Inflasi dan Pasar Saham Indonesia

- Rabu, 6 Juli 2022 | 12:41 WIB
Amerika Serikat dilanda inflasi yang tinggi. Tingkat suku bunga sudah beberapa kali dinaikkan demi meredam inflasi. (Pixabay/Gerd Altmann)
Amerika Serikat dilanda inflasi yang tinggi. Tingkat suku bunga sudah beberapa kali dinaikkan demi meredam inflasi. (Pixabay/Gerd Altmann)

Amerika Serikat dilanda inflasi yang tinggi. Sejak awal tahun sampai dengan saat ini, tingkat suku bunga sudah beberapa kali dinaikkan demi meredam inflasi.

Namun, inflasi di Amerika Serikat tidak terbendung. Inflasi bulan Mei Amerika Serikat secara year on year menyentuh 8,6 persen. Lalu bagaimana dengan inflasi di Indonesia? BPS baru saja merilis inflasi Juni 2022 yang mencapai 4,35 persen secara year on year (yoy).

Angka tersebut dinilai menjadi peringatan dini bagi Indonesia bahwa inflasi pada tahun 2022 akan jauh lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sebagai perbandingan, pada bulan Juni 2021 inflasi Indonesia hanya sebesar 1,33 persen (yoy). Dengan demikian inflasi bulan Juni yoy 2022 meningkat sekitar tiga kali lipat dibandingkan dengan tahun 2021.

Tingginya inflasi Indonesia tahun 2022 tidak lepas dari keadaan Amerika Serikat yang sedang dilanda inflasi tinggi juga. Hal ini terjadi akibat sistem ekonomi Indonesia yang menerapkan perekonomian terbuka.

Sistem tersebut memposisikan Indonesia sebagai bagian dari perekonomian dunia. Keterkaitan ekonomi antar negara menjadi semakin erat. Akibatnya jika negara adidaya seperti Amerika Serikat mengalami goncangan ekonomi, maka akan berdampak kepada seluruh negara di dunia yang menerapkan sistem ekonomi terbuka.

Baca Juga: 6 Pemenang Tulisan Terpopuler Netizen Ayobandung.com Juni 2022: Total Hadiah Rp1,5 Juta!

Pada era saat ini, keterbukaan ekonomi tidak hanya direpresentasikan oleh perdagangan antar negara saja namun juga tercermin dari arus dana yang terjadi di pasar modal. Hal inilah yang membuat globalisasi ekonomi antar negara menjadi sangat erat. Kebijakan-kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat Federal Reserve atau biasa disebut The Fed, sangat memengaruhi perekonomian global.

Sejak awal tahun 2022, The Fed gencar menaikkan tingkat suku bunga guna mengontrol besaran inflasi yang sedang menyerang negara Paman SAM ini. Bagi Indonesia, meningkatnya suku bunga acuan The Fed membuat para pemodal asing yang menanamkan modalnya di pasar saham Indonesia sedikit demi sedikit angkat kaki dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal ini berdampak pada melemahnya kembali Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Sejatinya IHSG sudah mulai pulih sejak krisis yang disebabkan Covid19 pada awal 2020. Akibat Covid19, IHSG ambruk sampai ke level yang cukup rendah yaitu sekitar 3.900. Rendahnya level IHSG banyak dimanfaatkan para spekulan dan investor saham pemula yang mencoba mencari peruntungan. Berdasarkan data yang dirilis PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah investor pasar modal pada tahun 2019 adalah 2,48 juta. Kemudian sejak terjadinya krisis pasar saham tahun 2020 membuat jumlah investor pasar modal meningkat hampir 100 persen yaitu menjadi 4,51 juta investor.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Wisata dari Titik Nol Bandung

Senin, 8 Agustus 2022 | 20:11 WIB

Penempatan Siswa di Kelas berdasar Gaya Belajar

Senin, 8 Agustus 2022 | 19:45 WIB

Paypal Diblokir, Bagaimana Nasib para Freelancer?

Senin, 8 Agustus 2022 | 15:19 WIB

Mari Kita Sukseskan Desa Cantik

Jumat, 5 Agustus 2022 | 09:51 WIB

Citayeum, Citayem, dan Citayam

Kamis, 4 Agustus 2022 | 16:50 WIB
X