Nama Bangunan yang Menjadi Nama Desa dan Kelurahan

- Rabu, 5 Oktober 2022 | 16:41 WIB
Foto udara Villa Isola milik Dominique W. Berretty sekitar tahun 1928 | Bila di suatu tempat terdapat bangunan yang menjadi penanda utama tempat itu, maka nama bangunan itulah yang akan banyak disebut. (Koleksi: KITLV 141926)
Foto udara Villa Isola milik Dominique W. Berretty sekitar tahun 1928 | Bila di suatu tempat terdapat bangunan yang menjadi penanda utama tempat itu, maka nama bangunan itulah yang akan banyak disebut. (Koleksi: KITLV 141926)

Bila di suatu tempat terdapat bangunan yang menjadi penanda utama tempat itu, maka nama bangunan itulah yang akan banyak disebut.

Misalnya, “Mau pergi ke mana?”, “Pulang dari mana?”, atau “Di mana lokasi kebun bawang itu?” Karena lokasinya berdekatan dengan bangunan gudang, misalnya, maka jawabannya akan merujuk pada bangunan gudang tersebut, seperti yang terdapat di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, di sana terdapat nama geografi Desa Gudangkahuripan.

Di Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, terdapat nama geografi Desa Tagogapu. Tagog dalam bahasa Sunda berarti bangunan semacam saung sederhana, tiangnya hanya dua, lalu diberi palang di bagian atas yang menguatkan kedua tiang. Dari palang itu ke belakang, diberi beberapa palang berupa usuk. Ujung usuk yang satunya lagi langsung menyentuh tanah, sehingga bila dilihat dari samping, bangunan itu bentuknya segitiga. Di bagian atasnya diberi penutup ilalang. 

Gaya bangunan inilah yang disebut tagog. Karena tagog ini menjadi tempat penyimpanan apu, kapurbakar, sebelum dikirim lagi ke berbagai tempat, oleh masyarakat di sana disebut tagog apu, tagog tempat menyimpan kapurbakar. Karena kekhasannya, maka tagog apu itu menjadi penanda kawasan. Lama-kelamaan, karena keterkenalannya, kemudian berkembang menjadi nama kampung, yang semakin membesar menjadi nama geografi Desa Tagogapu.

Baca Juga: Bahan Bangunan dari Cicalengka (1907-1941)

Ada juga warung yang berada dekat rumpun bambu. Warung dan rumpun bambu menjadi penanda kawasan, kemudian menjadi nama geografi, seperti Desa Warungbambu, di Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang.

Bila warungnya berada di bawah pohon kiara, menyebabkan warung itu menjadi khas, menjadi penanda kawasan, yang kemudian kawasan itu berkembang menjadi permukiman, disebutlah Desa Warungkiara, seperti yang terdapat di Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi. 

Di Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung, terdapat Kelurahan Warungmuncang. Boleh jadi, pada masa lalunya, di bawah pohon muncang, kemiri itu terdapat warung, yang kemudian menjadi penanda kawasan.

Baca Juga: Talaga Bodas, Fase Akhir dari Pembentukan Gunung Talagabodas

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Wabah Sampar di Cicalengka Tahun 1932-1938

Jumat, 25 November 2022 | 19:10 WIB

Cieundeur dan Gempa Cianjur

Jumat, 25 November 2022 | 15:06 WIB

Membangun Budaya Inovasi ASN di Indonesia

Kamis, 24 November 2022 | 14:20 WIB

Kurir Shopee Diduga Maling Helm di Sarijadi

Kamis, 24 November 2022 | 11:34 WIB

Menyeruput (Kisah di Balik) Kesegaran Es Oyen

Rabu, 23 November 2022 | 14:50 WIB

Kehidupan LGBT dalam Perspektif Sosiologi

Rabu, 23 November 2022 | 10:24 WIB

Gempa Cianjur dan Piala Dunia

Selasa, 22 November 2022 | 12:22 WIB

Miskonsepsi IPA dan IPS dalam Dunia Pendidikan

Selasa, 22 November 2022 | 10:50 WIB

Lika-Liku Pejuang Rupiah pada Masa Kini

Senin, 21 November 2022 | 18:26 WIB

Toponimi Mengawetkan Kata Selama Ribuan Tahun

Jumat, 18 November 2022 | 13:56 WIB
X