Ukraina di Ambang Perdamaian?

- Selasa, 21 Juni 2022 | 15:14 WIB
Rusia dan sejumlah pilar Uni Eropa bersama-sama mendukung keanggotaan Ukraina dalam Uni Eropa dan membuka penyelesaian perang dengan damai. (Pexels/Matti)
Rusia dan sejumlah pilar Uni Eropa bersama-sama mendukung keanggotaan Ukraina dalam Uni Eropa dan membuka penyelesaian perang dengan damai. (Pexels/Matti)

Rusia dan sejumlah pilar Uni Eropa bersama-sama mendukung keanggotaan Ukraina dalam Uni Eropa. Kesepakatan ini akan membuka penyelesaian perang di Ukraina dengan cara damai, namun meninggalkan Amerika Serikat dan Inggris.

Prospek perang di Ukraina akan sangat dipengaruhi hasil KTT Uni Eropa di Brussel pada 23-24 Juni dan KTT NATO di Spanyol tanggal 29-30 Juni 2020. Berdasarkan ketentuan yang berlaku, para anggota kedua organisasi dalam KTT itu dapat memutuskan untuk menerima atau menolak keanggotaan Ukraina.

Resiko besar akan menanti bila KTT NATO menerima Ukraina menjadi anggotanya. Konsekuensinya adalah  seluruh anggota NATO, 30 negara, dengan berbagai cara akan berperang melawan Rusia.

Putin Setuju

Presiden Rusia Vladimir Putin, beberapa hari lalu menyatakan tidak keberatan bila Ukraina menjadi anggota Uni Eropa sebab ia bukanlah persekutuan militer. Meskipun terdapat tanda, beberapa negara ingin membentuk pasukan Uni Eropa, yang berarti tanpa AS dan Inggris.  

Sejauh ini hanya Jerman dan Belanda dalam UE yang memiliki kerjasama militer dengan membentuk Batalion Tank 414 pada 2019 sebab Belanda kelebihan tank sedangkan Jerman kekurangan pasukan.

Pernyataan Putin itu merupakan suatu perubahan karena alasan Rusia menganeksasi Semenanjung Krimea adalah (1) keputusan KTT NATO di Bukares, Rumania tahun 2008 yang menerima Ukraina dan Georgia sebagai Member of Actions Plan Organization (MAPO). Keanggotaan yang membuat kedua negara diambang menjadi anggota NATO. (2) Bila Uni Eropa menerima Ukraina. (3) Kebijaksanaan NATO yang memasukkan bekas anggota Pakta Warsawa menjadi  anggota NATO.

Baca Juga: Menanti Gagasan Baru Macron dalam Menyelesaikan Perang di Ukraina

Ketiga aspek tersebut membuat Rusia merasa terancam hingga sesudah KTT  menyerbu Georgia yang kebanyakan penduduknya berbahasa Rusia.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Dari Egoisme Lahirlah Intoleranlisme

Senin, 28 November 2022 | 16:09 WIB

Dominasi AS Melemah G-20 menjadi Xi-20

Senin, 28 November 2022 | 10:36 WIB

Wabah Sampar di Cicalengka Tahun 1932-1938

Jumat, 25 November 2022 | 19:10 WIB

Cieundeur dan Gempa Cianjur

Jumat, 25 November 2022 | 15:06 WIB

Membangun Budaya Inovasi ASN di Indonesia

Kamis, 24 November 2022 | 14:20 WIB

Kurir Shopee Diduga Maling Helm di Sarijadi

Kamis, 24 November 2022 | 11:34 WIB

Menyeruput (Kisah di Balik) Kesegaran Es Oyen

Rabu, 23 November 2022 | 14:50 WIB
X