Dongeng Menjadi Salah Satu Upaya dalam Menumbuhkan Minat Literasi pada Anak

- Senin, 28 November 2022 | 13:10 WIB
Anak-anak saat mendengarkan dongeng. ((dok. Rumah Dongeng Pelangi))
Anak-anak saat mendengarkan dongeng. ((dok. Rumah Dongeng Pelangi))

Oleh Chaerunnisa Rahmatika

INDONESIA merupakan negara yang memiliki tingkat literasi rendah. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Programme for International Student Assessment (PISA) yang dirilis pada tahun 2019, Indonesia menempati peringkat ke-62 dari 70 negara yang berkaitan dengan literasi, atau merupakan 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah.

Makna literasi sendiri cukup luas. Literasi tidak hanya berkaitan dengan rajin atau tidaknya seseorang membaca, melainkan berkaitan juga dengan kemampuan memahami informasi, kemampuan berkomunikasi, serta kemampuan baca tulis. Untuk memperoleh kemampuan-kemampuan tersebut, tentu kita harus membiasakan diri untuk mengonsumsi bacaan yang memperkaya ilmu pengetahuan dan informasi yang benar.

Pada tahun 2015, Anies Baswedan meluncurkan Gerakan Literasi Sekolah sebagai bentuk pengembangan dari Permendikbud Nomor 21 Tahun 2015. Anies mengatakan jika gerakan tersebut merupakan sebuah upaya untuk menumbuhkan budi pekerti anak.

Sejalan dengan tujuan Anies dalam meluncurkan gerakan tersebut, dongeng dapat menjadi salah satu pilihan sebagai sarana pengajaran budi pekerti pada anak. Secara sederhana, dongeng merupakan cerita yang tidak benar-benar nyata dan sangat fantasi karena seringnya menampilkan kejadian yang tidak masuk akal. Meski begitu, dongeng dapat merangsang minat baca pada anak.

Baca Juga: Beasiswa SMA Terbaru, Daftar Beasiswa Anak Teladan Indonesia (BATI) 2023

Berkaitan dengan dongeng, di Indonesia sendiri setiap tanggal 28 November diperingati sebagai Hari Dongeng Nasional. Melansir dari Tirto.id, Hari Dongeng Nasional ditetapkan oleh Perpustakaan Kemendikbud atas dasar penghargaannya kepada sosok yang telah menghidupkan dongeng di Indonesia, yakni Drs. Suryadi atau akrab disapa Pak Raden. Pak Raden menghidupkan dongeng melalui sebuah acara di televisi dengan karakter legendaris ciptaanya Si Unyil.

Danandjadja (1984) dalam Candrika (2019) menyatakan dongeng termasuk ke dalam cerita prosa rakyat sebagai bentuk ekspresi dari suatu kebudayaan. Sebagai salah satu cerita prosa rakyat yang masih terwaris dalam budaya Nusantara, dongeng bersifat kolektif sebagai kesusastraan lisan.

Di samping itu, dongeng termasuk ke dalam sarana hiburan yang menyenangkan bagi anak-anak serta memberikan berbagai manfaat yang dapat dirasakan oleh anak-anak sebagai pembaca atau pendengar.

Halaman:

Editor: Dudung Ridwan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Budaya Kekerasan

Selasa, 7 Februari 2023 | 12:17 WIB

Lato Lato dan Politik

Senin, 6 Februari 2023 | 12:35 WIB

Babah Liem Siang alias Munada

Senin, 6 Februari 2023 | 10:44 WIB

Efek Kecanduan Game Online

Selasa, 31 Januari 2023 | 15:06 WIB

Jejak Pelaut Belanda dan Inggris di Benua Australia

Senin, 30 Januari 2023 | 10:36 WIB

Warga Kampung Naga Harmoni di Keluk Ci Wulan

Sabtu, 28 Januari 2023 | 14:20 WIB

Mewaspadai Konflik Terbuka di Asia Pasifik

Rabu, 25 Januari 2023 | 13:55 WIB

Mewujudkan Indonesia Emas dengan Memberantas Stunting

Selasa, 24 Januari 2023 | 10:54 WIB

Imlek: Merawat Kebhinekaan, Meneguhkan Keindonesiaan

Senin, 23 Januari 2023 | 18:20 WIB

Potret ‘Pengemis Online’ yang Meresahkan

Senin, 23 Januari 2023 | 16:51 WIB
X