Pengalaman Terbang dan Mendarat di BIJB Kertajati

- Rabu, 28 Agustus 2019 | 12:26 WIB
Suasana lengang di salah satu sudut Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati pada 5 Juli 2019 lalu. Dengan luasnya bandara dan minimnya penerbangan, BIJB Kertajati terasa sepi, mubah, dan banyak menyisakan sudut kosong. (Iswan Budhi Mulyanto)
Suasana lengang di salah satu sudut Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati pada 5 Juli 2019 lalu. Dengan luasnya bandara dan minimnya penerbangan, BIJB Kertajati terasa sepi, mubah, dan banyak menyisakan sudut kosong. (Iswan Budhi Mulyanto)

Saat tahu penerbangan Denpasar-Bandung kami dialihkan, dari semula akan mendarat di Bandara Husein Sastranegara di Bandung ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka, ada perasaan senang sekaligus kecewa. Senang karena akan bertambah lagi satu bandara baru dalam katalog perjalanan saya. Kecewanya karena ini bukan momen traveling, tapi mudik yang tertunda, melepas rindu yang sedikit tertahan.

Setiap kali sekeluarga mudik ke Bandung, kami selalu mendarat di Bandara Husein Sastranegara. Biasanya, begitu keluar pintu bandara, kami langsung disambut anggota keluarga. Sensasi berbeda terjadi saat pertama kali turun di BIJB Kertajati pada 5 Juli 2019 lalu. Kami baru bisa bertemu dengan keluarga setelah melakukan perjalanan ekstra 3 jam naik bus.

Saya sudah mendarat di lebih dari 20 bandara di Indonesia mulai dari Papua hingga daratan Sumatra, seperti Sentani, Sorong, Wamena, Ambon, Ternate, Manado, Makassar, Kupang, Tambolaka Sumba, Maumere, Ende, Labuan Bajo, Lombok Praya, Ngurahrai, Balikpapan, Pangkalan Bun, Surabaya, Semarang, Yogya, Bandung, Soekarno-Hatta, dan Minangkabau.

Kesimpulan sementara dari pengalaman sebanyak itu, bandara yang lokasinya terjauh dari kota besar adalah Bandara Kualanamu di Medan. Kesimpulan itu berubah setelah saya mendarat di BIJB Kertajati. Rasanya, jarak BIJB Kertajati ke Kota Bandung dua kali lipat jarak dari Kualanamu ke Kota Medan. Kalau saya baca, jarak bandara baru Kulonprogo ke Yogyakarta pun ternyata tidak setengahnya jarak BIJB Kertajati ke Kota Bandung.

Okelah itu tadi jarak. Sekarang bicara fisik bandara. Megah dan modern layaknya bandara-bandara baru. Dekorasi dan hiasan di dalamnya juga cantik yang konon terinspirasi burung merak. Bandaranya juga bersih, bersih sampai ke toilet-toiletnya.

AYO BACA : Ingin Jadi Fotografer Travel? Ini Saran dari Pakarnya

Kebetulan di BIJB Kertajati ini adalah pertama kalinya saya bab di bandara. Jadi, saya lebih bisa memperhatikan sudut-sudutnya. Soal bab ini perlu jadi pertimbangan calon penumpang lain. Ingat, perjalanan ke Bandung lewat tol sekitar 3 jam 25 menit. Kalau ada yang mengganjal di perut, sebaiknya tuntaskan dulu di bandara.

Oh iya, beberapa sudut bagian luar bandara belum selesai. Saran saya, gerbang masuk dibuat megah dengan ciri bangunan khas Jawa Barat.

Saat saya datang, petugas pengecek tiket di depan tidak terlihat, entah sedang pergi atau memang tidak ada. Akibatnya, pengantar bisa ikut masuk sampai lokasi antrean konter check in tiket. Di bandara juga terdapat kandang merak yang sudah terisi merak di dalamnya. Padahal waktu itu penataan kandangnya saja belum selesai.

Halaman:

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

Tags

Terkini

Lezatnya Nasi Ayam, Nasi Liwet Wong Semarang

Jumat, 3 Desember 2021 | 16:09 WIB

Menguak Problem Mendasar Upah Buruh dan Solusinya

Rabu, 1 Desember 2021 | 14:18 WIB

Kisah Barsisha dan Ajaran Berharga tentang Aib Manusia

Senin, 29 November 2021 | 16:55 WIB

Peluang Iran untuk Sedikit Bernapas

Senin, 29 November 2021 | 15:17 WIB

Diversifikasi Prestasi Olahraga Nasional

Minggu, 28 November 2021 | 08:30 WIB
X