Menunggu Sungai Citarum Menjadi Harum

- Minggu, 14 Oktober 2018 | 09:07 WIB
Satgas Citarum membersihkan Sungai Citarum beberapa waktu lalu.(Reival Akbar)
Satgas Citarum membersihkan Sungai Citarum beberapa waktu lalu.(Reival Akbar)

Sungai Citarum merupakan sungai terpanjang di Provinsi Jawa Barat membentang dari Gunung Wayang Kabupaten Bandung kurang lebih 270 km dan berhilir di pantai utara Jawa tepatnya di daerah Ujung Karawang.

Sungai Citarum merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah mulai dari Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Galuh, Kerajaan Padjajaran sampai Kerajaan Sunda, dan menjadi saksi peradaban manusia di Jawa Barat.

Catatan sejarah menunjukkan Citarum mengalami sejarah yang tak kalah panjang dan berliku. Kata Citarum berasal dari dua kata yaitu Ci dan Tarum. Ci atau dalam Bahasa Sunda Cai, artinya air. Sedangkan Tarum, merupakan sejenis tanaman yang menghasilkan warna ungu atau nila.

Pada abad ke-5, berawal hanya dari sebuah dusun kecil yang dibangun di tepi Sungai Citarum oleh Jayasinghawarman, lambat laun daerah ini berkembang menjadi sebuah kerajaan besar, yaitu Kerajaan Tarumanegara, kerajaan Hindu tertua di Jawa Barat.

Dahulu kala, Citarum menjadi batas wilayah antara dua kerajaan yaitu Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda (pergantian nama dari Kerajaan Tarumanegara pada tahun 670 Masehi). Fungsi Citarum sebagai batas administrasi ini terulang lagi pada sekitar abad 15, yaitu sebagai batas antara Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten.

Dari Dulu hingga Kini Banjir

Citarum yang mengaliri 12 wilayah administrasi kabupaten/kota. Citarum menyuplai air untuk kebutuhan penghidupan 28 Juta masyarakat, Sungai yang merupakan sumber air minum untuk masyarakat di Jakarta, Bekasi, Karawang, Purwakarta, dan Bandung.

Citarum mampu mengaliri areal irigasi untuk pertanian seluas 420.000 hektare. Citarum merupakan sumber dari denyut nadi perekonomian Indonesia sebesar 20% GDP (Gross Domestic Product) dengan hamparan industri yang berada di sepanjang Sungai Citarum.

Meskipun seperti itu problematika Sungai Citarum yaitu banjir. Dan mulanya banjir  ketika tahun 1810 ketika saat itu Bupati Bandung R.A Wiranatakusuma II memindahkan Ibu Kota Bandung dari daerah Krapyak (Dayeuh Kolot) ke daerah Bandung tengah yang bertahan hingga saat ini. Hingga saat ini, banjir Sungai Citarum masih rutin terjadi setiap musim penghujan datang.

Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Berpikir Kritis Bisa Cegah Investasi Bodong

Selasa, 25 Januari 2022 | 14:52 WIB

Manfaat Perdagangan Ekspor untuk Perekonomian

Senin, 24 Januari 2022 | 15:07 WIB

Mempelajari Karakter Orang Melalui Kebiasaannya

Minggu, 23 Januari 2022 | 10:00 WIB

Geotrek, Belajar di Alam dengan Senang dan Nikmat

Jumat, 21 Januari 2022 | 08:25 WIB

Mengenal Manfaat Transit Oriented Development (TOD)

Rabu, 19 Januari 2022 | 12:35 WIB

Kapitalisme Kekuasaan Zaman

Senin, 17 Januari 2022 | 16:45 WIB

Geotrek Lintas Kars Citatah

Jumat, 14 Januari 2022 | 15:01 WIB
X