Mengevaluasi Kinerja dan Pencapaian Kemendikbudristek

- Senin, 4 Juli 2022 | 09:13 WIB
Sejumlah siswa mengikuti Pembelajaran Tatap Muka Terbatas di SD 065 Cihampelas, Jalan Cihampelas, Kota Bandung, Selasa, 7 Desember 2021 | Kemendikbudristek (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi) terus berupaya menyajikan metode belajar mengajar lebih baik. (Ayobandung.com/Kavin Faza)
Sejumlah siswa mengikuti Pembelajaran Tatap Muka Terbatas di SD 065 Cihampelas, Jalan Cihampelas, Kota Bandung, Selasa, 7 Desember 2021 | Kemendikbudristek (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi) terus berupaya menyajikan metode belajar mengajar lebih baik. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

Ilustrasi guru saat PTM 100 Persen di Bandung. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

Sebagaimana telah saya kemukakan di awal bahwa tak ada pencapaian (meskipun sudah berusaha maksimal) yang bisa memuaskan semua orang. Begitu juga berbagai program yang telah dijalankan oleh pihak Kemendikburistek, tentu tak bisa memuaskan semua pihak.

Namun, di sinilah tantangan yang harus dihadapi oleh Nadiem Makarim agar bisa terus belajar dari beragam kekurangan yang ada, untuk selanjutnya berusaha memperbaiki dan menyempurnakannya.

Bicara tentang pencapaian yang telah ditorehkan Kemendikbudristek, laman indikator.co.id  mencatat ada 5 program/kebijakan yang paling banyak dinilai sangat bermanfaat, cukup bermanfaat, dan kurang bermanfaat (semua responden). Berikut ini uraiannya:

Pertama, program yang sangat bermanfaat, meliputi: PTM (Pembelajaran Tatap Muka), KIP Kuliah Merdeka, Bantuan kuota data internet oleh Kemendikbudristek, BOS yang langsung ditransfer ke rekening sekolah dan semakin fleksibel penggunaannya, Peraturan Menteri (Permen) Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS).

Baca Juga: Nama Geografi Menjadi Nama Formasi Batuan, Nama Sesar, dan Nama Gejala Tektonik

Kedua, program yang dinilai cukup bermanfaat, meliputi: bantuan untuk pelaku budaya, guru penggerak, matching fund vokasi, sekolah penggerak, dan paltform Merdeka Mengajar.

Ketiga, program yang dinilai kurang bermanfaat, meliputi: PPDB dengan membuka hingga maksimal 30% kuota untuk jalur prestasi, Asesmen Nasional (AN), SKB Tiga Menteri tentang penggunaan pakaian seragam dan atribut di lingkungan sekolah, Mendikbudristek menolak dengan tegas penggunaan bahasa Melayu Malaysia, dan hak belajar tiga semester di luar kampus.

Menurut hemat saya, program yang dinilai ‘sangat bermanfaat’ dan ‘cukup bermanfaat’ tersebut perlu dipertahankan (dan ditingkatkan) ke depannya. Sementara program yang dirasa masih kurang, bahkan tidak bermanfaat, anggap saja itu sebagai sebuah tantangan tersendiri bagi Nadiem Makarim.

Mungkin Nadiem perlu mengganti dengan program-program lain yang lebih mengena untuk peningkatan kualitas pendidikan di negeri ini. Yang terpenting, apa pun ‘program baru’ yang akan ditetapkan nanti, harus berdasarkan kesepakatan atau setelah melalui proses musyawarah dari berbagai pihak terkait. Jangan sampai program atau kebijakan yang diluncurkan tidak mewakili suara banyak orang atau mayoritas masyarakat.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mewaspadai Konflik Terbuka di Asia Pasifik

Rabu, 25 Januari 2023 | 13:55 WIB

Mewujudkan Indonesia Emas dengan Memberantas Stunting

Selasa, 24 Januari 2023 | 10:54 WIB

Imlek: Merawat Kebhinekaan, Meneguhkan Keindonesiaan

Senin, 23 Januari 2023 | 18:20 WIB

Potret ‘Pengemis Online’ yang Meresahkan

Senin, 23 Januari 2023 | 16:51 WIB

BIJB Kertajati Dijual?

Senin, 23 Januari 2023 | 16:08 WIB

Tahun 1845 Baru Ada 13 Orang Tionghoa di Bandung

Sabtu, 21 Januari 2023 | 15:02 WIB

Cokelat sebagai Peluang Usaha Baru untuk Remaja

Selasa, 17 Januari 2023 | 12:41 WIB

Ideologi di Balik Sepak Bola

Selasa, 17 Januari 2023 | 10:54 WIB

Membangkitkan Inovasi dan Daya Saing UMKM

Senin, 16 Januari 2023 | 17:00 WIB

Penggunaan Mobil Listrik di Indonesia, Efektifkah?

Senin, 16 Januari 2023 | 15:12 WIB
X