Musim Piknik Tahun 1930-an

- Kamis, 3 Oktober 2019 | 13:45 WIB
Bakrie Soeraatmadja berfoto bersama para redaktur koran Pemandangan di persimpangan Bergtuin Tjipanas, dekat Istana Bogor. Sumber: Sipatahoenan, 16 Agustus 1934
Bakrie Soeraatmadja berfoto bersama para redaktur koran Pemandangan di persimpangan Bergtuin Tjipanas, dekat Istana Bogor. Sumber: Sipatahoenan, 16 Agustus 1934

Saya tidak menyangka, selain Bandoeng Vooruit yang didirikan pada 26 Februari 1925, pada tahun 1930-an terjadi “demam” piknik di Bandung. Saat itu tumbuh dan berkembang pelbagai klub atau komunitas jalan-jalan, bak cendawan di musim penghujan. Demam ini tidak hanya melanda orang Belanda atau Eropa lainnya, melainkan menyebar ke kalangan pribumi.

Oleh karena itu, kata-kata yang berkaitan dengan perjalanan sering mengemuka dalam berbagai potongan berita yang merekam kegiatan pesiar tersebut. Kata-kata itu antara lain “excursie”, “picnic”, “musim nyanyabaan”, “lalampahan”, “autobus”, “verzamelplaats”, “verzamelpunt”, dan lain-lain.

Padahal dasawarsa 1930-an adalah saat-saat krisis ekonomi yang melanda dunia, termasuk Hindia Belanda. Inilah Zaman Meleset atau malaise, saat merosotnya perekonomian dunia. Mala yang disebut “the great depression” itu terjadi karena ambruknya harga saham di Amerika Serikat sejak 24 Oktober 1929. Kejadiannya menyebabkan efek domino ke seluruh dunia, hingga 1933. Bahkan hingga 1939, seperti yang terbaca dari judul buku Charles R. Morris, A Rabble of Dead Money: The Great Crash and the Global Depression: 1929-1939 (2017).

Resesi dunia ini juga dialami di Bandung, sekian ribu kilometer dari Amerika. Akibatnya pengangguran di sana-sini dan berdiri pelbagai lembaga penolong pengangguran. Oleh karena itu, musim piknik di Bandung itu rasa-rasanya seperti anomali. Namun, bila melihat waktu mulai jadi demamnya tahun 1934, saya jadi mengira, tren wisata itu dipicu oleh karena situasi ekonominya sudah normal kembali. Mengingat batas resesi ekonomi dunia itu berakhir pada 1933.

Penelusuran mengenai musim piknik itu memang menarik. Dengan menggunakan pustaka Belanda dan Sunda, saya mendapatkan banyak nama klub atau organisasi pesiar ke luar kota Bandung.  Pertama-tama, saya ingin membahas klub piknik yang namanya mirip, yaitu Bandoengsche Excursie-Vereeniging (BEV) dan Bandoengsche Excursie Comite (BEC). Bedanya hanya ujungnya saja. Juga waktu kemunculannya, BEV mulai terekam kegiatannya sejak 1933, sementara BEC pada 1934.

Selain BEV dan BEC, selanjutnya, saya akan merunut, secara kronologis, beberapa komunitas pelesiran yang berhasil saya gali dari kliping koran Sunda Sipatahoenan, antara 1934 hingga 1935.

Bandoengsche Excursie-Vereeniging

Keterangan mengenai BEV, terutama, saya dapatkan dari koran berbahasa Belanda Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indies sepanjang tahun 1933 hingga 1937. Kegiatan klub ini biasanya diumumkan pada kolom “Vermakelijkheden”. Di situ biasanya ditampilkan jadwal serta tujuan pelesiran, serta titik kumpulnya. Perjalanannya biasanya dilakukan pada akhir pekan, biasanya Minggu, di awal atau pertengahan bulan. Namun, sebegitu jauh saya telusuri, penjelasan kapan organisasi tersebut didirikan serta para pengelolanya, tidak saya temukan.

