Menyoal Copyrights, Tidak Asal Menerbitkan Karya Terjemahan

- Kamis, 1 September 2022 | 15:47 WIB
Pameran Buku Bung Karno, di Gedung Indonesia Menggugat, Kota Bandung | Persoalan copyrights jadi salah satu dilema bagi dunia perbukuan yang kerap menghadapi kendala tingginya biaya produksi dan minimnya modal. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)
Pameran Buku Bung Karno, di Gedung Indonesia Menggugat, Kota Bandung | Persoalan copyrights jadi salah satu dilema bagi dunia perbukuan yang kerap menghadapi kendala tingginya biaya produksi dan minimnya modal. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

Persoalan copyrights jadi salah satu dilema bagi dunia perbukuan yang kerap menghadapi kendala tingginya biaya produksi dan minimnya permodalan.

Pada 2014-2015, Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) sukses menyelenggarakan Indonesia International Book Fair (IIBF). Sebagaimana dilansir website resmi IIBF (www.iibf.id), pameran tersebut berfokus pada transaksi hak cipta, khususnya karya buku.

Dalam kegiatan ini, para penerbit dari dalam dan luar negeri dapat memamerkan buku-bukunya dan melakukan transaksi hak cipta (copyrights) dengan penerbit lain atau pemilik naskah untuk melakukan penerbitan bersama (co-publishing).

Acara bergengsi tersebut bisa dimanfaatkan sebagai ruang bagi para penerbit untuk saling bertukar informasi. Sejumlah penerbit dalam dan luar negeri yang ikut bergabung dalam kegiatan tersebut di antaranya Penerbit ITB, Remaja Rosda Karya, Penerbit Erlangga, Rumah Pensil, Bumi Aksara, Gramedia Publishers, Zikrul Bestari, Perbadanan Kota Buku Malaysia, Saudi Cultural Mission in Malaysia and Indonesia, Asean Book Publishers Association (ABPA), dan penerbit lainnya dari 11 negara peserta IIBF.

Baca Juga: Eropa Cari Formula Damai Baru karena Lelah dengan Perang di Ukraina

Dalam kegiatan IIBF biasanya disemarakkan dengan berbagai acara seperti pada IIBF 2015 lalu. Kegiatan tersebut berupa “Sharing Session” yang membahas perkembangan industri perbukuan di Korea dan peluang yang dapat dilakukan dalam rangka membangun kerja sama antara penerbit Korea dan Indonesia.

Salah seorang panitia IIBF, Rosidayati Rozalina, waktu itu merasa bersyukur pihaknya didukung oleh banyak pihak, terutama dari Pemerintah RI. Ia juga mengapresiasi pihak Korea yang berkenan menjadi Tamu Kehormatan IIBF 2015 dan mengagendakan sejumlah acara menarik.

Dalam even IIBF 2015, panitia mengumumkan penerima “IKAPI Award”, yakni kategori “Buku Terbaik”. Penghargaan diberikan kepada novel Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan. Sementara untuk kategori “Media Pendukung Kemajuan Literasi Indonesia”, penghargaan diberikan kepada Kelompok Media Republika (www.iibf.id).

Baca Juga: Muslim Akademis Apolitis, Sebuah Simbol Penghambat Kemajuan Peradaban Islam

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Wabah Sampar di Cicalengka Tahun 1932-1938

Jumat, 25 November 2022 | 19:10 WIB

Cieundeur dan Gempa Cianjur

Jumat, 25 November 2022 | 15:06 WIB

Membangun Budaya Inovasi ASN di Indonesia

Kamis, 24 November 2022 | 14:20 WIB

Kurir Shopee Diduga Maling Helm di Sarijadi

Kamis, 24 November 2022 | 11:34 WIB

Menyeruput (Kisah di Balik) Kesegaran Es Oyen

Rabu, 23 November 2022 | 14:50 WIB

Kehidupan LGBT dalam Perspektif Sosiologi

Rabu, 23 November 2022 | 10:24 WIB

Gempa Cianjur dan Piala Dunia

Selasa, 22 November 2022 | 12:22 WIB

Miskonsepsi IPA dan IPS dalam Dunia Pendidikan

Selasa, 22 November 2022 | 10:50 WIB

Lika-Liku Pejuang Rupiah pada Masa Kini

Senin, 21 November 2022 | 18:26 WIB

Toponimi Mengawetkan Kata Selama Ribuan Tahun

Jumat, 18 November 2022 | 13:56 WIB
X