Penghulu Garut Tertular Sampar 1935

- Kamis, 26 Maret 2020 | 13:03 WIB
Sketsa Raden Hadji Mohamad Soedjai. (Sumber: De Preanger-Bode edisi 24 April 1910)
Sketsa Raden Hadji Mohamad Soedjai. (Sumber: De Preanger-Bode edisi 24 April 1910)

AYOBANDUNG.COM -- “Saya mengalami demam malaria, dibarengi sakit kepala yang berat dan batuk tak putus-putus. Jadinya sangat menderita. Sudah pernah dicoba pelbagai cara, tapi tidak berhasil hingga saya memutuskan minum Abdijsiroop, Klooster Sancta Paulo. Gembira sekali mengabarkan kepada Anda bahwa saya menjadi lebih baik setelah meminum beberapa botol sirup tersebut. Bisa disebut Abdijsiroop adalah obat efektif yang dapat saya sarankan. Silakan gunakan hak tulisan, termasuk potret saya ini.”

Kira-kira begitulah terjemahan pernyataan Raden Hadji Mohamad Soedjai, dalam iklan pada koran Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie (16 April 1910) dan De Preanger-Bode (24 April 1910). Raden Hadji Mohamad Soedjai saat itu menjabat sebagai naib atau wakil href="https://www.ayobandung.com/tag/penghulu">penghulu yang tinggal di Kampung Tragang (Tarogong), Progang, kira-kira 5 pal atau 7,5 kilometer jauhnya dari Garut.

Iklan Abdijsiroop dan pernyataan sang naib terus bertahan, paling tidak hingga tahun 1914. Ini terbukti dari tayangan dalam De Preanger-bode (18 Januari 1914) dan Bataviaasch Nieuwsblad (6 Juni 1914), dengan pernyataan yang dipersingkat. Katanya, “Saya, Raden Hadji Mohamad Soedjai naib (Wakil Pangulu), di Kampung Tragang, sekitar 5 pal dari Garut. Saya dirundung sakit tak berkesudahan, terus terasa nyeri, tanpa ada yang bisa menolong. Akhirnya, memutuskan untuk menggunakan Abdijsiroop, dan segera merasa lebih baik. Beberapa botol Abdijsiroop menyembuhkan sakit saya”.

Baik dari iklan tahun 1910 maupun 1914, kita jadi tahu bahwa antara masa tersebut, Soedjai masih bekerja sebagai naib href="https://www.ayobandung.com/tag/penghulu">penghulu yang tinggal di Tarogong, Garut. Jabatan tersebut juga bertahan hingga 1920. Paling tidak, ini bisa dibuktikan berita dari De Preanger-Bode (2 November 1918), yang menerangkan bahwa ia sebagai naib di Tarogong menyewakan lahannya di Kampung Sindangheula, Desa Pasar, Distrik Garut, untuk studio (atelier) kepada B. J. van der Willigen.

Adapun keterangan dari tahun 1920 dapat dibaca dalam konteks perlawanan Haji Hasan Arif, dkk., dalam Peristiwa Cimareme (Garoet zaak atau Garoet drama) tahun 1919. Dalam peristiwa tersebut, karena pihak kepenghuluan (pakauman) terlibat sebagai pengadilan, yang saat itu href="https://www.ayobandung.com/tag/penghulu">penghulu kepala Garut dijabat Raden Mohamad Tabri, Soedjai juga ikut terlibat. Dalam pengadilan salah satu tokoh yang terlibat di Cimareme, yakni Gadjali, Soedjai, yang masih menjabat sebagai naib Tarogong, hadir menjadi wakil dari adviseur atau penasihat urusan pribumi G.A. Hazeu yang berhalangan hadir karena sakit (De Preanger-Bode, 2 Maret 1920).

Tapi dia juga mungkin mewakili href="https://www.ayobandung.com/tag/penghulu">penghulu kepala Garut yang berhalangan hadir. Karena dalam berita Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie (4 Maret 1920) disebutkan bahwa karena href="https://www.ayobandung.com/tag/penghulu">penghulu kepala sakit, pengadilan ditangguhkan hingga hari Sabtu yang akan datang. Atau memang baik Hazeu maupun Tabri, sakit.

Setelah pengadilan tersebut, Soedjai dipromosikan sebagai wakil href="https://www.ayobandung.com/tag/penghulu">penghulu kepala Garut (De Nieuw benoemde adjunct-hoofdpanghoeloe bij den landraad) pada bulan Juli 1920. Dia diambil sumpah sebagai pejabat baru pada 16 Juli 1920 di Kaum Garut (De Preanger Bode, 17 Juli 1920). Tiga tahun kemudian, nama Raden Hadji Mohamad Soedjai muncul lagi dalam promosi jabatan wakil href="https://www.ayobandung.com/tag/penghulu">penghulu kepala di Bandung (De Indische Courant, 27 Juni 1923). Apakah dia orang yang sama dengan wakil href="https://www.ayobandung.com/tag/penghulu">penghulu kepala Garut? Bisa jadi orang yang sama atau bisa juga karena namanya sama.

Yang jelas kemudian, pada 1930-an, Soedjai diangkat sebagai href="https://www.ayobandung.com/tag/penghulu">penghulu kepala Garut. Peristiwa menyolok yang berkaitan dengan dirinya adalah ihwal kematiannya. Ia meninggal karena tertulari wabah href="https://www.ayobandung.com/tag/-sampar"> sampar yang sedang menerjang wilayah Garut, dan umumnya Pulau Jawa, pada tahun 1935. Berita kematiannya secara serentak diberitakan dalam media-media berbahasa Belanda pada 31 Januari 1935, antara lain, oleh De Sumatra post, Soerabaijasch handelsblad, De Indische courant, dan Bataviaasch nieuwsblad. Sumber berita ringkas dalam keempat koran tersebut adalah AID Preanger-Bode, yang terbit di Bandung.

Halaman:

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

Tags

Terkini

Peran Guru Mewujudkan Sumedang Simpati

Rabu, 18 Mei 2022 | 14:40 WIB

Mengelola Nilai Kebijaksanaan

Senin, 16 Mei 2022 | 19:37 WIB

Juara Liga 1 Musim Ini Harga Mati untuk Persib!

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:08 WIB

China Belajar dari Perang di Ukraina

Selasa, 10 Mei 2022 | 09:31 WIB

Misteri Uga Bandung dan Banjir Dayeuh Kolot

Senin, 9 Mei 2022 | 12:02 WIB

Penduduk Cicalengka Tahun 1845 dan 1867

Jumat, 6 Mei 2022 | 19:10 WIB
X