Bahan Bangunan dari Cicalengka (1907-1941)

- Senin, 3 Oktober 2022 | 16:01 WIB
Sejak Januari 1907, Chamot & Wilson mulai mengiklankan teras Nagreg.  (Sumber: De Preanger-bode, 23 Januari 1907.)
Sejak Januari 1907, Chamot & Wilson mulai mengiklankan teras Nagreg. (Sumber: De Preanger-bode, 23 Januari 1907.)

Dari Adresboek van de Ned.-Ind. Nijverheid No. 5 (1916), saya mendapatkan data pengusaha dari Cicalengka yang berbisnis bahan bangunan, berupa “pannenbakkerijen” (genting), “steenbakkerijen” (batu bata), dan teras.

Tercatat ada Hadji Godjali dan Hadji Hasanoedin dari Citaman, Nagreg, yang mengusahakan genting dan batu bata, sementara Mad Taris mengusahakan batu bata. Ditambah dengan Hadji Oemar dari Majalaya (1916: 17, 19). Dari kalangan bangsa Eropa ada W.F.E. Roeder yang punya perusahaan Steenbakkerij van W.F.E. Roeder di Nagreg (1916: 5) dan Maatschappij tot Exploitatie Tuftras van Nagrek (1916: 44).

Dua dasawarsa kemudian, dalam Delfstoffen op Java, met uitzondering van aardolie, kolen en ertsen (1939), saya menemukan data lainnya. Di situ disebutkan dari daerah Panoeboesan, di timur laut Stasiun Nagreg, dihasilkan kaolin (1939: 54); batu obsidian dari Gunung Kendang, Nagreg (1939: 68); dan batu apung dan tufa batu apung atau teras juga dari Nagreg (1939: 76, 79).

Dari Adresboek van de voornaamste bedrijfstakken der Nederlandsch-Indische Nijverheid (1941), bahkan, saya mendapatkan data pengusaha kerajinan yang ada di Cicalengka, yaitu tekstil, singkong, dan penggilingan padi. Namun, yang akan saya dulukan adalah Pannenbakkerijen Tjitjalengka, v.d. Wijck- Echtsche en Vlaamsche, yang tentu saja bidang usahanya adalah genting.

Baca Juga: Tragedi Stadion Kanjuruhan: Menimbulkan Duka Mendalam, Menyusutkan Pengungkit Perekonomian 

Di bidang tekstil ada Hoa An Weaving Mill di Majalaya. Namun, yang paling banyak adalah pengusaha singkong baik untuk tapioka maupun gaplek, yaitu Hadji Mas Abdoerachman (Cicareuh, Nagrog), Kian Tjoan & Co (Cikancung dan Ciaro), Raden Seetjipto (Groote Postweg atau Jalan Raya Ccicalengka, Ciaro), Tai Tung (Citaman), Thio Tjoan Tjay (Pecinan), dan Thio A Siam (Groote Postweg 10) (1941: 47-48). Sementara penggilingan padi diusahakan Ban Hin di Rancaekek.

Dari data di atas, kita mafhum bahwa Cicalengka merupakan daerah penghasil bahan bangunan sejak lama.

Bahkan fakta yang nanti akan saya tulis di bawah menunjukkan bahwa genting dari Cicalengka ternyata digunakan sebagai material pilihan saat pemerintah kolonial membasmi wabah pes (pestbestrijding) pada tahun 1930-an.

Baca Juga: Penguatan Status Kepegawaian Perangkat Desa

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengapa Provinsi Sunda?

Jumat, 2 Desember 2022 | 14:06 WIB

Siarkan TV Digital, Indonesia Siap Total?

Jumat, 2 Desember 2022 | 10:52 WIB

Dari Egoisme Lahirlah Intoleranlisme

Senin, 28 November 2022 | 16:09 WIB

Dominasi AS Melemah G-20 menjadi Xi-20

Senin, 28 November 2022 | 10:36 WIB

Wabah Sampar di Cicalengka Tahun 1932-1938

Jumat, 25 November 2022 | 19:10 WIB

Cieundeur dan Gempa Cianjur

Jumat, 25 November 2022 | 15:06 WIB
X