Mencetak Generasi ‘Boseh’

- Minggu, 12 Juni 2022 | 09:00 WIB
Djoko Subinarto 1) Insentif perlu diberikan untuk siswa yang bersepeda. Foto: Djoko Subinarto. (Djoko Subinarto)
Djoko Subinarto 1) Insentif perlu diberikan untuk siswa yang bersepeda. Foto: Djoko Subinarto. (Djoko Subinarto)

"Riding a bike not only improves physical fitness, it also benefits your child’s learning development and mental health." Cadel Evans, juara Tour de France 2011.

---

Aktivitas bersepeda di kalangan anak-anak dapat berkontribusi bagi terciptanya generasi penerus bangsa yang lebih sehat, tangguh dan lebih mencintai lingkungan. Karenanya, kampanye penggunaan sepeda yang menyasar anak-anak perlu digelorakan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak beberapa waktu lalu telah mendorong negara-negara anggotanya serta para pemangku kepentingan lainnya untuk menekankan dan mempromosikan penggunaan sepeda sebagai sarana untuk mewujudkan tercapainya pembangunan berkelanjutan, memperkuat pendidikan, termasuk pendidikan jasmani, khususnya untuk anak-anak dan kaum muda, meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, mempromosikan toleransi dan saling pengertian serta menghormati dan memfasilitasi inklusi sosial dan juga pengembangan budaya damai.

Sayangnya, di negara kita, justru semakin banyak anak-anak dan remaja kita saat ini yang cenderung kian akrab dengan kendaraan bermotor ketimbang sepeda kayuh. Bukan hal aneh pula  dewasa ini kian banyak anak-anak kita -- termasuk anak baru gede yang masih labil (ababil) -- lebih senang wara-wiri di jalanan menggunakan kendaraan bermotor. Di saat yang sama, didorong antara lain karena rasa sayang kepada anak, tidak sedikit orangtua sekarang yang dengan senang hati membelikan kendaraan bermotor untuk anak-anak mereka.

Tentu saja, banyak alasan rasional untuk menjustifikasi kenapa anak-anak zaman now lebih senang mengendarai kendaraan bermotor. Persoalannya,  banyak dari anak-anak yang saat ini mengendarai kendaraan bermotor itu masih di bawah umur. Artinya, sesungguhnya mereka masih belum boleh mengendarai kendaraan bermotor.

Tengok saja, tak sedikit anak usia sekolah yang belum genap berusia 17 tahun yang sekarang ini dengan bebas menggunakan kendaraan bermotor. Ini dimungkinkan karena masih banyak orangtua yang melakukan pembiaran kepada anak-anak mereka untuk mengendarai kendaraan bermotor, kendatipun mereka mengetahui bahwa anak mereka masih belum cukup umur untuk berkendara. Di sisi lain, banyak sekolah juga membiarkan murid-muridnya membawa kendaraan bermotor ke sekolah. Bahkan, sejumlah sekolah malah memfasilitasi dengan menyediakan lahan parkir buat mereka.

Pembiaran seperti ini tidak boleh kita terus budayakan dan terus kita lestarikan. Orangtua sebagai pihak yang memiliki tanggungjawab penuh terhadap anak-anak mereka harus mulai didorong untuk tidak lagi memberikan peluang kepada anak-anak mereka yang masih di bawah umur untuk mengendarai kendaraan bermotor sebelum persyaratan usia minimal mereka terpenuhi.

Sikap tidak manja

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

ASEAN Diapit Dua Konflik

Senin, 27 Juni 2022 | 14:49 WIB

Mengapa India Ditinggalkan Australia cs?

Kamis, 23 Juni 2022 | 13:55 WIB

Ukraina di Ambang Perdamaian?

Selasa, 21 Juni 2022 | 15:14 WIB

Cibacang dan Cilimus yang Abadi dalam Toponimi

Minggu, 19 Juni 2022 | 15:42 WIB

Haruskah Indonesia Bergabung dengan BRICS?

Selasa, 14 Juni 2022 | 22:08 WIB

Mencetak Generasi ‘Boseh’

Minggu, 12 Juni 2022 | 09:00 WIB

Pecinan Cicalengka sejak 22 Januari 1872

Kamis, 9 Juni 2022 | 16:25 WIB

Karasak itu Nama Pohon dari Keluarga Ficus

Kamis, 9 Juni 2022 | 11:50 WIB
X