Bila ditelusuri dari temuan paling lama, edisi 15 Juli 1933 mengabarkan bahwa BEV menyelenggarakan perjalanan ke Paseh, Leles, Garut, pada 16 Juli 1933 ("16 Juli: Bandoengsche Excursie Vereeniging tocht van Paseh naar Leles"). Pada edisi 28 Juli 1933 pada ruang "Uit Bandoeng" dikatakan bahwa BEV akan menyelenggarakan perjalanan ke gua-gua di Gunung Pawon, Padalarang, pada 30 Juli 1933.


Programma ekskursi Bandoengsche Excursie-Vereeniging. Sumber: Mooi Bandoeng No. 12, Desember 1939

Selanjutnya, pada edisi 12 Agustus 1933, ada keterangan BEV akan menyelenggarakan perjalanan ke Curug Citarik pada 13 Agustus 1933, dengan waktu keberangkatan pukul 06.00. Sebulan kemudian, BEV mengadakan kegiatan jalan-jalan malam ke Kawah Tangkuban Parahu pada 2 September 1933 (edisi 1 September 1933). Selanjutnya, dalam edisi 27 Oktober 1933, jadwal perjalanan BEV adalah ke Telaga Patengan pada 29 Oktober 1933, dengan titik kumpul di Kantor Pos, pada pukul 05.30-06.00 ("29 Oct: Bandoengsche Excursie-Vereeniging tocht naar Telaga Patengan, verzamelplaats voor het Postkantoor 5.30-6 v.m.").

Menginjak 1934, menurut Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie edisi 27 Januari 1934, BEV mengadakan perjalanan ke Cijambu. Waktu keberangkatnya pukul 06.30, titik kumpulnya di terminal mobil di Jalan Riau, sudut Jalan Raya Pos. Lalu pelesiran ke Sindangwangi, Sumedang pada 11 Maret (edisi 8 Maret 1934).

AYO BACA : Bandung Baheula: Secuil Sejarah Jalan Asia Afrika dan Gedung Merdeka

Tahun 1935, menurut kabar dalam edisi 17 Oktober 1935, BEV mengadakan perjalanan ke Cijambu, Tanjungsari, Sumedang, pada hari Minggu. Selanjutnya, komunitas tersebut pesiar ke Curug Citiis, Cipanas, dilanjutkan ke Situ Bagendit dan Leles    (edisi 7 November 1935). Pada edisi 7 Desember 1935, ada kabar BEV menyelenggarakan ekskursi ke Stasiun Radio Malabar. Berangkat dari Kantor Pos Pusat pada pukul 06.00 dan akan kembali pukul 14.00.

Halaman:

Editor: Rizma Riyandi

Tags

Terkini

Los Blancos Lolos ke Final Piala Dunia Antar Klub

Kamis, 9 Februari 2023 | 16:46 WIB

Leeds United Kejutkan Manchester United di Kandangnya

Kamis, 9 Februari 2023 | 10:19 WIB

Manchester City Terancam Dapat Sanksi Berat dari FA

Rabu, 8 Februari 2023 | 16:03 WIB

Budaya Kekerasan

Selasa, 7 Februari 2023 | 12:17 WIB

Lato Lato dan Politik

Senin, 6 Februari 2023 | 12:35 WIB

Babah Liem Siang alias Munada

Senin, 6 Februari 2023 | 10:44 WIB

Efek Kecanduan Game Online

Selasa, 31 Januari 2023 | 15:06 WIB

Jejak Pelaut Belanda dan Inggris di Benua Australia

Senin, 30 Januari 2023 | 10:36 WIB

Warga Kampung Naga Harmoni di Keluk Ci Wulan

Sabtu, 28 Januari 2023 | 14:20 WIB

Mewaspadai Konflik Terbuka di Asia Pasifik

Rabu, 25 Januari 2023 | 13:55 WIB
X