Cicalengka dalam Buku Panduan Perjalanan Tahun 1891-1930

- Jumat, 5 Agustus 2022 | 15:24 WIB
Dua buku pertama yang membahas panduan perjalanan ke Cicalengka. Masing-masing karya M. Buys (1891) dan L.F.M. Schulze (1894).  (Sumber: Delpher.nl.)
Dua buku pertama yang membahas panduan perjalanan ke Cicalengka. Masing-masing karya M. Buys (1891) dan L.F.M. Schulze (1894). (Sumber: Delpher.nl.)

Sejak paruh kedua abad ke-19 hingga paruh pertama abad ke-20, Cicalengka kerap termaktub dalam buku-buku panduan perjalanan, terutama untuk para pembaca Eropa serta bangsa lain yang termasuk orang asing.

Maksudnya untuk orang Eropa, terutama Belanda, dan orang-orang dari luar negeri yang sengaja hendak melakukan perjalanan ke Priangan, atau hanya lewat saja untuk menuju ke Jawa Tengah dan Jawa Timur melalui jalur selatan.

Buku-bukunya sendiri ada yang ditulis dalam bahasa Belanda, Inggris, dan ada pula dalam bahasa Melayu Tionghoa. Latar belakang kemunculan buku-buku semacam itu erat kaitannya dengan mulai kerapnya orang Belanda dan orang asing yang melawat ke Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Itu merupakan suatu tradisi grand tour, yaitu perjalanan untuk proses pengajaran di kalangan bangsawan Inggris, Prancis, Jerman, dan Eropa umumnya (Achmad Sunjayadi, Pariwisata di Hindia Belanda, 1891-1942, 2019).

Pembukaan wilayah Priangan untuk kalangan asing atau swasta, sejak tahun 1870, jadi penyebab banyaknya pelancong yang berwisata atau paling tidak menceritakan Cicalengka dalam buku catatan perjalanan atau panduan perjalanan yang disusunnya. Apalagi transportasi ke Cicalengka kian dipermudah dengan dibukanya jalur kereta api Cianjur-Bandung sejak tahun 1884 dan Cicalengka-Garut pada tahun 1889.

Baca Juga: Societeit Soekasari di Cicalengka antara Tahun 1891 hingga 1941

Menurut Sunjayadi (2019), buku panduan perjalanan atau buku panduan wisata pertama di Hindia, sekaligus yang menyebut-nyebut Cicalengka, adalah Batavia, Buitenzorg en de Preanger: Gids voor Bezoekers en Toeristen (1891) karya M. Buys. Tiga tahun kemudian terbit buku panduan bertajuk West Java: Traveller’s Guide for Batavia to Tjilatjap (1894) karya L.F.M. Schulze.

Selain kedua buku tersebut, saya dapat membuka-buka buku-buku berjudul Reisgids voor Nederlandsch-Indie (1902), Boekoe Penoendjoek Djalan boeat Plesiran di Kota Bandoeng dan Daerahnja (tanpa tahun dan tanpa penulis), Gids voor Bandoeng (1908) karya W.O.I. Nieuwenkamp, Java the Wonderland (1908), Gids van Bandoeng en omstreken (1921) karya S.A. Reitsma dan W.H. Hoogland, Gids van Bandoeng en Midden-Priangan (1927) karya S.A. Reitsma dan W.H. Hoogland, Mooi Bandoeng: Gids voor Bandoeng en Omstreken (1930) karya F.B. Jantzen, dan Van Stockum's Travellers Handbook for the Dutch East Indies (1930) karya S.A. Reitsma.

Cicalengka Akhir Abad ke-19

Apa saja yang dilihat dan digambarkan oleh para penulis buku panduan perjalanan di Cicalengka? Saya akan memulainya dari dua buku yang paling awal, yakni karya Buys (1891) dan Schulze (1894).

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Budaya Kekerasan

Selasa, 7 Februari 2023 | 12:17 WIB

Lato Lato dan Politik

Senin, 6 Februari 2023 | 12:35 WIB

Babah Liem Siang alias Munada

Senin, 6 Februari 2023 | 10:44 WIB

Efek Kecanduan Game Online

Selasa, 31 Januari 2023 | 15:06 WIB

Jejak Pelaut Belanda dan Inggris di Benua Australia

Senin, 30 Januari 2023 | 10:36 WIB

Warga Kampung Naga Harmoni di Keluk Ci Wulan

Sabtu, 28 Januari 2023 | 14:20 WIB

Mewaspadai Konflik Terbuka di Asia Pasifik

Rabu, 25 Januari 2023 | 13:55 WIB

Mewujudkan Indonesia Emas dengan Memberantas Stunting

Selasa, 24 Januari 2023 | 10:54 WIB

Imlek: Merawat Kebhinekaan, Meneguhkan Keindonesiaan

Senin, 23 Januari 2023 | 18:20 WIB

Potret ‘Pengemis Online’ yang Meresahkan

Senin, 23 Januari 2023 | 16:51 WIB
X