Toponimi Mengawetkan Kata Selama Ribuan Tahun

- Jumat, 18 November 2022 | 13:56 WIB
Dalam Prasasti Ciaruteun terdapat jejak kaki, dan teks dengan bahasa Sanskerta yang ditulis dengan huruf pallawa: “Ini dua kaki yang mulia Sang Purnawarman, Raja di Negeri Taruma, raja yang gagah berani di dunia”. Foto: T Bachtiar.
Dalam Prasasti Ciaruteun terdapat jejak kaki, dan teks dengan bahasa Sanskerta yang ditulis dengan huruf pallawa: “Ini dua kaki yang mulia Sang Purnawarman, Raja di Negeri Taruma, raja yang gagah berani di dunia”. Foto: T Bachtiar.

DI LERENG UTARA Pasir Pawon, di Desa Gunungmasigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, terdapat goa kapur yang bertingkat-tingkat. Di salah satu tingkatnya, terdapat goa yang pernah dihuni oleh manusia.

Menurut penelitian Lutfi Yondri, arkeolog, beberapa jasad manusia Guha Pawon itu hidup dalam rentang waktu antara 9.500 tahun yang lalu - 5.600 tahun yang lalu. Penelitian arkeologi di Guha Pawon dapat menjawab tentang manusia goa, seperti manusia Guha Pawon itu berasal dari ras mana, kapan hidup di sana, apa saja sisa makanan yang terdapat dalam kotak ekskavasi, senjata apa yang digunakan, dan perhiasan apa saja yang terdapat di sana.

Penelitian arkeologi dapat menjawab semuanya itu dan dapat dibuktikan secara keilmuan. Namun tidak bisa menjawab mereka berkomunikasi menggunakan bahasa apa? Apakah menggunakan Proto Austronesia, ataukah menggunakan Proto Melayo Polynesia, atau bahasa Proto Sunda Kuna? Tentang bahasa, tidak bisa dijawab secara spekulatif, karena tidak ada bukti-buktinya.

Menurut Titi Surti Nastiti, arkeolog, epigraf, komunikasi pribadi melalui WhatsApp pada hari Senin malam (14/11/2022), menuliskan bahwa bukti tertulis penggunaan bahasa di Tatar Sunda adalah adanya aksara yang ditulis dalam prasasti. Prasasti paling awal di tatar Sunda adalah Prasasti Ciaruteun, Prasasti Kebonkopi, Prasasti Pasirkoleangkak, Prasasti Pasirawi, Prasasti Muara Cianten (Bogor), Prasasti Cidanghiang (Pandeglang), dan Prasasti Tugu (Jakarta). Semua prasasti itu ditulis dengan tulisan Pallawa, menggunakan bahasa Sanskerta (metrum anustubh).

Baca Juga: Seleksi PPPK Tenaga Teknis 2022 Batal? Cek Kembali Jadwal Pelaksanaannya dan Pastikan Syaratnya

Prasasti Ciaruteun dibuat tahun 450 M, raja yang memerintahkannya adalah Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanagara. Tentang angka tahun 450 M didapat sesudah membandingkannya dengan aksara-aksara yang dipakai oleh Dinasti Pallawa di India. Aksaranya lebih muda dibandingkan dengan aksara yang ada dalam Prasasti Kutei, yang dikeluarkan tahun 400.

Contoh prasasti yang menggunakan bahasa Sanskerta adalah Prasasti Ciaruteun, prasasti yang berada di tengah Ci Aruteun, 75-100 m ke arah hulu dari tempuran Ci Aruteun dengan Ci Sadane. Di lembah yang curam dengan bongkah batu besar di dasarnya, satu batu yang paling besar dengan posisinya yang mudah terlihat, kemudian dijadikan media untuk menuliskan peringatan bahwa ada kerajaan yang agung Tarumanagara dengan rajanya Purnawarman.

Dalam prasasti ini terdapat sepasang jejak kaki (padatala), dan teks dengan bahasa Sansekerta yang ditulis dengan huruf pallawa: “Ini dua kaki yang mulia Sang Purnawarman, Raja di Negeri Taruma, raja yang gagah berani di dunia”.

Hanya Prasasti Pasirawi dan prasasti Muara Cianten yang ditulis menggunakan huruf ikal yang sampai sekarang belum dapat diketahui maknanya. Menurut pendapat (Mang) Prof Dr Hasan Djafar, Prasasti Pasirawi itu bukan aksara, tapi gambar daun boddhi. Kesimpulan ini diperolehnya setelah Mang Hasan membandingkan gambar dalam prasasti Pasirawi dengan gambar yang terdapat di India.

Halaman:

Editor: Dudung Ridwan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengapa Provinsi Sunda?

Jumat, 2 Desember 2022 | 14:06 WIB

Siarkan TV Digital, Indonesia Siap Total?

Jumat, 2 Desember 2022 | 10:52 WIB

Dari Egoisme Lahirlah Intoleranlisme

Senin, 28 November 2022 | 16:09 WIB

Dominasi AS Melemah G-20 menjadi Xi-20

Senin, 28 November 2022 | 10:36 WIB

Wabah Sampar di Cicalengka Tahun 1932-1938

Jumat, 25 November 2022 | 19:10 WIB

Cieundeur dan Gempa Cianjur

Jumat, 25 November 2022 | 15:06 WIB

Membangun Budaya Inovasi ASN di Indonesia

Kamis, 24 November 2022 | 14:20 WIB
X