas Aksi Jahat Pembajakan Buku!

Rabu, 15 September 2021 | 22:39 WIB

Lebih Baik Diam Daripada Body Shaming

Selasa, 14 September 2021 | 23:14 WIB

Desain Besar Pembangunan Nasional itu Bernama Fair Play

Selasa, 14 September 2021 | 22:56 WIB

Jangan Meremehkan Profesi Pembantu!

Senin, 13 September 2021 | 22:30 WIB

Mewujudkan Pemuda Penerus Peradaban Mulia

Senin, 13 September 2021 | 19:22 WIB

Muadzin Menangis akibat Covid-19

Minggu, 12 September 2021 | 08:30 WIB

Menduga Letak Benteng Tanjungpura di Karawang

Minggu, 12 September 2021 | 08:00 WIB

Jual Beli Jabatan Menjerat Walikota Tanjungbalai

Jumat, 10 September 2021 | 16:42 WIB

Jangan Membandingkan Manusia dengan Binatang!

Kamis, 9 September 2021 | 23:02 WIB

Vigilantisme Media Sosial

Rabu, 8 September 2021 | 11:58 WIB

Memahami Pemilihan Perdana Menteri Jepang

Senin, 6 September 2021 | 22:28 WIB
X