Haruskah Indonesia Bergabung dengan BRICS?

- Selasa, 14 Juni 2022 | 22:08 WIB
Rusia dan China, pendiri BRICS, berusaha membangun kekuatan baru untuk menyaingi dominasi negara-negara Barat.  (Wikimedia Commons/Alan Santos/PR | Lisensi CC)
Rusia dan China, pendiri BRICS, berusaha membangun kekuatan baru untuk menyaingi dominasi negara-negara Barat. (Wikimedia Commons/Alan Santos/PR | Lisensi CC)

Rusia dan China, pendiri BRICS, berusaha membangun kekuatan baru untuk menyaingi dominasi negara-negara Barat. Indonesia termasuk yang diajak turut serta. Indonesia harus memiliki ekonomi yang inovatif dan efisien, sekalipun tak bergabung. 

Para Menlu Indonesia, Uni Arab Emirat, Saudi Arabia, Egypt, Kazakhstan, Argentina, Nigeria, Senegal, dan Thailand dilibatkan dalam konferensi virtual dengan empat negara pendiri BRICS pada 23 Mei lalu.

BRICS merupakan asosiasi ekonomi emerging countries, didirikan pada 2001, dengan anggota utama Brasil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan. 

Gara-gara keikutsertaan itu, Indonesia cs disebut-sebut akan bergabung dengan BRICS. Atas dasar itu muncul julukan BRICS Plus, lima negara ditambah sembilan negara yang punya potensi sumber daya alam, konsumen dan pasar domestik yang besar serta akses  ke Amerika Selatan, Asia Tengah dan Afrika.

China sangat antusias dengan keikut sertaan negara lain. Kemlu China menyatakan, adalah penting untuk meningkatkan kerjasama antara emerging countries dengan emerging countries agar suara BRICS lebih di dengar dalam menangani permasalah dunia dan regional. Bersatu menghadapi tantangan. Menjunjung tinggi kepentingan bersama seraya mengembangkan pasar emerging dan developing countries. 

Siapa Mendapat Manfaat?

Sebagai lazimnya sebuah asosiasi, para anggota BRICS saling memberi kemudahan dalam fasilitas kepabeanan dan perpajakan. Membuka akses lebih luas bagi kerjasama teknis, investasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, kesehatan, energi transaksi keuangan dan perbankan. Memerangi kejahatan lintas  negara. Pembangunan infrastruktur.  Membentuk bank pembangunan dan prakarsa bantuan darurat keuangan.

Bercermin dari perkembangan akhir-akhir ini, kerjasama antar anggota BRICS juga bermanfaat mengatasi  dampak sanksi serta mengurangi penggunaan dolar AS yang kerap menjadi instrumen penekan.

Dalam usianya yang hampir seperempat abad,  BRICS secara makro ekonomi  dikatakan akan melampaui Amerika Serikat dan Eropa dalam beberapa tahun mendatang. Motor penggeraknya adalah China.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

ASEAN Diapit Dua Konflik

Senin, 27 Juni 2022 | 14:49 WIB

Mengapa India Ditinggalkan Australia cs?

Kamis, 23 Juni 2022 | 13:55 WIB

Ukraina di Ambang Perdamaian?

Selasa, 21 Juni 2022 | 15:14 WIB

Cibacang dan Cilimus yang Abadi dalam Toponimi

Minggu, 19 Juni 2022 | 15:42 WIB

Haruskah Indonesia Bergabung dengan BRICS?

Selasa, 14 Juni 2022 | 22:08 WIB

Mencetak Generasi ‘Boseh’

Minggu, 12 Juni 2022 | 09:00 WIB

Pecinan Cicalengka sejak 22 Januari 1872

Kamis, 9 Juni 2022 | 16:25 WIB

Karasak itu Nama Pohon dari Keluarga Ficus

Kamis, 9 Juni 2022 | 11:50 WIB
X