Pengelolaaan BBM Bersubsidi dan Pengembangan Energi Terbarukan

- Senin, 3 Oktober 2022 | 18:30 WIB
Harga BBM Pertamax Turun | Soal kenaikan harga BBM ini tidak dapat dilepaskan dari jumlah subsidi BBM yang telah ditetapkan sebelumnya.    (AyoBandung.com/Magang /Ditya Rafi Muttaqin)
Harga BBM Pertamax Turun | Soal kenaikan harga BBM ini tidak dapat dilepaskan dari jumlah subsidi BBM yang telah ditetapkan sebelumnya. (AyoBandung.com/Magang /Ditya Rafi Muttaqin)

Pernyataan mengejutkan datang dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Arifin Tasrif ada tanggal 3 September 2022 lalu yang menyebutkan bahwa Bahan Bakar Minyak (BBM) akan mengalami kenaikan terhitung satu jam setelah informasi diberitahukan, yaitu pukul 14.30 WIB. Kenaikan BBM ini tidak dapat dilepaskan dari jumlah subsidi BBM yang telah ditetapkan sebelumnya.

Pemerintah telah menetapkan subsidi Pertalite sebesar 23,05 juta kilo liter (KL) dan subsidi Solar sebesar 15,1 juta kilo liter (KL). Akan tetapi, terhitung sampai dengan akhir Juli 2022, penggunaan Pertalite sudah mencapai 16,84 juta kilo liter atau 73% dari kuota yang telah ditetapkan. Sedangkan penggunaan Solar sudah mencapai 9,88 juta kilo liter atau 65% dari kuota yang telah ditetapkan.

Melihat penggunaan Pertalite dan Solar yang sangat masif ini, Pemerintah memperkiraan bahwa kuota subsidi Pertalite akan habis pada akhir September 2022 dan subsidi Solar diperkirakan akan habis pada Oktober 2022 nanti. Kenaikan tarif BBM ini pun memengaruhi anggaran subsidi yang telah ditetapkan. Awalnya, pemerintah menetapkan subsidi BBM, LPG, dan listrik sebesar 502,4 triliun, tetapi melihat penggunaan BBM yang kian bertambah, pemerintah menambah kuota subsidi Pertalite dari 23,05 juta kilo liter (KL) menjadi 29 juta kilo liter (KL) untuk tahun 2022.

Hal ini pun berdampak pada pembengkakan anggaran subsidi yang mencapai 650 Triliun Rupiah. Pemerintah mengklaim bahwa jika kenaikan tarif BBM ini tidak dilakukan, maka anggaran subsidi akan terus membengkak hingga 698 Triliun Rupiah sehingga akan menambah beban yang ditanggung oleh negara.

Baca Juga: Pengelolaaan BBM Bersubsidi dan Pengembangan Energi Terbarukan

Pengendalian terhadap pendistribusian BBM berbasis Aplikasi

Kenaikkan harga BBM ini sangatlah membuat rakyat kesulitan dan sudah menjadi sebuah kewajiban Pemerintah untuk memperbaikinya. Menteri Keuangan, Sri Mulyani, mengatakan bahwa dari 86% Pertalite yang digunakan oleh RT, sebanyak 80% dinikmati oleh Rumah Tangga mampu. Sedangkan dari 98% Pertamax yang digunakan oleh RT, 88% dari Pertamax itu dinikmati oleh Rumah Tangga mampu. Hal ini membuktikan bahwa BBM subsidi sudah melenceng dari tujuannya untuk meringankan pengeluaran keluarga tidak mampu dalam membeli BBM.

Melihat permasalahan tersebut, Pemerintah perlu memperhatikan distribusi dari BBM atau dalam kata lain pengendalian dari pendistribusian BBM itu perlu dilakukan secara ketat agar anggaran yang telah ditetapkan pemerintah untuk BBM dapat digunakan sebagaimana mestinya. Pengendalian tersebut dapat dilihat dari sudut pandang ketepatan penggunaan subsidi dengan mengandalkan fasilitas yang telah diberikan oleh Pemerintah, yaitu aplikasi MyPertamina.

Baca Juga: Harga BBM Pertamax 1 Oktober 2022 di Jawa Barat Turun Jadi Rp13.900 per Liter

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengapa Provinsi Sunda?

Jumat, 2 Desember 2022 | 14:06 WIB

Siarkan TV Digital, Indonesia Siap Total?

Jumat, 2 Desember 2022 | 10:52 WIB

Dari Egoisme Lahirlah Intoleranlisme

Senin, 28 November 2022 | 16:09 WIB

Dominasi AS Melemah G-20 menjadi Xi-20

Senin, 28 November 2022 | 10:36 WIB

Wabah Sampar di Cicalengka Tahun 1932-1938

Jumat, 25 November 2022 | 19:10 WIB

Cieundeur dan Gempa Cianjur

Jumat, 25 November 2022 | 15:06 WIB
X