Benarkah Rasa Tolong Menolong dan Solidaritas Makin Tercipta di Lingkunga Pesantren?

- Rabu, 30 November 2022 | 12:24 WIB
Pon Pesantren Nurul Huda Kajen. (Fitri Widyanti)
Pon Pesantren Nurul Huda Kajen. (Fitri Widyanti)

Oleh FITRI WIDYANTI*

RASA TOLONG MENOLONG dan solidaritas memang sangat penting untuk dimiliki setiap individu dan harus diajarkan sejak dini, karena dengan tolong menolong pekerjaan yang kita lakukan menjadi ringan dan cepat selesai. Rasa solidaritas juga penting untuk mempererat persaudaraan. Kedua hal tersebut sangatlah berperan penting dalam menumbuhkan kerukunan antar sesama.

Untuk itu, banyak upaya yang dilakukan agar nilai tersebut dapat dtanamkan pada setiap individu dan khususnya dimulai saat masa pertumbuhan anak. Sebagian orang tua memilih caranya sendiri dalam mengupayakan nilai tolong menolong agar tertanam pada diri anaknya.

Menerapkan 2 nilai tersebut setiap hari di rumah merupakan upaya paling awal dalam melatih rasa tolong menolong. Seperti; membantu ibu mencuci piring, menyapu, membantu ayah memberi makan ayam dan masih banyak lagi. Tak lupa rasa solidaritas dimulai dari antar saudara misalnya; ketika makan hendaknya saling menunggu, ketika kakak memiliki jajan hendaknya berbagi dengan adeknya dan sebaliknya.

Kemudian mulai mengajarkan anak mempraktikkannya kepada orang lain selain anggota keluarga, seperti memberi uang atau makan kepada pengemis, bersedekah di kotak amal, kegiatan membayar zakat saat bulan ramadhan dan masih banyak lagi.

Baca Juga: 10+ Tempat Wisata Lembang Terbaru Libur Akhir Tahun Desember 2022 Paling Hits

Setiap orang tua punya tahap-tahap tersendiri dalam melatih anaknya mempraktikan 2 nilai tersebut, termasuk memilih menempatkan anaknya ke dalam lingkup pendidikan pondok pesantren guna menumbuhkan sikap mandiri, rasa prihatin, dan empati pada sesama atau tolong menolong.

Tidak dapat dipungkiri bahwa dunia pondok sangat identik dengan hal-hal tersebut, apalagi solidaritas dan rasa tolong menolong. Lingkungan pondok yang di dalamnya terdapat banyak santri yang beraneka ragam asalnya dan latar belakang masing-masing membuat mereka harus saling menghargai dan saling menjalin keakraban satu sama lain.

Membiasakan diri hidup berdampingan setiap waktu dengan orang-orang yang belum dikenal menjadikan seorang santri mampu beradaptasi dengan banyak orang yang berbeda-beda.

Di lingkup pondok para santri diajarkan untuk saling membantu, mengigatkan, saling mengayomi, dan berbagi. Tak heran jika seorang santri ringan tangan dalam kehidupan bermasyarakat karena kehidupan pondok sudah mengajarkan hal tersebut.

Halaman:

Editor: Dudung Ridwan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Efek Kecanduan Game Online

Selasa, 31 Januari 2023 | 15:06 WIB

Jejak Pelaut Belanda dan Inggris di Benua Australia

Senin, 30 Januari 2023 | 10:36 WIB

Warga Kampung Naga Harmoni di Keluk Ci Wulan

Sabtu, 28 Januari 2023 | 14:20 WIB

Mewaspadai Konflik Terbuka di Asia Pasifik

Rabu, 25 Januari 2023 | 13:55 WIB

Mewujudkan Indonesia Emas dengan Memberantas Stunting

Selasa, 24 Januari 2023 | 10:54 WIB

Imlek: Merawat Kebhinekaan, Meneguhkan Keindonesiaan

Senin, 23 Januari 2023 | 18:20 WIB

Potret ‘Pengemis Online’ yang Meresahkan

Senin, 23 Januari 2023 | 16:51 WIB

BIJB Kertajati Dijual?

Senin, 23 Januari 2023 | 16:08 WIB

Tahun 1845 Baru Ada 13 Orang Tionghoa di Bandung

Sabtu, 21 Januari 2023 | 15:02 WIB

Cokelat sebagai Peluang Usaha Baru untuk Remaja

Selasa, 17 Januari 2023 | 12:41 WIB
X