Mengganti Nama Geografi itu Merusak Ingatan Kolektif Masyarakat

- Rabu, 22 Juni 2022 | 09:15 WIB
Daerah Leuwipanjang, Kota Bandung dan sekitarnya pada tahun 1931. (Potongan dari peta Bandoeng-Zuid, Batavia: Topografische Dienst, 1934.)
Daerah Leuwipanjang, Kota Bandung dan sekitarnya pada tahun 1931. (Potongan dari peta Bandoeng-Zuid, Batavia: Topografische Dienst, 1934.)

Nama geografi yang telah diberikan oleh para karuhun adalah nama-nama yang sesuai dengan karakter bumi, karakter hayati, dan karakter budaya masyayarakat penghuninya. 

Suatu kawasan, suatu wilayah, merupakan bentangalam yang kemudian dihuni oleh manusia, yang terus menjalin hubungan dengan manusia lainnya, membentuk masyarakat. Atau, secara batin di antara mereka terdapat pertalian yang mempersatukan mereka secara lahir di tempat itu. Bumi dengan keadaan alamnya yang khas, di sana berkembang tumbuhan dan pepohonan yang sesuai dengan karakter buminya. Binatangnya berkembang-biak di darat, di sungai, dan di udara. Binatang yang dapat menyesuaikan kebutuhan hidupnya dengan keadaan lingkungan yang tersedia, dan turut membentuk lingkungan di kawasan itu.

Anggota masyarakat berkembang dan tumbuh di tempat itu, saling melengkapi dalam berkehidupan, terus mengasah keterampilan, yang akhirnya menjadi keahlian masing-masing warganya, yang dapat memenuhi kebutuhan warga dalam melangsungkan siklus kehidupan di sana.

Di permukiman itu ada manusia dengan segala rasa dan kasih-sayang, mereka bekerja mengolah bumi, dengan segala kisah selama berinteraksi dengan warga lainnya, akan terus dikenang oleh keluarganya dan oleh masyarakatnya.

Apa yang dilakoni oleh masing-masing anggota masyarakatnya pada hari ini, sejalan dengan berjalannya waktu, akan menjadi masa lalu. Tapi pengalaman dan ingatannya tentang kawasan itu dengan segala kisah warganya bermasyarakat, baik yang rasional dari pengalaman nyata warganya, maupun pengalaman batiniah warganya, akan berkembang menjadi kisah, yang bisa saja sulit ditelusuri benar atau tidaknya. Itu sering tidak menjadi masalah, dan warganya menerima itu sebagai kisah perjalanan suatu masyarakat, dan menjadi bagian dari perjalanan manusia yang hidup di tempat itu.

Semua kisah, semua ingatan tentang tempat bermasyarakat dengan para penghuninya, akan menjadi ingatan warganya. Itulah yang menjadi ingatan kolektif, yang disadari atau tidak, telah melekat di dalam ingatan bawah sadarnya, dan diturunkan dari generasi ke generasi. Semua ingatan bersama yang terus dibarukan dalam ingatan sesuai dengan perkembangan zaman, akan menjadi dasar dalam berperilaku, membentuk karakter yang menjadi ciri mandiri warganya.

Baca Juga: Ukraina di Ambang Perdamaian?

Demikian juga kenangan sesorang dalam bermasyarakat yang berkaitan dengan jalan yang melintas di wilayahnya. Seperti hanya tentang suatu wilayah, tentang jalan pun demikian. Sesungguhnya jalan itu bukan hanya ruas jalan secara fisik yang sudah ditentukan kelas yang menentukan kualitas fisik jalan. Tapi di sekitar jalan itu dihuni oleh masyarakat dengan segala kehidupan dan perannya. Di suatu wilayah, di sekitar ruas jalan itu terdapat rasa dari warganya ketika bermasyarakat, yang tersimpan secara baik dalam kenangan. Demikian juga tentang fakta-fakta di wilayah itu tentang manusia penghuninya yang tersimpan dalam pikirannya. Bahwa di sana ada kisah, ada riwayat hidup seseorang yang merintis membuka kawasan itu, ada riwayat hidup keluarga, dan riwayat hidup masyarakatnya.

Karakteristik bumi, karakteristik hayati, dan karakteristik budayanya, dijadikan penanda suatu kawasan, kemudian menjadi nama kawasan. Itulah ingatan bersama yang diabadikan dalam nama-nama geografi. Di Jawa Barat, ketika ada kawasan yang ronabuminya cekung, masyarakat di sana menamai kawasan itu Sukajadi, Cipariuk, Cangkorah, Salopa, Cijolang, Legok, atau Gentong. Bila di suatu wilayah sering terlihat harimau, dinamailah wilayah itu Cimaung. Bila harimau sering terlihat sedang berjemur di padang rumput bersemak, maka tempat itu dinamai Pamoyanan. Demikian juga bila setiap malam di tempat itu hanya terdengar suara harimaunya saja, maka tempat itu dinamai Ciharegem. Di lereng hutan yang banyak ditumbuhi pohon kawung, tempat itu kemudian dinamai Cikawung. Bila aliran sungai berarus deras, dinamailah Ci Tarik.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

ASEAN Diapit Dua Konflik

Senin, 27 Juni 2022 | 14:49 WIB

Mengapa India Ditinggalkan Australia cs?

Kamis, 23 Juni 2022 | 13:55 WIB

Ukraina di Ambang Perdamaian?

Selasa, 21 Juni 2022 | 15:14 WIB

Cibacang dan Cilimus yang Abadi dalam Toponimi

Minggu, 19 Juni 2022 | 15:42 WIB

Haruskah Indonesia Bergabung dengan BRICS?

Selasa, 14 Juni 2022 | 22:08 WIB

Mencetak Generasi ‘Boseh’

Minggu, 12 Juni 2022 | 09:00 WIB

Pecinan Cicalengka sejak 22 Januari 1872

Kamis, 9 Juni 2022 | 16:25 WIB

Karasak itu Nama Pohon dari Keluarga Ficus

Kamis, 9 Juni 2022 | 11:50 WIB
X