Ngadu Bagong Saat Peresmian Stasiun Cicalengka Tahun 1884

- Jumat, 15 Juli 2022 | 16:43 WIB
Bagian belakang Stasiun Cicalengka yang diabadikan K. Kroitzsch antara 1900-1910.  (Sumber: TM-10014024, collectie.wereldculturen.nl)
Bagian belakang Stasiun Cicalengka yang diabadikan K. Kroitzsch antara 1900-1910. (Sumber: TM-10014024, collectie.wereldculturen.nl)

Kontes ngadu bagong atau mengadu babi hutan dengan anjing ternyata sudah lama dilakukan oleh orang Sunda.

Saya mendapatkan bukti tertulisnya dari cerita epik pantun Sunda yang khas lisan, sebagaimana dibukukan oleh G.J. Grashuis dalam Soendanesche Bloemlezing: Legenden en Moslimsche Leerboekjes (1891: 15).

Di dalam buku tersebut dimuat ringkasan pantun Sunda bertajuk “Tjarita Langon Sari” ada kutipan terkait ngadu bagong. Inilah cutatannya: “Bareng gus kitoe guwat Ratoe miwarang sadija djolian kantjana doewa, noe hidji kur Nji Soemoer Bandoeng, noe hidji kur poetrana. Gus sadija, toeloej sawarėh ka Soemoer Bandoeng, sawarėh ka poetra Ratoe. Gantjangna gus daratang baé kabèh; der pèsta, ngadoekun sagala-gala, noe aja di nagara kabèh, dikoempoelkun. Ngadoe maoeng, ngadoe bagong, maèn reboetan.”

Artinya: Setelah itu raja segera memerintahkan agar disediakan dua joli kencana, satu untuk Nyi Sumur Bandung, satu lagi buat putranya. Setelah tersedia, kemudian sebagian menemani Sumur Bandung dan sebagian lainnya mengawani putra raja. Tidak lama kemudian rombongan sudah tiba semua; pesta pun diadakan, mengadakan adu-aduan, semua yang ada di kerajaan dikumpulkan. Adu harimau, adu babi hutan, main rebutan.”

Dalam pustaka lainnya seperti Volksalmanak Soenda 1918 (1918: 128) ada kutipan demikian, “Aja ngadoekeun maoeng djeung moending, ngadoe domba, ngadoe bagong , djeung ti peutingna aja najoeban di kaboepatèn nepi ka poekoel 8 beurang” (Ada yang mengadu harimau dan kerbau, adu domba, adu babi hutan, dan malamnya diadakan tayuban di kabupaten hingga pukul delapan pagi).

Dalam majalah Poesaka Soenda edisi Juni 1924 ada juga gambarannya, yaitu: “Di dajeuh poean lebaran teh raramean sodor senenan. Menak-menak sakaboepaten toengkeb ka nagara, di aloen-aloen rame maen reboetan, ngadoe domba, ngadoe bagong, djeung sadjaba ti eta” (Di kota, hari lebaran kerap diadakan perhelatan sodor dan senenan. Kaum bangsawan sekabupaten tungkeb ke kota, di alun-alun ramai orang yang main rebutan, adu domba, adu babi hutan, dan sebagainya).

Laporan peresmian jalur Bandung-Cicalengka yang dimeriahkan dengan pesta rakyat di Alun-alun Cicalengka, termasuk ngadu bagong. (Sumber: De Locomotief, 16 September 1884.)

Dari berbagai kutipan pustaka lama di atas, saya jadi sadar bahwa selain sudah lama dilakukan oleh orang, ngadu bagong terpaut erat dengan pesta-pesta, terutama yang diselenggarakan oleh pihak kerajaan atau penguasa kabupaten.

Meskipun tidak menutup kemungkinan diselenggarakan di tingkat desa, seperti yang saya temukan dalam rekaman koran Sipatahoenan edisi 13 Oktober 1938. Dalam berita bertajuk “Pesta derma Selasari” di Ciamis, disebutkan untuk mengumpulkan derma pada 15-16 Oktober 1938 pihak Desa Selasari, Distrik Pangandaran, hendak menyelenggarakan berbagai perhelatan.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Hidup Jangan Kebanyakan Sambat

Selasa, 4 Oktober 2022 | 16:26 WIB

Sosiopreneur Generasi Milenial melalui Agroedupark

Selasa, 4 Oktober 2022 | 15:40 WIB

Bahan Bangunan dari Cicalengka (1907-1941)

Senin, 3 Oktober 2022 | 16:01 WIB

Penguatan Status Kepegawaian Perangkat Desa

Minggu, 2 Oktober 2022 | 07:00 WIB

Mari Memperbanyak Boks Buku di Stasiun Kereta Api!

Kamis, 29 September 2022 | 11:27 WIB

Invasi Rusia di Ukraina Menuju Tahap Akhir

Kamis, 22 September 2022 | 20:11 WIB

Memahami Tatib Sekolah dengan Menjadi Reporter

Selasa, 20 September 2022 | 21:15 WIB

Citisuk

Senin, 19 September 2022 | 15:35 WIB

Indische Partij Cabang Cicalengka Tahun 1913

Minggu, 18 September 2022 | 14:51 WIB
X