Cieundeur dan Gempa Cianjur

- Jumat, 25 November 2022 | 15:06 WIB
Cieundeur, Cianjur, foto karya: Idzma Mahayattika
Cieundeur, Cianjur, foto karya: Idzma Mahayattika

DI KABUPATEN CIANJUR, Jawa Barat, terdapat nama geografi Desa Cieundeur, yang berada di Kecamatan Warungkondang. Dari alunalun Cianjur, kantor Desa Cieundeur jaraknya 9,7 km, dan dari alunalun Kota Sukabumi ke kantor Desa Cieundeur jaraknya 24,7 km.

Pertanyaannya adalah, apakah nama yang berasal dari kata eundeur, bergetar itu sebagai akibat adanya gempabumi vulkanik yang bersumber dari Gunung Gede, yang jaraknya 15 km? Ataukah gempabumi tektonik yang pusat gempanya berada di zona sesar yang berada di sebelah timur kawasan Cieundeur, yang memanjang baratdaya–timurlaut, dan sesar di sebelah utara kawasan Cieundeur yang memanjang barat–timur?

Kejadian gempabumi dimuat dalam berita Arnhemsche courant, 09-07-1844, diberitakan bahwa pada sore hari tanggal 15 Februari, sekitar 12.15, telah terjadi guncangan. Selama beberapa hari terjadi angin kencang. Di kawasan yang lebih tinggi dari Cianjur, angin kencang begitu kuat, sehingga pohon-pohon bertumbangan, dan rumah-rumah banyak yang rusak.

Dalam Leeuwarder courant tanggal 13-05-1879, yang mengutip berita Javasche Courant memberitakan bahwa gempabumi di Cianjur pada malam 28 Maret hingga 30 Maret. Gempabumi berulang beberapa kali. Gempa susulan pada tanggal 29 Maret dirasakan pada jam 01.00, dan esok harinya tanggal 30 Maret terjadi dari pagi hingga malam.

Baca Juga: UMP 2023 Jawa Barat Diperkirakan Naik 7,88 persen, Ini Perkiraan Besaran Uang yang Akan Diterima

Semua bangunan milik Negara rusak parah. Beberapa rumah milik orang Eropa dan Cina runtuh dan rumah penduduk rusak parah. Banyak orang yang terluka dan kepala penghulu Cianjur meninggal. Sedangkan Bupati mengalami cedera ringan. Pada kejadian gempa ini, Sukabumi dan Sindanglaya tidak menderita apa pun.

Bila bersumber dari eundeur, bergetar itu bersumber gempabumi vulkanik dari Gunung Gede, letusan gunung ini dilaporkan dilaporkan oleh Junghuhn (1859), seperti dikutip oleh K Kusumadinata dan S Hamidi (1979), bahwa letusan Gunung Gede yang hebat dan menghancurkan terjadi pada tahun 1747-1748. Demikian juga pada tahun 1840, Gunung Gede dilaporkan meletus besar beberapa kali.

Bila kegiatan letusan gunung Gede didahului dengan gempabumi vulkanik yang menyebabkan kawasan itu eundeur, bergetar, apakah nama geografi Cieundeur itu dilekatkan pada kawasan itu setelah peristiwa letusan Gunung Gede tahun 1747-1748 ataukah setelah letusan Gunung Gede pada tahun 1840?

Dalam peta kolonial Lembar Djamboedipa yang diterbitkan oleh Topographisch Bureau, di Batavia, 1907 (perbaikan tahun 1906), nama geografi Cieundeur sudah ada dalam lembar peta tersebut.

Halaman:

Editor: Dudung Ridwan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengapa Provinsi Sunda?

Jumat, 2 Desember 2022 | 14:06 WIB

Siarkan TV Digital, Indonesia Siap Total?

Jumat, 2 Desember 2022 | 10:52 WIB

Dari Egoisme Lahirlah Intoleranlisme

Senin, 28 November 2022 | 16:09 WIB

Dominasi AS Melemah G-20 menjadi Xi-20

Senin, 28 November 2022 | 10:36 WIB

Wabah Sampar di Cicalengka Tahun 1932-1938

Jumat, 25 November 2022 | 19:10 WIB

Cieundeur dan Gempa Cianjur

Jumat, 25 November 2022 | 15:06 WIB

Membangun Budaya Inovasi ASN di Indonesia

Kamis, 24 November 2022 | 14:20 WIB
X