Gereja Santo Antonius di Pasar Cicalengka

- Jumat, 18 November 2022 | 13:38 WIB
Gereja St. Antonius saat diresmikan pada 13 Juni 1931. Sumber: De Koerier, 16 Juni 1931.
Gereja St. Antonius saat diresmikan pada 13 Juni 1931. Sumber: De Koerier, 16 Juni 1931.

SEJAK KECIL dibawa emak ke Pasar Cicalengka, saya lihat gereja itu sudah ada di sana. Apalagi sejak sekolah di SMPN 1 Cicalengka, ketika hendak bermain ke rumah kawan sekelas di Kebonkapas, bangunan tua itu tentu akan terlewati.

Sejak saat itu, rasa penasaran, barangkali terus terpupuk di alam bawah sadar, menantikan jawabannya selama bertahun-tahun. Akhirnya beberapa tahun lalu, saya menemukan jawabnya dari salah satu unggahan di media sosial, berupa foto dan namanya.

Eureka, namanya Gereja Santo Antonius. Pencarian data dan faktanya saya lakukan melalui berbagai pustaka. Hasilnya saya menemukannya dari koran lama berbahasa Belanda dan belakangan mendapatkan rincian lainnya dari buku Tonggak-tonggak Sejarah Gereja Katolik Keuskupan Bandung (1984) susunan Tom Gunadi dan kawan-kawan, terbitan Seksi Penerbitan Buku Peringatan Koordinat I Panitia Peringatan 450 tahun Gereja Katolik di Indonesia Keuskupan Bandung yang bekerja sama dengan Redaksi majalah Komunikasi.

Dengan demikian, dalam tulisan ini, saya akan menggabungkan kedua sumber tersebut untuk mengurai sejarah pembangunan dan perkembangan Gereja St. Antonius. Namun, sebelumnya, saya akan memberi latar belakang mengenai kehadiran Ordo Sanctae Crucis (Salib Suci), serikat Katolik yang mendirikan Gereja St. Antonius di Cicalengka, berdasarkan informasi dari Tonggak-tonggak.

Baca Juga: Ungkap Teka-Teki Kasus Tewasnya Satu Keluarga di Kalideres, Soal Sekte Apokaliptik, Apa Itu?

Ordo Salib Suci di Bandung

Konon, pada 9 Februari 1927, tiga orang imam Ordo Salib Suci yang pertama tiba di Bandung. Mereka J.H. Goumans OSC, M. Nillesesn OSC, dan J. De Rooy OSC. Mereka bertiga tiba tiga hari sebelumnya di Pelabuhan Tanjungpriok, yaitu pada hari Minggu, pukul 07.00, 6 Februari 1927, dengan menumpang kapal laut Johan van Oldenbarneveldt.

Setiba di Bandung hari itu, mereka melakukan serah terima tugas dengan para imam Yesuit, dengan catatan imam Yesuit masih akan tinggal untuk membantu. Inventaris yang diserahkan adalah Gereja St. Petrus dan pastoran di Bandung; Gereja St. Ignatius di Cimahi; Gereja St. Maria di Garut; Gereja St. Yosef bersama pastoran di Cirebon; dan beberapa sekolah serta perkumpulan Katolik di Bandung.

Kronik berikutnya, ketiga imam Salib Suci diangkat menjadi imam di Gereja St. Petrus pada 5 Maret 1927. Tanggal 17 Agustus 1927 didirikan Yayasan Salib Suci. Goumans menjadi pastor kepala Bandung pada 13 Oktober 1927.

Halaman:

Editor: Dudung Ridwan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengapa Provinsi Sunda?

Jumat, 2 Desember 2022 | 14:06 WIB

Siarkan TV Digital, Indonesia Siap Total?

Jumat, 2 Desember 2022 | 10:52 WIB

Dari Egoisme Lahirlah Intoleranlisme

Senin, 28 November 2022 | 16:09 WIB

Dominasi AS Melemah G-20 menjadi Xi-20

Senin, 28 November 2022 | 10:36 WIB

Wabah Sampar di Cicalengka Tahun 1932-1938

Jumat, 25 November 2022 | 19:10 WIB

Cieundeur dan Gempa Cianjur

Jumat, 25 November 2022 | 15:06 WIB

Membangun Budaya Inovasi ASN di Indonesia

Kamis, 24 November 2022 | 14:20 WIB
X