Belum Semua Ibu di Indonesia Memberikan ASI Ekslusif

- Senin, 8 Agustus 2022 | 19:10 WIB
Ilustrasi ibu dan anak | ASI merupakan sumber nutrisi yang penting bagi pertumbuhan bayi. Semua bayi memiliki hak yang sama untuk memperoleh ASI. (Pixabay/Endho)
Ilustrasi ibu dan anak | ASI merupakan sumber nutrisi yang penting bagi pertumbuhan bayi. Semua bayi memiliki hak yang sama untuk memperoleh ASI. (Pixabay/Endho)

Air Susu Ibu (ASI) merupakan sumber nutrisi yang penting bagi pertumbuhan bayi. Semua bayi yang terlahir ke dunia memiliki hak yang sama untuk memperoleh ASI.

Namun, pada kenyataannya tidak semua ibu dapat memberikan ASI ekslusif kepada bayi mereka.

Merujuk pada data Profil Statistik Kesehatan yang dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik tahun 2021, sekitar 71,58 persen bayi berusia kurang dari 6 bulan menerima ASI ekslusif dari ibunya. Artinya masih terdapat sekitar 28,42 persen bayi berusia kurang dari 6 bulan yang tidak menerima ASI ekslusif.

Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Meskipun besaran persentase bayi yang menerima ASI ekslusif meningkat dibandingkan tahun 2020 (69,62 persen) dan tahun 2019 (66,69 persen), namun peningkatan ini dirasa belum cukup signifikan.

Padahal memberikan ASI secara eksklusif kepada bayi sama artinya dengan memenuhi kebutuhan dasar seorang bayi akan kebutuhan makanan yang bergizi. Dan apabila kebutuhan tersebut dapat tercukupi maka tumbuh kembang bayi dapat berjalan optimal.

Lantas apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan persentase bayi yang menerima ASI eksklusif di Indonesia?

Edukasi pemberian ASI eksklusif

Edukasi merupakan kunci sukses pemberian ASI esklusif. Edukasi pemberian ASI eksklusif tidak hanya diberikan kepada ibu, tetapi juga kepada calon ibu dan keluarga terdekat. Edukasi harus dilakukan secara masif dan berkelanjutan sehingga meningkatkan pemahaman tentang manfaat dan pentingnya ASI ekslusif.

Pemahaman ibu yang baik akan membantu bayi tercukupi kebutuhan ASI-nya, sehingga terhindar dari status kekurangan gizi. Kondisi yang apabila tidak ditangani secara tepat, dapat berakibat pada terjadinya stunting atau kekurangan gizi kronis.  

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Memahami Diri dan Orang Lain dengan Komedi Putar

Kamis, 6 Oktober 2022 | 14:45 WIB

Nama Bangunan yang Menjadi Nama Desa dan Kelurahan

Rabu, 5 Oktober 2022 | 16:41 WIB

Hidup Jangan Kebanyakan Sambat

Selasa, 4 Oktober 2022 | 16:26 WIB

Sosiopreneur Generasi Milenial melalui Agroedupark

Selasa, 4 Oktober 2022 | 15:40 WIB

Bahan Bangunan dari Cicalengka (1907-1941)

Senin, 3 Oktober 2022 | 16:01 WIB

Penguatan Status Kepegawaian Perangkat Desa

Minggu, 2 Oktober 2022 | 07:00 WIB

Mari Memperbanyak Boks Buku di Stasiun Kereta Api!

Kamis, 29 September 2022 | 11:27 WIB

Invasi Rusia di Ukraina Menuju Tahap Akhir

Kamis, 22 September 2022 | 20:11 WIB

Memahami Tatib Sekolah dengan Menjadi Reporter

Selasa, 20 September 2022 | 21:15 WIB
X