Kerbau di Cicalengka Tahun 1880-1900

- Minggu, 3 Juli 2022 | 19:36 WIB
Sepasang kerbau sedang dipekerjakan di sebuah sawah, sekitar tahun 1900.  (Sumber: KITLV 95175)
Sepasang kerbau sedang dipekerjakan di sebuah sawah, sekitar tahun 1900. (Sumber: KITLV 95175)

Kerbau di masa lalu termasuk binatang yang banyak diambil manfaatnya. Selain diperlukan untuk mengolah tanah pertanian, satwa besar berkaki empat itu antara lain digunakan sebagai tenaga penarik pedati yang berisi hasil bumi seperti kopi dan penarik kereta yang berisi penumpang saat kendaraan tersebut harus melalui dataran yang menanjak: tenaga ekstra bagi kuda.

Contoh paling kentara adalah kala orang Eropa harus melewati Gunung Megamendung dengan titik tertingginya Puncak Pass. Johannes Olivier (Tafereelen en merkwaardigheden uit Oost-Indië, Vol. 1, 1836: 266) antara lain menyatakan sekitar 20 pal dari pusat kota Bogor, pengunjung tiba di titik tertinggi Gunung Megamendung, yang disebut Puncak, tempat jalan raya pos yang berasal dari Batavia pertama kali melintasi rangkaian gunung besar Jawa. Untuk melaluinya orang membutuhkan tenaga tambahan berupa empat kerbau yang perkasa.

Demikian pula yang dikatakan oleh Steven Adriaan Buddingh (Neerlands-Oost-Indie, Vol. 1, 1859: 45). Dia mengatakan setelah mencapai Pos Tugu, kereta kuda dibantu mula-mula dengan empat, lalu enam, dan akhirnya delapan kerbau untuk tiba di Puncak Gunung Megamendung yang berketinggian 4.710 kaki. Di puncak yang menjadi batas antara Bogor dan Keresidenan Priangan itu ada warung-warung yang dimiliki oleh pribumi.

Soal delapan kerbau yang diperlukan untuk menarik kereta juga dibilang oleh Isaac Groneman (Uit en over Midden-Java, 1891: 84). Katanya, betapa sering saya melihat mereka dibebani, di jalan dengan kelambanan sedang, tetapi kemudian secara tetap tetapi pasti, mendaki ketinggian 800 meter puncak Gunung Masigit dan lebih dari 1.500 meter ketinggian Puncak Gunung Megamendung, perlahan dibantu delapan kerbau, yang menyebabkan jantung kami para penumpang Eropa di dalam kereta, berdegup-degup dan keringat mengucur di sekujur tubuh.

Contoh lainnya adalah Gunung Pola (Berg Polla) yang lebih dikenal sebagai Cadas Pangeran. Gubernur Jenderal Baron Van Der Capellen dan rombongan pernah menjajalnya pada 29 Juli 1822. Kata Pieter Mijer (Kronijk van Nederlandsch Indie, loopende van af het jaar 1816-1826, 1840: 192-195), rombongan tiba di Bandung pada 28 Juli dan mengunjungi tanah Ujungberung (yang baru diambilalih oleh pemerintah dari pihak swasta), terutama untuk mengeksplorasi air terjun Cikapundung, yang ada di tanah tersebut. Keesokan harinya rombongan melanjutkan perjalanannya melalui jalan yang baru dibangun di sekitar Polla, yang berarti harus melintasi gunung tersebut yang sangat sulit, dengan dibantu kerbau.

Pemandangan di sekitar Polla memang sangat indah. Kata Andries de Wilde (Berigten betreffende de landschappen genoemd de Preanger Regentschappen, 1829: 12), umumnya jalan di Sumedang melalui gunung-gunung yang rendah, ditambah perbukitan, berpemandangan indah. Menurun kemudian menanjak, tibalah pengunjung di Gunung Polla, yang seperti berkeliling, pemandangannya sangat indah, hingga menurun ke dataran Sumedang.

Baca Juga: Nama Geografi Menjadi Nama Formasi Batuan, Nama Sesar, dan Nama Gejala Tektonik

Dengan demikian, tidaklah aneh bila kerbau dijadikan sebagai salah satu tolok ukur kekayaan sebuah daerah. Saya mendapatkan buktinya antara lain dari tulisan J. Hageman JCz (“Geschied- en aardrijkskundig overzigt van Java, op het einde der achttiende eeuw” dalam Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde, Vol. 9, 1860: 347-350). Di dalam tulisannya, Hageman memuat keterangan kekayaan dari sepuluh wilayah di Priangan, yaitu Tjiassem, Pamanoekan en Pagadeen, Hadiarsa, Krawang, Parakan-moentjang, Batoelajang, Soemedang, Bandong, Tjiandjoer met Djampang-ilier en oeloe, dan Bogor.

Unsur-unsur yang dijadikan kekayaan setiap daerah antara lain pohon kopi, pohon kelapa, pohon kapulaga, lada, kerbau, dan sapi. Misalnya, Kabupaten Parakanmuncang yang terbagi menjadi sembilan distrik, 767 desa, dan 42.926 jiwa, berada di bawah Adipati Soeria-natakesouma. Kabupaten ini menyetorkan kopi sebanyak 7.064 pikul pada 1793 dan 8.315 pikul tahun 1795; 34 pikul benang kapas dan 14 pikul indigo. Di kabupaten ini juga ada 5.530.000 pohon kopi, 15.300 pohon kelapa, 24.000 kapulaga, 89.000 lada, 6.100 kerbau, dan 960 sapi.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mari Kita Sukseskan Desa Cantik

Jumat, 5 Agustus 2022 | 09:51 WIB

Citayeum, Citayem, dan Citayam

Kamis, 4 Agustus 2022 | 16:50 WIB

Curug Pelangi, Seindah Namanya

Senin, 25 Juli 2022 | 15:20 WIB

Asa di Fenomena Citayam Fashion Week SCBD

Rabu, 20 Juli 2022 | 15:38 WIB

Musim Kondangan dan Fenomena Amplop Digital

Selasa, 19 Juli 2022 | 19:30 WIB

Dua Nama Geografi yang Sering Keliru Dimaknai

Selasa, 19 Juli 2022 | 15:30 WIB
X