Haruskah Melokalisasi Bahasa Merek Dagang Indonesia?

- Kamis, 31 Oktober 2019 | 08:33 WIB
Ilustrasi dagangan dengan merek menggunakan bahasa Indonesia. (Pixabay)
Ilustrasi dagangan dengan merek menggunakan bahasa Indonesia. (Pixabay)

Arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang pesat membuat akses terhadap informasi dan hal-hal baru semakin mudah dilakukan masyarakat. Masyarakat kini bebas mengakses informasi apapun yang diinginkannya. Hal ini  membuat berbagai informasi pun mulai diadopsi masyarakat dan perlahan-lahan masuk dalam sendi-sendi kehidupannya. Bentuk informasi itu pun macam-macam, salah satunya pengaksesan dan pengadopsian bahasa asing dalam kehidupan sehari-hari.

Bukan hal baru lagi bila masyarakat href="https://www.ayobandung.com/tag/-Indonesia"> Indonesia masa kini sudah banyak yang lebih memilih menggunakan bahasa asing daripada bahasa sendiri dalam kesehariannya.

Berbagai fenomena pun kini dapat kita lihat, ketika kini masyarakat dari berbagai kalangan cenderung lebih sering berbicara menggunakan kata-kata asing daripada bahasa href="https://www.ayobandung.com/tag/-Indonesia"> Indonesia.

Sebagai contohnya, kini sudah semakin marak kasus anak href="https://www.ayobandung.com/tag/-Indonesia"> Indonesia yang bahkan tak bisa atau tak fasih berbicara bahasa href="https://www.ayobandung.com/tag/-Indonesia"> Indonesia karena sejak kecil sudah dilatih berbicara href="https://www.ayobandung.com/tag/-Bahasa"> Bahasa Inggris.

Dominasi penggunaan bahasa asing tersebut dilakukan karena adanya stigma yang menganggap bahasa asing khususnya bahasa Inggris lebih keren daripada bahasa href="https://www.ayobandung.com/tag/-Indonesia"> Indonesia.

Sifat  “keren” yang menempel pada bahasa asing ini pun kemudian melahirkan rasa kebangaan tersendiri bagi mereka yang lebih sering menggunakan bahasa asing tersebut. Padahal, bila ditelisik, Bahasa href="https://www.ayobandung.com/tag/-Indonesia"> Indonesia tidak kalah kerennya. Tak hanya memiliki lebih dari enam ribu kata serapan bahasa asing dan lebih dari tiga ribu serapan bahasa daerah, Bahasa href="https://www.ayobandung.com/tag/-Indonesia"> Indonesia juga sudah banyak dipelajari dan digunakan negara-negara lain.

Selain berbagai hal di atas, penggunaan bahasa asing juga sudah semakin mendominasi ha-hal yang berkaitan dengan tindak konsumerisme masyarakat.

Hari ini, dapat kita lihat semakin banyak munculnya produk-produk dengan merek dagang menggunakan bahasa asing—bahkan jika produk tersebut lokal sekalipun. Adapun hal ini menjadi hal yang dibahas dalam Peraturan Presiden (perpres) Nomor 63 Tahun 2019 tentang penggunaan href="https://www.ayobandung.com/tag/-Bahasa"> Bahasa Indonesia.

Dalam pasal 36 ayat 1 Perpres tersebut, “Bahasa href="https://www.ayobandung.com/tag/-Indonesia"> Indonesia wajib digunakan pada nama merek dagang yang berupa kata atau gabungan kata yang dimiliki warga negara href="https://www.ayobandung.com/tag/-Indonesia"> Indonesia atau badan hukum href="https://www.ayobandung.com/tag/-Indonesia"> Indonesia”.

Halaman:

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

Tags

Terkini

Kisah Barsisha dan Ajaran Berharga tentang Aib Manusia

Senin, 29 November 2021 | 16:55 WIB

Peluang Iran untuk Sedikit Bernapas

Senin, 29 November 2021 | 15:17 WIB

Diversifikasi Prestasi Olahraga Nasional

Minggu, 28 November 2021 | 08:30 WIB

Demam Belanja Online Berkedok Self Healing

Selasa, 23 November 2021 | 17:18 WIB

Pemimpin Masa Depan Bicara di Forum Dialog IISS

Selasa, 23 November 2021 | 08:56 WIB

Villa Isola: Venesia Kecil di Bandung Utara

Senin, 22 November 2021 | 16:59 WIB

Joki Tugas, Rahasia Umum di Masyarakat

Minggu, 21 November 2021 | 19:19 WIB

Mendidik dengan Sepenuh Hati

Minggu, 21 November 2021 | 16:24 WIB

Risalah Untuk Calon Suamiku

Minggu, 21 November 2021 | 12:42 WIB
X