Ronabumi yang Tercermin dalam Nama Geografi

- Jumat, 8 Juli 2022 | 14:50 WIB
Peta yang memperlihatkan keadaan ronabumi daerah Tanggeung dengan Gunung Bengbreng (Kabupaten Cianjur, Jawa Barat), yang membentang arah barat – timur. (T.Bachtiar)
Peta yang memperlihatkan keadaan ronabumi daerah Tanggeung dengan Gunung Bengbreng (Kabupaten Cianjur, Jawa Barat), yang membentang arah barat – timur. (T.Bachtiar)

Di Kelurahan Karangpamulang, Kecamatan Mandalajati, Kota Bandung, Jawa Barat, ada nama geografi Nyublek. Di tempat lainnya ada nama geografi Legok, seperti di Cibogo, dan di Pasteur.

Menurut R Satjadibrata (2005) dalam Kamus Basa Sunda, lema nyublek itu sama dengan legok (patempatan). Sedangkan lema legok berarti tempat nu leuwih handap batan tempat sakurilingna, tempat yang berada di daerah yang lebih rendah dibandingkan dengan kawasan di sekelilingnya. Umumnya ronabuminya cekung.

Di beberapa tempat, daerah yang berupa legok atau nyumblek, biasanya menjadi sumber mata air, karena mataair akan ke luar di sana, demikian juga air permukaan akan mengalir ke tempat yang lebih rendah. Ada juga nama geografi Legokbadak (legok yang menjadi tempat berkubangnya badak), Legokpicung (di pinggir legok ditumbuhi pohon kepayang).

Ada juga nama lempat Lebak. Rona buminya sama, berada di lembah, di tempat yang lebih rendah dibandingkan dengan daerah sekelilingnya. Bila keadaan ronabumi menjadi daerah yang lebih rendah, baik berupa legok atau pun nyublek, diketahui prosesnya, apakah karena ambles atau pun gerakan tanah, maka ada nama geografi Lemahneundeut, daerah yang nendat, yang ambles sambil bergerak ke daerah yang lebih rendah.

Nama untuk ronabumi yang cekung, ada juga nama-nama lain, sesuai dengan perkembangan bahasa, budaya, dan perlengkapan, sehingga nama-nama geografi itu tersebar di berbagai daerah, seperti: Cisolok, Cangkorah, Salopa, Sikajadi, Gentong, Cijolang, Pariuk, Cipariuk, Legon, dan Cilegon.

Baca Juga: Inflasi dan Pasar Saham Indonesia

Di tempat ke luarnya air alami, atau mataair, dalam bahasa Sunda ada yang menyebut hulucai, sirahcai, atau séké. Maka ada nama-nama geografi yang diawali dengan kata séké, seperti: Séképanjang (mataair yang panjang), Sékéawi (di dekat mataair ada rumpun bambu), Sékébunar (di dekat mataair ada rumpun bambu kecil), Sékébungur (di dekat mataair ada pohon bungur), Sékéburuy (di dalam mataair buruy, cebong), Sékécariu (di dekat mataair ada pohon cariu), Sékédangdeur (di dekat mataair ada pohon dangder), Sékégentong (mataair itu menyerupai gentong), Sékéloa (di dekat mataair ada pohon loa), Sékéhonje (di dekat mataair ada rumpun honje), Sékéjati (di dekat mataair ada pohon jati), Sékéjengkol (di dekat mataair ada pohon jengkol), Sékéjolang (mataair itu menyerupai jolang), Sékékendal (di dekat mataair ada pohon kendal), Sékékondang (di dekat mataair ada pohon kondang), Sékékuda (di dekat mataair ada pohon Kikuda atau Kayujaran), Sékélimus (di dekat mataair ada pohon limus), Sékémalaka (di dekat mataair ada pohon malaka), Sékémerak (mataair menjadi tempat merak minum), Séképicung (di dekat mataair ada pohon kepayang), Sékésalam (di dekat mataair ada pohon salam), Sékéreundeu (di dekat mataair ada tumbuhan reundeu), dll.

Daerah yang lebih rendah dengan luasan yang lebih besar dan menjadi lahanbasah yang permanen, umumnya berada di daerah yang rendah, di pinggir sungai atau di pinggir pantai, tempat itu kemudian menjadi situ, ranca, rawa, seperti Situbolang, Sirugunting, Situhyang, Situtarate, dll. Ada nama geografi Rancabadak (rawa tempat badak berkubang), Rancabango (rawa tempat hidup burung bangau), Rancabungur (di pinggir rawa itu banyak ditumbuhi pohon bungur), Rancacangkuang (di rawa itu banyak ditumbuhi cangkuang), Rancabogo (di rawa itu banyak ikan bogo), Rancaekek (di rawa itu banyak burung ekek atau betet), Rancaengang (di rawa itu banyak lebah penyengat), Rancakalong (di rawa itu banyak burung kalong atau kelelawar), Rancakamuning (di pinggir rawa itu banyak ditumbuhi kemuning), Rancakaso (di rawa itu banyak ditumbuhi gelagah), Rancakendal (di rawa itu banyak ditumbuhi pohon kendal), Rancalame (di rawa itu banyak ditumbuhi pohon lame), Rancaloa (di rawa itu banyak ditumbuhi pohon loa), Rancameong (di rawa itu sering terlihat macan), Rancanilem (di rawa itu banyak ikan nilem), Rancasawo (di pinggir rawa itu ditumbuhi pohon sawo), Rancawaliwis (di rawa itu banyak terdapat burung belibis), dll.

Sebaliknya, tempat yang lebih tinggi dari daerah sekelilingnya berupa bukit, gunung kecil, dalam bahasa Sunda disebut pasir. Pasir atau bukit ini dinami sesuai bentuk alaminya, sesuai dengan ukurannya, dan sesuai dengan keberadaan bukit tersebut dari permukiman umumnya pada saat nama geografi itu dilekatkan. Maka ada bukit dengan nama Pasir Leutik (bukit kecil), Pasir Malang, Pasir Halang (bukit yang melintang menghalangi arah atau alur yang umum di tempat itu). Pasir Ipis (bukit yang tipis, bentuknya lebih menyerupai dinding alam). Pasir Buleud (bukit yang bentuknya membulat menyerupai kubah). Pasir Handap (bukit yang berada di lebih rendah dari perkampungan), dan Pasir Luhur (bukit yang berada  di daerah yang lebih tinggi perkampungan).

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Nama Bangunan yang Menjadi Nama Desa dan Kelurahan

Rabu, 5 Oktober 2022 | 16:41 WIB

Hidup Jangan Kebanyakan Sambat

Selasa, 4 Oktober 2022 | 16:26 WIB

Sosiopreneur Generasi Milenial melalui Agroedupark

Selasa, 4 Oktober 2022 | 15:40 WIB

Bahan Bangunan dari Cicalengka (1907-1941)

Senin, 3 Oktober 2022 | 16:01 WIB

Penguatan Status Kepegawaian Perangkat Desa

Minggu, 2 Oktober 2022 | 07:00 WIB

Mari Memperbanyak Boks Buku di Stasiun Kereta Api!

Kamis, 29 September 2022 | 11:27 WIB

Invasi Rusia di Ukraina Menuju Tahap Akhir

Kamis, 22 September 2022 | 20:11 WIB

Memahami Tatib Sekolah dengan Menjadi Reporter

Selasa, 20 September 2022 | 21:15 WIB

Citisuk

Senin, 19 September 2022 | 15:35 WIB
X