Wacana Sorgum sebagai Alternatif Pengganti Gandum

- Rabu, 7 September 2022 | 15:30 WIB
Pemerintah mendorong sorgum menjadi alternatif pengganti gandum. Namun, masih banyak kendala penanaman sorgum. (Pixabay/Bishnu Sarangi)
Pemerintah mendorong sorgum menjadi alternatif pengganti gandum. Namun, masih banyak kendala penanaman sorgum. (Pixabay/Bishnu Sarangi)

Pemerintah mendorong sorgum menjadi alternatif pengganti gandum. Namun, masih banyak kendala penanaman sorgum.

Seperti yang kita ketahui bersama, konflik antara Rusia dan Ukraina masih berlanjut hingga saat ini. Dampak yang terjadi tidak hanya dirasakan oleh kedua negara, tetapi juga dirasakan oleh seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Rusia dan Ukraina masuk dalam 10 negara penghasil gandum terbesar di dunia. Salah satu dampak yang dirasakan dari konflik kedua negara tersebut yaitu terhambatnya distribusi bahan baku pangan. Bahkan negara lain sampai mengurangi ekspor pangan mereka ke negara lain karena takut stok negara mereka kurang.

Ukraina merupakan negara terbesar kedua pemasok gandum dan meslin (tepung gandum) bagi Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, selama rentang Januari sampai November 2021, impor gandum dan tepung gandum Indonesia mencapai 10,74 juta ton atau senilai 3,3 miliar USD.

Negara importir terbesar bagi Indonesia yaitu Australia dimana jumlah gandum dan meslin yang diimpor mencapai 4,42 juta ton atau senilai 1,37 miliar USD. Jumlah tersebut sama dengan 41,09% dari total impor gandum Indonesia. Sedangkan jumlah gandum dan meslin yang diimpor dari Ukraina sebesar 2,76 juta ton atau 25,68% dari total impor gandum Indonesia dengan nilai impor 821 juta USD.

Baca Juga: Gandum hingga Kimchi, 10 Makanan Ini Baik bagi Kesehatan Usus

Ketergantungan impor gandum Indonesia terhadap Ukraina berdampak pada harga pangan olahan berbahan gandum. Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) menimbang rencana untuk menaikkan harga pangan olahan berbahan baku gandum menyusul terhambatnya pasokan impor akibat perang Rusia-Ukraina. Harga pangan olahan yang berpotensi naik diantaranya mie instan, tepung terigu, roti, dan kue.

Data terbaru dari World Instant Noodles Association (WINA) mencatat daftar negara dengan konsumsi mie instan terbanyak di dunia. Berdasarkan data per 11 Mei 2021, China dan Hongkong berada di urutan pertama sebagai negara dengan konsumsi mie instan terbanyak di dunia, disusul Indonesia di urutan kedua.

Sepanjang 2020, konsumsi mie instan di Indonesia mencapai 12.640 juta porsi. Hal tersebut tidak mengherankan mengingat masyarakat Indonesia sangat familiar dengan mie instan. Makanan tersebut bahkan telah menjadi menu masakan sehari-hari apalagi dengan banyaknya jenis varian mie instan yang beredar di Indonesia.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Invasi Rusia di Ukraina Menuju Tahap Akhir

Kamis, 22 September 2022 | 20:11 WIB

Memahami Tatib Sekolah dengan Menjadi Reporter

Selasa, 20 September 2022 | 21:15 WIB

Citisuk

Senin, 19 September 2022 | 15:35 WIB

Indische Partij Cabang Cicalengka Tahun 1913

Minggu, 18 September 2022 | 14:51 WIB

Bogor Menjadi Destinasi Favorit yang Harus Dibenahi

Rabu, 14 September 2022 | 21:13 WIB

Kompi Artileri ke-19 di Nagreg sejak 1905

Minggu, 11 September 2022 | 14:19 WIB

Pelangi Ratu Elizabeth II dalam Paririmbon Sunda

Minggu, 11 September 2022 | 07:00 WIB

Perihal RUU Sisdiknas dan Kesejahteraan Guru

Minggu, 11 September 2022 | 06:00 WIB

KurMer dalam Falsafah Jawa: Mamayu Hayuning Bawana

Jumat, 9 September 2022 | 16:25 WIB

Raja Surakarta Kunjungi Hotel Isola

Jumat, 9 September 2022 | 15:44 WIB

Cinambo Semula Berupa Dasar Sungai

Kamis, 8 September 2022 | 21:32 WIB

Galang Rambu Anarki, BBM, dan Regsosek

Rabu, 7 September 2022 | 16:01 WIB
X