Lika-Liku Pejuang Rupiah pada Masa Kini

- Senin, 21 November 2022 | 18:26 WIB
Ribuan ojek online melakukan aksi unjuk rasa di Gedung Sate menyuarakan tuntutan terkait kenaikan harga BBM Subsidi (Ayobandung.com/Muslim Yanuar Putra)
Ribuan ojek online melakukan aksi unjuk rasa di Gedung Sate menyuarakan tuntutan terkait kenaikan harga BBM Subsidi (Ayobandung.com/Muslim Yanuar Putra)

Oleh Nisrina Nuraini

LAYANAN ojek online akhir-akhir ini menaikkan tarifnya, hal tersebut merupakan akibat kenaikan harga BBM. Sejak tanggal 3 September 2022 telah terjadi kenaikan harga BBM yang terdiri dari Pertalite dan Solar serta Pertamax nonsubsidi yang diketahui naik sebesar Rp2.350 dari harga sebelumnya yakni Rp7.650 menjadi Rp10.000 per liternya.

Kenaikan BBM itu membuat berbagai kalangan shock, karena kenaikan BBM tak hanya berpengaruh pada sistem tarif yang ditetapkan oleh angkutan umum saja, tetapi juga akan langsung berpengaruh pada harga-harga di sektor lain seperti bahan makanan dan sembako.

Dilansir dari World Bank Institute, Introduction to Poverty Analysis (2002), kenaikan harga komoditas dari sektor sembako atau bahan pangan yang lain akan berpengaruh pada tingkat kemiskinan.

Dalam teorinya dijelaskan bahwa kenaikan harga komoditas akan berpengaruh pada substitution effect dan income effect.
Hal ini menunjukkan keadaan di mana para pelaku ekonomi akan mengambil jalan alternatif berupa melakukan substitusi dari komoditas awal yang harganya sedang merangkak naik, ke komoditas yang lebih murah dan menguntungkan dirinya.

Baca Juga: 7 Tempat Wisata Bandung Nuansa Alam, Cocok untuk Tahun Baruan dan Natal: Harga Tiket di Bawah Rp100 Ribu!

Jumlah besarnya substitusi ini tidak selamanya berlaku kepada semua komoditas, tetapi bergantung kepada kategori komoditas yang dibutuhkan. Misalnya, jenis barang atau komoditas yang dimaksud adalah barang yang termasuk ke dalam kategori necesity goods atau barang yang tidak bisa digantikan, maka efek subsitusinya tidak akan dirasa terlalu besar.

Sedangkan untuk contoh dari aspek income effect, fenomena kenaikan harga sudah pasti akan berpengaruh kepada pendapatan riil yang menurun. Sehingga dapat dikatakan bahwa daya beli masyarakat akan ikut serta menurun dan beberapa pelaku ekonomi kehilangan konsumennya.

Dalam hal fenomena kenaikan harga BBM ini, teori tersebut bisa dilihat dari perwujudan kenaikan tarif ojol sebesar 15% untuk tarif ojol sekitar Rp1.650,- rupiah perak. Untuk wilayah Kabupaten Sumedang, tarif ojol naik secara berurutan dari Rp9.000,- lalu naik ke angka Rp11.000 hingga sekarang berada pada kisaran Rp12.000 - Rp13.000,- per satu kali order.

Halaman:

Editor: Dudung Ridwan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengapa Provinsi Sunda?

Jumat, 2 Desember 2022 | 14:06 WIB

Siarkan TV Digital, Indonesia Siap Total?

Jumat, 2 Desember 2022 | 10:52 WIB

Dari Egoisme Lahirlah Intoleranlisme

Senin, 28 November 2022 | 16:09 WIB

Dominasi AS Melemah G-20 menjadi Xi-20

Senin, 28 November 2022 | 10:36 WIB

Wabah Sampar di Cicalengka Tahun 1932-1938

Jumat, 25 November 2022 | 19:10 WIB

Cieundeur dan Gempa Cianjur

Jumat, 25 November 2022 | 15:06 WIB

Membangun Budaya Inovasi ASN di Indonesia

Kamis, 24 November 2022 | 14:20 WIB
X