Citisuk

- Senin, 19 September 2022 | 15:35 WIB
Sebelum kantong keresek menyerbu besar-besaran pada akhir tahun 1980-an, daun tisuk sangat dibutuhkan sebagai pembungkus belanjaan di pasar dan di warung-warung. Di Jawa Barat, sedikitnya ada lima nama geografi Citisuk. (Foto: T Bachtiar )
Sebelum kantong keresek menyerbu besar-besaran pada akhir tahun 1980-an, daun tisuk sangat dibutuhkan sebagai pembungkus belanjaan di pasar dan di warung-warung. Di Jawa Barat, sedikitnya ada lima nama geografi Citisuk. (Foto: T Bachtiar )

Di Jawa Barat, sedikitnya ada lima nama geografi Citisuk, yang semuanya terinspirasi oleh adanya jenis pohon tisuk di sana.

Sebelum kantung keresek dan plastik menyerbu dan merajalela dipergunakan oleh masyarakat, daun tisuk (Hibiscus macrophyllus) mempunyai peran yang sangat utama menjadi pembungkus, baik di pasar, di warung-warung, maupun di rumah-rumah penduduk.

Sepintas, daun tisuk mirip dengan daun waru. Keduanya sama-sama dipergunakan menjadi pembungkus, sesuai dengan keberadaan dan ketersediaan daun itu di setiap daerah. Bila yang dominan tumbuh di daerah itu pohon tisuk, maka daun tisuk yang menjadi pembungkus. Sebaliknya, bila di daerah lainnya pohon waru lebih dominan, maka daun waru menjadi pembungkus yang utama.

Di Indonesia, pohon tisuk tersebar di Pulau Jawa, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan di Pulau Sumatera. Pohon tisuk banyak tumbuh di berbagai tempat, karena daya tumbuhnya yang sangat mudah dan cepat. Pada musim berbuah, buah keringnya akan berjatuhan, lalu tersebar tertiup angin.

Di bawah tegakan pohon tisuk, bijinya akan tumbuh menjadi anakan tisuk yang bongsor. Tinggi pohon tisuk mencapai 15 m sampai 25 m, dengan diameter batang antara 15 m - 25 cm. Batangnya lurus, tumbuh liar di ketinggian antara 800 mdpl hingga 1.400  mdpl.

Baca Juga: Indische Partij Cabang Cicalengka Tahun 1913

Kulit kayunya pun dapat dijadikan bahan untuk tali atau tambang, bahkan seratnya dijadikan tali pancing, sebelum tali plastik banyak dijual di pasaran. Untuk mendapatkan serat kayunya yang bagus, kulit kayu tisuk direndam selama tujuh hari sampai kulit luarnya yang kasar mengelupas. Bagian seratnya yang putihsusu itulah yang dibersihkan, dijemur, baru digunakan sesuai kebutuhan.

Ketika musim kemarau, kayu tisuk yang tergolong kayu ringan, menjadi kayu pilihan ketika warga di suatu perkampungan akan membuat kolecer, baling-baling berbahan kayu yang panjangnya antara 3 m sampai 4 m. Kolecer itu akan dipasang, ditegakan di puncak bukit dengan tiupan angin yang besar.

Kayu tisuk mudah dikeringkan, ringan, berserat halus, sehingga banyak digunakan menjadi bahan untuk kerajinantangan dan perabot rumah-tangga. Ketika korek api masih menguasai pasar, kayu tisuk menjadi bahan untuk pembuatan batang korek api. Dengan batangnya yang lurus, serta kayunya yang termasuk kelas kayu yang awet, sehingga masyarakat banyak menggunakan kayu tisuk menjadi bahan bangunan rumah.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Invasi Rusia di Ukraina Menuju Tahap Akhir

Kamis, 22 September 2022 | 20:11 WIB

Memahami Tatib Sekolah dengan Menjadi Reporter

Selasa, 20 September 2022 | 21:15 WIB

Citisuk

Senin, 19 September 2022 | 15:35 WIB

Indische Partij Cabang Cicalengka Tahun 1913

Minggu, 18 September 2022 | 14:51 WIB

Bogor Menjadi Destinasi Favorit yang Harus Dibenahi

Rabu, 14 September 2022 | 21:13 WIB

Kompi Artileri ke-19 di Nagreg sejak 1905

Minggu, 11 September 2022 | 14:19 WIB

Pelangi Ratu Elizabeth II dalam Paririmbon Sunda

Minggu, 11 September 2022 | 07:00 WIB

Perihal RUU Sisdiknas dan Kesejahteraan Guru

Minggu, 11 September 2022 | 06:00 WIB

KurMer dalam Falsafah Jawa: Mamayu Hayuning Bawana

Jumat, 9 September 2022 | 16:25 WIB

Raja Surakarta Kunjungi Hotel Isola

Jumat, 9 September 2022 | 15:44 WIB

Cinambo Semula Berupa Dasar Sungai

Kamis, 8 September 2022 | 21:32 WIB
X