Nasionalisme Terhenti di Proklamasi?

- Jumat, 19 Agustus 2022 | 15:44 WIB
Upacara pengibaran bendera merah putih raksasa di Geotheater Tebing Hawu, Padalarang | Nasionalisme adalah penyerahan diri sepenuhnya, termasuk nyawa, individu kepada negara. Boleh dibilang tak kemerdekaan tanpa nasionalisme. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)
Upacara pengibaran bendera merah putih raksasa di Geotheater Tebing Hawu, Padalarang | Nasionalisme adalah penyerahan diri sepenuhnya, termasuk nyawa, individu kepada negara. Boleh dibilang tak kemerdekaan tanpa nasionalisme. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

Nasionalisme adalah penyerahan diri sepenuhnya, termasuk nyawa, individu kepada negara. Boleh dibilang tak ada kemerdekaan tanpa nasionalisme. Baik  kemerdekaan yang dicapai melalui diplomasi atau pertumpahan darah.    

Ironisnya, semangat nasionalisme itu memudar ketika kemerdekaan telah dicapai. Seolah kemerdekaan merupakan akhir, padahal sesungguhnya merupakan awal atau gerbang menuju tercapainya cita-cita bangsa. Masyarakat adil dan makmur.

Dalam kondisi demikian tidak heran bila pemerintah-pemerintah kolonial yang sejatinya merupakan penjajah melanjutkan penjajahan. Bukan lagi melalui pertempuran namun dengan mempengaruhi pemikiran para elit dan masyarakat.  

Penjajah datang lagi dengan wajah yang lebih menusiawi dan bersahabat. Mereka mengajak para pemimpin negara berkembang bersama-sama membangun. Tak heran bila Belanda, Jepang, Inggris diterima baik.

Salah satu cara yang ditawarkan adalah mengundang generasi muda untuk belajar di negeri penjajah. Para mahasiswa itu mendapat kawan, ilmu pengetahuan, budaya atau pola pikir dan gaya hidup.   

Mereka membawa semuanya kembali ke Tanah Air. Lalu menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh. Apalah pengetahuan itu sesuai  atau tidak, yang pasti ujungnya melayani kepentingan dan tujuan penjajah.

Resep Yang Salah?

Strategi pembangunan yang berorientasi kepada pertumbuhan ekonomi. Memerlukan investasi dan pinjaman asing. Negara penjajah memberi keduanya dengan mengajukan syarat-syarat tertentu yang cenderung mengikat dan memberatkan.

Siapa bilang utang atau pinjaman tidak mengikat? Siapa bilang negara penjajah tidak selektif menempatkan investasinya? Mereka cenderung menempatkan sunset industry, seperti industry sepeda motor atau investasi yang berteknologi madya ke bawah.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Hidup Jangan Kebanyakan Sambat

Selasa, 4 Oktober 2022 | 16:26 WIB

Sosiopreneur Generasi Milenial melalui Agroedupark

Selasa, 4 Oktober 2022 | 15:40 WIB

Bahan Bangunan dari Cicalengka (1907-1941)

Senin, 3 Oktober 2022 | 16:01 WIB

Penguatan Status Kepegawaian Perangkat Desa

Minggu, 2 Oktober 2022 | 07:00 WIB

Mari Memperbanyak Boks Buku di Stasiun Kereta Api!

Kamis, 29 September 2022 | 11:27 WIB

Invasi Rusia di Ukraina Menuju Tahap Akhir

Kamis, 22 September 2022 | 20:11 WIB

Memahami Tatib Sekolah dengan Menjadi Reporter

Selasa, 20 September 2022 | 21:15 WIB

Citisuk

Senin, 19 September 2022 | 15:35 WIB

Indische Partij Cabang Cicalengka Tahun 1913

Minggu, 18 September 2022 | 14:51 WIB
X