Kebingungan vs Zona Nyaman Berbahasa

- Rabu, 30 Oktober 2019 | 23:04 WIB
Ilustrasi pembicaraan. (pixabay.com)
Ilustrasi pembicaraan. (pixabay.com)
<p> p><p>Saya terkekeh mengingat kejadian saat saya mengikuti kegiatan yang dilaksanakan gereja bersama temanteman saya tahun lalu. Saat itu, salah satu pembicara di seminar tersebut adalah seorang pendeta dari Kanada. Otomatis, Ia akan berbicara bahasa Inggris dan bakal ada penerjemah yang akan menemaninya nanti.p> <p>Di salah satu sesi, pendeta pun menyampaikan khotbahnya dan penerjemah pun mengartikannya ke dalam bahasa Indonesia. Tetapi, setelah sesi tersebut selesai beberapa teman saya pun mengeluh mengenai  sesi khotbah tersebut. Apa sih yang salah dari khotbah tersebut? Saya pribadi tidak merasa ada yang salah dengan isi khotbah tersebut.p> <p>Ternyata, yang dikeluhkan teman - teman saya ialah kehadiran si penerjemah. Saya sempat bingung, apa yang salah dari penerjemah tersebut? Sesuai dengan fungsinya, Ia hadir untuk menjermahkan perkataan pendeta ke bahasa Indonesia untuk mereka yang tidak fasih bahasa Inggris.p> <p>Mereka pun akhirnya memberi tahu saya bahwa mereka lebih nyaman mendengar khotbah tersebut dalam bahasa Inggris. Beberapa kata hasil terjemahan penerjemah dirasa membingungkan, baik dari diksi maupun susunan kalimatnya.p> <p>“Waktu itu, (pendeta) bilanglong story shortdiartiin sama translatornya jadicerita yang panjang dibuat singkat’. Kan aneh dong!” sebut Kezia, salah satu teman saya.p> <p>Saya pun tertawa mendengar hal itu, meskipun saya tidak mengingat persisnya bagaimana, tetapi sejujurnya saya juga merasa lebih nyaman mendengar khotbahnya dengan bahasa Inggris saja.p> <p>Tidak hanya karena pilihan katanya, ternyata teman saya yang lain, Nadya, merasa tidak nyaman karena perkataan yang diulang dua kali. Ia pun sampai teringat salah satu momen lucu saat khotbah tersebut.p> <p>“Waktu itu khotbahnya udah mau klimaks ya, terus pendetanya teriak. Eh, penerjemahnya malah ikut teriak,” sebutnya sambil tertawa.p> <p>Selain itu, ia pun juga merasakan bahwa ada beberapa kata yang jika diartikan ke bahasa Indonesia akan terkesan aneh. Hal ini pun senada seperti contoh yang disebutkan Kezia, dapat dikatakan kita tidak pernah mendengarlong story shortditerjemahkan menjadicerita yang panjang dibuat singkat’. Mungkin, kita akan lebih akrab dengan sebutansingkat cerita’.p> <p>Kejadian terjadi menjadi salah satu contoh pergeseran kebiasaan berbahasa saat ini, terutama di kalangan anak muda. Kita dapat menghubungkannya dengan fenomena bahasa anak Jaksel (Jakarta Selatan) yang sedang ramai beberapa waktu lalu. Disini, kita kerap menemui anak muda yang kerap kali mencampurkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Terlebih lagi, kita tahu bahwa terdapat anggapan bahwa dengan menggunakan bahasa Inggris, seseorang akan terkesan lebih keren dan berpendidikan.p> <p>Selain itu, kita juga melihat bahwa bahasa Inggris diperlukan di dunia pekerjaan, pendidikan, dan kehidupan sosial saat ini, seperti saat kita sedang mendaftar sebuah pekerjaan atau melanjutkan pendidikan yang ke tingkat yang lebih tinggi. Tidak hanya itu, kemampuan berbahasa asing pun biasanya juga menjadi poin lebih ketika kita mengikuti lomba atau kompetisi yang berorientasi internasional. Mau tak mau, kemampuan bahasa asing sudah menjadi tuntutan yang harus dipenuhi saat ini.p> <p>Salah satu pendukung kemampuan bahasa asing ialah konten media yang aktif dikonsumsi. Dengan kebiasaan membaca tulisan, mendengarkan lagu, atau menonton video berbahasa asing, kita akan terbiasa dengan bahasa tersebut. Sebagai contoh, saat seseorang terbiasa menonton video berbahasa Inggris di YouTube, ia bisa saja merasa tidak perlu lagi menggunakan terjemahan bahasa Indonesia karena sudah mengerti, lebih nyaman dan terbiasa mendengarkan katakata tanpa diterjemahkan.p> <p>Kita sering mendengar pernyataankita bisa karena biasa”, sama seperti kasus ini, kita bisa mendengar dan mengerti perkataan