Citayeum, Citayem, dan Citayam

- Kamis, 4 Agustus 2022 | 16:50 WIB
Dua Situ di kawasan Citayam yang terdapat pada peta lembar Tjipajoeng, yang diterbitkan di Batavia oleh Topographisch Bureau, pada tahun 1901. (Topographisch Bureau)
Dua Situ di kawasan Citayam yang terdapat pada peta lembar Tjipajoeng, yang diterbitkan di Batavia oleh Topographisch Bureau, pada tahun 1901. (Topographisch Bureau)

Kawasan Citayam seperti yang terdapat pada peta Lembar Tjipajoeng–Cipayung (diperbaiki tahun 1899-1900), umumnya masih berupa lahan persawahan, dan di sana terdapat situ, ranca, danau alami, dan rawa.

Ada dua situ di kawasan Citayam yang luas keseluruhannya mencapai 1.600 m persegi. Masih ada beberapa situ di sekeliling kawasan ini. Kedua situ itu adalah Situ Citayam (1), lokasinya di sebelah barat stasiun Citayam. Situnya masih ada sampai sekarang, walau pun panjang situnya sudah berkurang 100 m.

Kedua Situ Citayam (2), lokasinya di sebelah timur stasiun Citayam. Batas utara situ di sekitar Jl Utan Jaya, di sana lebar situnya 140 m. Untuk mendapatkan gambaran, di tengah-tengah situ sepanjang 850 m yang membujur utara-selatan itu saat ini sudah padat oleh permukiman. Sebagai penanda, di sana ada Gang Balong 1 dan Gang Balong 2.

Dengan mengetahui keadaan karakter bumi Citayam pada masa lalu, memberikan pemahaman, pantas saja kawasan ini dinamai Citayeum pada masa lalu, yang kemudian berubah menjadi Citayam seperti yang ditulis pada peta yang terbit pada abad ke-19.

Keadaan ini dapat memberikan gambaran karakter bumi kawasan Citayam saat itu, yang berupa persawahan dan situ. Di selatan-tenggara Citayam, terdapat nama geografi Bojonggedé, yang semakin menguatkan, bahwa kawasan ini semula berupa kawasan berair yang luas, dan terdapat bojong atau tanjung yang luas. Secara alamiah, di kawasan itu terdapat tanah darat berupa tanjung, tanah ujung yang luas, yang menganjur ke kawasan berair yang luas pula.

Sangat mungkin, Citayam inilah yang dilalui oleh tohaan pengelana dari Kerajaan Sunda pada awal abad ke-16. Karena kangen kepada ibunda, Bujangga Manik yang sudah bertahun-tahun berjalan ke timur untuk menziarahi tempat-tempat yang sakral, ia pulang dengan menaiki perahu dari Pemalang sampai di pelabuhan Kalapa.

Baca Juga: Kekeliruan Penulisan Nama Geografi yang Diwariskan

Setelah melewati pabean, ia terus berjalan ke selatan melewati beberapa tempat, kemudian menyebrangi Ci Haliwung, sampailah di Pakeun Tumbuy, terus berjalan melewati Pakeun Tayeum, terus berjalan menuju ke Pakancilan.

Perjalanan Bujangga Manik menyusuri Pulau Jawa itu terdapat dalam buku Tiga Pesona Sunda Kuna, hasil penelitian J Noorduyn dan A Teeuw (2009).

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Nama Mahluk Halus Jadi Nama Geografi

Rabu, 17 Agustus 2022 | 16:18 WIB

Sudah Menjaga Pola Makan, Kenapa Masih Sering Sakit?

Selasa, 16 Agustus 2022 | 21:15 WIB

Raden Dewi Sartika di Cicalengka (1894-1902)

Senin, 15 Agustus 2022 | 16:33 WIB

Nama Geografi Menjadi Istilah Geomorfologi Khas Sunda

Sabtu, 13 Agustus 2022 | 13:55 WIB

Wisata dari Titik Nol Bandung

Senin, 8 Agustus 2022 | 20:11 WIB

Penempatan Siswa di Kelas berdasar Gaya Belajar

Senin, 8 Agustus 2022 | 19:45 WIB

Paypal Diblokir, Bagaimana Nasib para Freelancer?

Senin, 8 Agustus 2022 | 15:19 WIB

Mari Kita Sukseskan Desa Cantik

Jumat, 5 Agustus 2022 | 09:51 WIB

Citayeum, Citayem, dan Citayam

Kamis, 4 Agustus 2022 | 16:50 WIB
X