Sumber Gempa di Bandung Bukan Hanya dari Sesar Lembang

- Sabtu, 3 Desember 2022 | 10:47 WIB
Peta patahan yang menoreh di sekeliling Cekungan Bandung. Sumber: Pusat Survei Geologi, Badan Geologi).
Peta patahan yang menoreh di sekeliling Cekungan Bandung. Sumber: Pusat Survei Geologi, Badan Geologi).

DINAMIKA bumi yang terus terjadi, dari waktu ke waktu, dan akan terus terjadi, bila di dalam inti bumi masih panas antara 4.900 derajat Celcius sampai 7.200 derajat Celcius. Panas inilah yang menjadi dinamo penggerak, yang menyebabkan terjadinya pergerakan kerak bumi.

Ada kerak benua yang bergerak saling mendekat, saling menunjam, dan ada yang saling menjauh. Di Indonesia, energi yang lepas dari zona penunjaman itulah yang menyebabkan terjadinya gempabumi tektonik. Energi yang dilepaskan akan menjalar ke daratan melalui patahan atau sesar, menggetarkan kulit bumi, termasuk kawasan yang sudah dihuni.

Adanya patahan dengan gempabuminya, telah mengubah ronabumi menjadi sangat variatif, menjadi sangat megah dan mempesona. Adanya gempa telah menyebabkan terbentuknya tebing tinggi, adanya ngarai yang dalam, adanya dataran yang dapat dilalui dengan mudah, dan banyak mataair mengalir, sehingga di kawasan itulah manusia memilih untuk bermukim.

Karena ada manusia di dalam lintasan bahaya itulah maka gempabumi sering dianggap menjadi ancaman. Guncangan gempabumi, letusan gunungapi, akan terus terjadi. Seperti gempabumi yang terjadi di Cekungan Bandung, di Jawa Barat, sudah terjadi berulang kali, sejak sebelum adanya pendidikan kebumian, seperti adanya adanya narasi-narasi yang tertulis dalam paririmbon atau primbon.

Baca Juga: Prediksi Skor dan Bursa Taruhan 16 Besar Argentina vs Australia, Tim Tango di Atas Angin

Masyarakat Sunda sudah lama mengenal dan mengalami lini, lindu, atau gempabumi. Kata lini sudah ditulis dalam naskah Sunda kuna Para Putera Rama dan Rawana.

Sabuat ta hujan poyan
teka metu angin ribut
téka ceudeum téka ceukreum
ketug lini tujuh kali
samagaha tengah poé
reup peteng pendem daratan
rincik-rincuk hujan leutik.

Seketika itu turun hujan panas
disertai angin ribut
hingga mendung gelap gulita
gempabumi tujuh kali
gerhana di siang bolong
tiba-tiba kegelapan menutup daratan
rintik-rintik hujan gerimis.

(J Noorduyn – A Teeuw, Tiga Pesona Sunda Kuna, 2009).

Halaman:

Editor: Dudung Ridwan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Efek Kecanduan Game Online

Selasa, 31 Januari 2023 | 15:06 WIB

Jejak Pelaut Belanda dan Inggris di Benua Australia

Senin, 30 Januari 2023 | 10:36 WIB

Warga Kampung Naga Harmoni di Keluk Ci Wulan

Sabtu, 28 Januari 2023 | 14:20 WIB

Mewaspadai Konflik Terbuka di Asia Pasifik

Rabu, 25 Januari 2023 | 13:55 WIB

Mewujudkan Indonesia Emas dengan Memberantas Stunting

Selasa, 24 Januari 2023 | 10:54 WIB

Imlek: Merawat Kebhinekaan, Meneguhkan Keindonesiaan

Senin, 23 Januari 2023 | 18:20 WIB

Potret ‘Pengemis Online’ yang Meresahkan

Senin, 23 Januari 2023 | 16:51 WIB

BIJB Kertajati Dijual?

Senin, 23 Januari 2023 | 16:08 WIB

Tahun 1845 Baru Ada 13 Orang Tionghoa di Bandung

Sabtu, 21 Januari 2023 | 15:02 WIB

Cokelat sebagai Peluang Usaha Baru untuk Remaja

Selasa, 17 Januari 2023 | 12:41 WIB
X