dalam bahasa Inggris tanpa terjemahan karena kita membiasakan diri untuk mengonsumsi konten berbahasa asing baik di media sosial. Kita dapat mengambil Bahasa Inggris sebagai contoh, kita bisa menemukan berbagai vlog di Youtube, fanfiction di aplikasi Tumblr atau Wattpad serta unggahan di Instagram dan Twitter yang menggunakan bahasa Inggris.p> <p>Media sosial sudah menjadi hal yang akrab bagi anak muda. Bagaimana tidak? Mulai dari pagi hingga malam hari, media sosial menjadi bagian penting bagi mereka. Tidak hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga sudah menjadi wadah mendapatkan informasi atau hanya sekadar menunjukkan eksistensinya. Dengan demikian, kontenkonten berbahasa asing, seperti Bahasa Inggris, sudah menjadimakanananak muda setiap harinya.p> <p>Tidak hanya media sosial, media massa umum yang dapat memberi pengaruh dari kebiasaan ini. Mengapa? Karena memang ada juga orangorang yang sering mengakses portal berita asing, terutama untuk beritaberita internasional.p> <p>Dengan intensitas penggunaan media sosial dan media massa yang tinggi, ditambah dengan konsumsi konten berbahasa asing yang intens, seseorang akan menjadi terbiasa dengan bahasa tersebut. Seperti dengan mereka yang biasa menggunakan bahasa Indonesia yang dicampur dengan bahasa Inggris alias bahasa campur sari , mereka pasti sudah terpapar kontenkonten berbahasa Inggris yang biasa mereka konsumsi dari media sosial atau media massa.p> <p>Saya tidak menyangkal bahwa ada yang berkata bahwa bahasa Indonesia itu sulit. Namun, yang menjadi pertanyaan, bahasa Indonesia sulit apakah karena bahasa Indonesia yang sulit atau akrab dengan ketidaktahuan kita akan bahasa kita sendiri? Memang, kita menemukan berbagai penelitian atau jurnal yang menyebutkan beberapa tantangan saat belajar bahasa Indonesia seperti  tantangan morfologi (pembentukan kata) atau sintaksis (pembuatan kalimat). Namun, bila kita kaitkan dengan pengetahuan kita akan kosakata bahasa Indonesia, kita harus berpikir kembali.p> <p>Sama dengan bahasa Inggris, kita pasti akan belajar dari kosakata yang sederhana dahulu, bahkan kita akan sering membuka kamus terjemahan saat mengonsumsi konten berbahasa Inggris. Seiring berjalannya waktu, kemampuan kita berbahasa Inggris pun akan meningkat. Secara tidak langsung, kita pun akan lebih nyaman menggunakan bahasa Inggris. Ibaratnya, mereka sudah berada di zona nyaman dengan bahasa Inggris.p> <p>Jika melihat kisah saya diawal tadi, beberapa teman saya memang bermasalah dengan pemilihan kata yang tidak biasa sehingga tidak nyaman dan terasa aneh. Mungkin, memang permasalahannya adalah kita yang masih kurang akrab bahasa kita sendiri. Sama saat kita mendengar kosakata dalam bahasa lain yang tidak biasa kita dengarkan, kita tidak akan mengerti atau merasa aneh.p> <p>Namun, bagaimana bila situasi tersebut kita bawa situasi tersebut terhadap kebiasaan menggunakan bahasa Indonesia? Kita dapat menerapkan sistem serupa terhadap bahasa Indonesia. Bila kita aktif belajar dan mengonsumsi bahasa Indonesia, secara perlahan kita pun akan meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia kita.p> <p>Jadi, mari kita samasama belajar lebih akrab dengan diri bahasa kita sendiri, bahasa Indonesia. Tidak susah kok, mari kita biasakan mengonsumsi konten berbahasa Indonesia! Kalau tidak mengerti, tenang saja, KBBI to the rescue! Selamat belajar!p> <p><strong>Elsa Virina<br /> Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpadstrong>p>

Halaman:

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

Tags

Terkini

Jangan Ngaku Bestie Kalau Masih Suka Nyinyir

Rabu, 26 Januari 2022 | 15:01 WIB

Berpikir Kritis Bisa Cegah Investasi Bodong

Selasa, 25 Januari 2022 | 14:52 WIB

Manfaat Perdagangan Ekspor untuk Perekonomian

Senin, 24 Januari 2022 | 15:07 WIB

Mempelajari Karakter Orang Melalui Kebiasaannya

Minggu, 23 Januari 2022 | 10:00 WIB

Geotrek, Belajar di Alam dengan Senang dan Nikmat

Jumat, 21 Januari 2022 | 08:25 WIB
X