Mengenang Penerbangan Perdana, Pesawat Penumpang N-250 Gatotkaca

- Selasa, 9 Agustus 2022 | 15:54 WIB
Penerbangan perdana pesawat penumpang N-250 Gatotkaca yang pembuatannya dilakukan sejak 1986, ialah pesawat tercanggih pada masanya.  (Ayobandung.com/Nur Khansa Ranawati)
Penerbangan perdana pesawat penumpang N-250 Gatotkaca yang pembuatannya dilakukan sejak 1986, ialah pesawat tercanggih pada masanya. (Ayobandung.com/Nur Khansa Ranawati)

Di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, Indonesia mencatat prestasi. (1) Rata-rata pertumbuhan ekonomi enam persen setahun, jumlah penduduk miskin menurun meskipun jurang penduduk berpendapatan rendah dengan paling tinggi melebar. (2) Berhasil mewujudkan swa sembada pangan. (3) Indonesia sangat berpengaruh dalam berbagai organisasi regional maupun internasional. Mulai dari ASEAN hingga Organisasi Konferensi Islam dan Non-Blok. Yang juga fenomenal adalah kunjungan Presiden Soeharto ke Bosnia-Herzegovina yang sedang dilanda perang pada 13 Maret 1995.

Sekalian prestasi tersebut ingin dilengkapi dengan apa yang berlangsung di Bandara Husein Sastranegara, Bandung pada 10 Agustus 1995, yakni penerbangan perdana pesawat penumpang N-250 Gatotkaca yang pembuatannya dilakukan sejak 1986.

Pesawat yang menggunakan teknologi fly by wire tersebut merupakan yang tercanggih pada masa itu.

Dalam acara yang dapat dilihat pada You Tubet,  pak Harto tampak sumringah. Telah tercapai, cita-citanya membuat produk yang inovatif dan bernilai tambah serta  cocok untuk negara kepulauan.

Sejak saat itu Indonesia termasuk dalam klub negara-negara yang mampu membuat pesawat terbang. Mayoritas anggota klub ini adalah negara-negara maju yang notabene berstatus penjajah. Sedangkan Indonesia adalah bekas negara jajahan yang bersama India dan lain-lain memimpin Gerakan Non Blok.  

Jadi keberhasilan penerbangan perdana N-250 dan pemilikan industri pesawat terbang merupakan terobosan besar. Negara bekas jajahan duduk dalam  klub yang eksklusif itu.

Baca Juga: N-250, Muara Kebanggaan dan Air Mata

Keberhasilan tersebut merupakan warning bagi negara-maju yang tidak ingin dominasinya terganggu. Sekurang-kurangnya ada tiga industri yang menurut mereka tidak boleh diganggu gugat. Dua diantaranya industri pesawat terbang dan energi.

Kondisi seperti di atas memungkinkan adanya dugaan konspirasi yang menghancurkan visi Presiden Soeharto. Konspirasi itu diselipkan dalam Letter of Intent (LOI) IMF.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Memahami Diri dan Orang Lain dengan Komedi Putar

Kamis, 6 Oktober 2022 | 14:45 WIB

Nama Bangunan yang Menjadi Nama Desa dan Kelurahan

Rabu, 5 Oktober 2022 | 16:41 WIB

Hidup Jangan Kebanyakan Sambat

Selasa, 4 Oktober 2022 | 16:26 WIB

Sosiopreneur Generasi Milenial melalui Agroedupark

Selasa, 4 Oktober 2022 | 15:40 WIB

Bahan Bangunan dari Cicalengka (1907-1941)

Senin, 3 Oktober 2022 | 16:01 WIB

Penguatan Status Kepegawaian Perangkat Desa

Minggu, 2 Oktober 2022 | 07:00 WIB

Mari Memperbanyak Boks Buku di Stasiun Kereta Api!

Kamis, 29 September 2022 | 11:27 WIB

Invasi Rusia di Ukraina Menuju Tahap Akhir

Kamis, 22 September 2022 | 20:11 WIB

Memahami Tatib Sekolah dengan Menjadi Reporter

Selasa, 20 September 2022 | 21:15 WIB
X