Kompi Artileri ke-19 di Nagreg sejak 1905

- Minggu, 11 September 2022 | 14:19 WIB
Pasukan artileri Hindia Belanda di Jawa dalam potret yang dibuat antara tahun 1906 hingga 1930. (Sumber:KITLV 1405292)
Pasukan artileri Hindia Belanda di Jawa dalam potret yang dibuat antara tahun 1906 hingga 1930. (Sumber:KITLV 1405292)

Dari keterangan di internet, terutama dari Timesindonesia.co.id (13 Juli 2020) saya tahu di Bukit Citiis, Kampung Paslon, Desa Ciherang, Kecamatan Nagreg, ada peninggalan dari zaman penjajahan Belanda. Di situ ada benteng yang oleh penduduk disebut Gedong Peteng, dan kini berdiri di atas tanah milik TNI seluas sekitar delapan hektar.

Bentengnya terdiri atas tiga bagian, yaitu bangunan utama dan dua bangunan di kiri-kanan bangunan utama. Bangunan utamanya memanjang utara-selatan sekitar 15 meter dengan 6 pintu dan 12 jendela. Setiap ruangan berukuran 2,5 m x 3 m persegi, tanpa penghubung. Sementara dua bangunan lainnya berupa tiga pintu di kiri dan dua pintu di kanan bangunan utama.

Peninggalan lama di dekat Stasiun Nagreg itu dapat dicapai melalui Kampung Paslon, Jalan Cagak atau Jalan Lingkar Nagreg dengan berjalan kaki sekitar 30 menit hingga satu jam. Sayangnya, saya sendiri belum sempat mengunjungi Gedong Peteng di Bukit Citiis itu.

Soal istilah Gedong Peteng sangat menarik untuk ditelusuri. Salah satunya, saya menggunakan kamus bahasa Sunda. Dari kamus susunan R.A. Danadibrata (2006), Gedong Peteng diberi pengertian “Wawangunan tina beton handapeun pasir kalereun Bandung panyimpenan ruruntuk bom” (bangunan dari beton yang berada di bukit di utara Bandung yang diperuntukkan sebagai tempat penyimpanan bekas bom). Hal lain yang saya temukan adalah “kapetengan” yang berarti penjaga malam, semacam polisi masa lalu, penjaga.

Baca Juga: Pelangi Ratu Elizabeth II dalam Paririmbon Sunda

Dengan demikin, kata “peteng” dalam bahasa Sunda sejak dulu bertaut dengan pertahanan baik militer maupun sipil. Bukti lain yang memperkuat pengertian tersebut antara lain saya peroleh dari koran Sipatahoenan (7 Septeber 1938). Di situ ada berita tentang bangunan-bangunan di sekitar Cicadas, Bandung, antara lain Gedong Peteng di Bojongkoneng.

Di situ tertulis, “.. djalan Engelen kapan sakitoe dihade2na koe Genie, da DVO perloe keur ngangkoetan roepa2 pakakas perang ka Gedong Peteng di Bodjong Koneng” (Jalan Engelen demikian dirawat oleh pasukan zeni, sebab departemen peperangan memerlukannya untuk mengangkut berbagai perkakas perang ke Gedong Peteng di Bojongkoneng).

Bisa jadi Gedong Peteng yang dimaksudkan Danadibrata sama dengan yang ditulis dalam Sipatahoenan. Sama-sama berada di daerah Bandung sebelah utara. Namun, ada juga kemungkinan berbeda, sebab misalnya bukan hanya satu yang didirikan di Bandung utara. Tetap saja, Gedong Peteng maksud Danadibrata dan Sipatahoenan sama-sama tempat menyimpan persenjataan.

Baca Juga: Perihal RUU Sisdiknas dan Kesejahteraan Guru

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Invasi Rusia di Ukraina Menuju Tahap Akhir

Kamis, 22 September 2022 | 20:11 WIB

Memahami Tatib Sekolah dengan Menjadi Reporter

Selasa, 20 September 2022 | 21:15 WIB

Citisuk

Senin, 19 September 2022 | 15:35 WIB

Indische Partij Cabang Cicalengka Tahun 1913

Minggu, 18 September 2022 | 14:51 WIB

Bogor Menjadi Destinasi Favorit yang Harus Dibenahi

Rabu, 14 September 2022 | 21:13 WIB

Kompi Artileri ke-19 di Nagreg sejak 1905

Minggu, 11 September 2022 | 14:19 WIB

Pelangi Ratu Elizabeth II dalam Paririmbon Sunda

Minggu, 11 September 2022 | 07:00 WIB

Perihal RUU Sisdiknas dan Kesejahteraan Guru

Minggu, 11 September 2022 | 06:00 WIB

KurMer dalam Falsafah Jawa: Mamayu Hayuning Bawana

Jumat, 9 September 2022 | 16:25 WIB

Raja Surakarta Kunjungi Hotel Isola

Jumat, 9 September 2022 | 15:44 WIB

Cinambo Semula Berupa Dasar Sungai

Kamis, 8 September 2022 | 21:32 WIB

Galang Rambu Anarki, BBM, dan Regsosek

Rabu, 7 September 2022 | 16:01 WIB
X