Hidup Jangan Kebanyakan Sambat

- Selasa, 4 Oktober 2022 | 16:26 WIB
Ilustrasi | Kadang saya suka heran sekaligus jengkel melihat seseorang yang kerjaannya sambat (mengeluh) tiap hari dalam segala hal. (Unsplash/Claudia Wolff)
Ilustrasi | Kadang saya suka heran sekaligus jengkel melihat seseorang yang kerjaannya sambat (mengeluh) tiap hari dalam segala hal. (Unsplash/Claudia Wolff)

Kadang saya suka heran sekaligus jengkel melihat seseorang yang kerjaannya sambat (mengeluh) tiap hari dalam segala hal. Kok, seperti tidak ada kerjaan lain yang kiranya lebih berfaedah—alih-alih sambat.

Dalam hidup, tentu kita juga pernah sambat (mengeluh), ya namanya juga hidup pasti ada saat-saat di mana kita merasa jengkel dengan hidup. Misalnya, keadaan ekonomi yang kian sulit—sering kali menjadi penyebab utama seseorang menjadi sambat. Saat penghasilan tak sesuai pengeluaran, harga kebutuhan pokok meroket tajam, dan biaya hidup kian mahal, membuat banyak orang—khususnya emak-emak akan sambat.

Karena, uang belanja dari suami tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dapur. Belum lagi utang yang menumpuk, membuat dahi makin berkerut. Jangankan untuk membayar utang, untuk makan sehari-hari saja sudah kalang kabut. Ditambah lagi biaya sewa kontrakan, listrik, cicilan motor, dan biaya sekolah anak, wajar jika banyak orang jadi sambat.

Sambat (mengeluh) boleh-boleh saja, asal sesuai dengan porsinya. Tidak berlebihan. Jangan sampai dari bangun tidur sampai mau tidur isinya cuma sambat terus. Eh, emang ada orang seperti ini? Ada!

Baca Juga: Sosiopreneur Generasi Milenial melalui Agroedupark

Sebut saja Mawar (nama fiksi), setiap hari kerjaanya hanya sambat. Mulai dari bangun tidur—melihat tumpukan piring kotor, ia ngedumel sambil mencuci piring. Mulutnya terus komat-kamit seperti dukun sedang baca mantra. Selesai cuci piring, ia berbenah rumah. Sehingga tepat sebelum pukul tujuh pagi, rumahnya sudah terlihat bersih dan rapi.

Namun, kebersihan dan kerapihan rumah tidak berlangsung lama. Menjelang siang, keadaan rumah sudah kembali seperti kapal pecah. Sontak, hal itu membuat Mawar geram, meski begitu sambil ngedumel ia tetap membersihkan dan merapikan rumah seperti biasa. Kejadian ini terus berulang hingga menjelang tidur, selalu ada pekerjaan yang menunggu Mawar.

Apa yang dialami Mawar, tentu juga pernah dialami oleh sebagian besar orang—khususnya para ibu rumah tangga. Dari mulai bangun tidur hingga menjelang tidur, selalu ada saja pekerjaan yang menunggu mereka. Seolah pekerjaan itu tidak ada habisnya. Wajar, jika kemudian mereka sambat, sebab mereka sudah teramat lelah dengan pekerjaan rumah.

Baca Juga: Pengelolaaan BBM Bersubsidi dan Pengembangan Energi Terbarukan

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Lama Menunggu karena Jadwal Bus yang Tak Menentu

Jumat, 9 Desember 2022 | 13:36 WIB

Reklamasi sebagai Tahap Akhir dalam Menambang

Kamis, 8 Desember 2022 | 14:39 WIB

Khvicha Kvaratskhelia: Maradona Baru Asal Georgia

Rabu, 7 Desember 2022 | 15:02 WIB

Parkir di Kampus, Kok, Bayar?

Rabu, 7 Desember 2022 | 10:21 WIB

Mengapa Provinsi Sunda?

Jumat, 2 Desember 2022 | 14:06 WIB
X