Parenting di tengah Social Distancing

- Sabtu, 11 April 2020 | 07:56 WIB
Tugas yang sedang dikerjakan seorang anak yang diberikan oleh gurunya. Kegiatan ini berlangsung di rumah karena sekolahnya tengah menerapkan kebijakan social distancing. (Karina Rahma)
Tugas yang sedang dikerjakan seorang anak yang diberikan oleh gurunya. Kegiatan ini berlangsung di rumah karena sekolahnya tengah menerapkan kebijakan social distancing. (Karina Rahma)

Sudah seberapa baik saya mengenal anak saya?

AYOBANDUNG.COM -- “Ade, ayo bangun! Ini bu guru udah ngirim tugasnya. Jangan telat ngumpulin lagi kayak kemarin,” ucap seorang ibu sembari mengguncangkan tubuh putri kecilnya dengan lembut.

Cahaya mentari menembus celah-celah gorden, dengan biasnya menerangi kamar. Hari masih pagi, suasana yang hangat sangatlah mendukung untuk bermalas-malasan. Hal itulah yang dirasakan seorang murid taman kanak-kanak yang masih menjadi kepompong di dalam selimut kesayangannya.

Sebenarnya, hari ini sudah satu bulan dia belajar di rumah karena sekolahnya tengah menerapkan kebijakan social distancing. Apalagi kalau bukan untuk mencegah penyebaran Covid-19 yang kian menjamur. Sulit baginya untuk bangun dari tempat tidur, tak lain dan tak bukan karena dia salah menginterpretasikan kegiatan belajar di rumah ini menjadi ‘libur’.

Malam-malam sebelumnya dia selalu begadang, menonton film-film fiksi di televisi yang tak dia mengerti alurnya. Terkadang, dia sering berpura-pura tidur agar tak diomeli ibunya, ketika ibunya pergi dia kembali menonton televisi. Imbasnya, dia jadi kesulitan bangun pagi padahal tugas-tugas sekolahnya telah menanti.

Butuh waktu sekitar 30 menit hanya untuk mengajak anak itu meninggalkan singgasananya. Itupun mesti dibujuk terlebih dahulu. Apabila dia tak terlambat mengumpulkan tugasnya, maka dia akan dibuatkan puding cokelat kesukaannya. Bujukan itu bagaikan sebuah suntikan semangat bagi anak usia enam tahun tersebut. Dia langsung melesat ke kamar mandi untuk mencuci muka lalu mengambil lembar kegiatan sekolah (LKS) yang berisikan tugasnya.

Belakangan ini, dia kerap marah-marah tanpa sebab yang jelas. Usut punya usut, ternyata dia rindu dengan teman-teman sekolahnya yang selama beberapa pekan ini tak berjumpa dengannya. Hal ini cukup diwajarkan oleh Cici Ratnasari, orang tuanya. Baginya, anak mungkin memang belum beradaptasi dengan keadaan yang terbilang mendadak ini. Apalagi, dia baru saja masuk sekolah beberapa pekan setelah libur tahun baru yang cukup panjang. Maka wajar saja apabila dia rindu dengan teman-temannya.

Bagi orang tua, memberikan perhatian dan pengertian juga membekali diri dengan kesabaran merupakan salah satu kunci yang penting dalam masa parenting pada saat social distancing seperti ini.

“Ya, intinya harus sabar sih, karena jujur bagi saya kadang suka bikin jengkel. Terus kan baru masuk sekolah tiba-tiba harus ‘libur’ lagi. Awalnya si ade seneng tapi lama-lama suka murung gitu, taunya dia kangen sama temen-temennya. Terus katanya tugas-tugas yang dikerjakan di rumah enggak seasyik tugas-tugas yang dikerjakan di sekolah. Ya, mau bagaimana lagi kalo keadannya harus gini,” kata Cici.

Halaman:

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

Tags

Terkini

Menguak Problem Mendasar Upah Buruh dan Solusinya

Rabu, 1 Desember 2021 | 14:18 WIB

Kisah Barsisha dan Ajaran Berharga tentang Aib Manusia

Senin, 29 November 2021 | 16:55 WIB

Peluang Iran untuk Sedikit Bernapas

Senin, 29 November 2021 | 15:17 WIB

Diversifikasi Prestasi Olahraga Nasional

Minggu, 28 November 2021 | 08:30 WIB

Demam Belanja Online Berkedok Self Healing

Selasa, 23 November 2021 | 17:18 WIB

Pemimpin Masa Depan Bicara di Forum Dialog IISS

Selasa, 23 November 2021 | 08:56 WIB

Villa Isola: Venesia Kecil di Bandung Utara

Senin, 22 November 2021 | 16:59 WIB
X