Pecinan Cicalengka sejak 22 Januari 1872

- Kamis, 9 Juni 2022 | 16:25 WIB
Haktong Tjitjalengka pada tahun 1924.  (Mingguan Sin Po, 4 Oktober 1924)
Haktong Tjitjalengka pada tahun 1924. (Mingguan Sin Po, 4 Oktober 1924)

Berapa jumlah penduduk Tionghoa di Cicalengka? Bila melihat lagi dua tulisan Pieter Bleeker (“Bijdragen tot de Statistiek der Bevolking van Java”  dalam TNI, Vol IX, 2, 1847; dan “Nieuwe Bijdragen tot de Kennis der Bevolkingstatistiek van Java” dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indie, BKI, Vol. 16, 1869) yang berisi sensus penduduk tahun 1845 dan 1867 di Cicalengka belum ada penduduk Tionghoa.

Setelah 23 tahun ditetapkan sebagai pecinan, menurut data “Aantooning van het zielental op de gewestelijke hoofdplaatsen van Nederlandsch-Indie op de afdeelingshoofdplaatsen van Java en Madoera bij het einde van 1895” (dalam Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indie 1899), jumlah penduduk Tionghoa di Afdeling Cicalengka hingga akhir 1895 berjumlah 131 orang. Sementara orang Eropa ada 46 orang dan pribumi sebanyak 1.685 orang.

Sejalan dengan aturan-aturan baru yang terkait dengan rumah atau pemukiman orang Timur Asing di Jawa dan Madura (Staatsblad 1910 no. 537) dan Ordonansi 14 Desember 1914 (Staatsblad no. 761), gubernur jenderal menerbitkan keputusan No. 46 tanggal 29 November 1915 mengenai “Opheffing van een aantal wijken voor Vreemde Oosterlingen op Java en Madoera” (penghapusan sejumlah perkampungan untuk orang Timur Asing di Jawa dan Madura). Dari keputusan yang dikeluarkan De Algemeene Secretaris Hulshoff Pol tanggal 13 Desember 1915 itu Pecinan Cicalengka termasuk yang dibubarkan. Saat itu, Cicalengka sudah tidak berstatus afdeling, melainkan kembali menjadi salah satu distrik di Bandung.

Baca Juga: Program Sekolah Penggerak untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan di Indonesia

Sebelum dihapuskan, dalam AID De Preanger-bode edisi 9 April 1914 masih tercatat ada Oeij Keng Tok yang menyewa lahan seluas 168 meter persegi di lingkungan Pecinan Cicalengka dengan biaya lima gulden per bulan (“Tjitjalengka Chineesche wijk groot 168 M2., verhuurd aan OEIJ KENG TOK voor t 5 a maands”).

Meski demikian, orang-orang Tionghoa tetap bertahan di Cicalengka. Karena dari penelusuran pustaka selanjutnya, saya masih mendapatkan banyak jejaknya. Salah satunya, Tan Ko Teng yang menjadi salah seorang agen bagi “Premieleening Ecilmij (Eerste Chin. Ind. Levensv. Mij) Tje Pin Poo Sioe Kongsie atawa dengen pendek boleh diseboet Lot Tje Pin” (Sin Po, 11 Oktober 1921).

Tiong Hwa Hwee Koan Cicalengka

Presiden THHK Cicalengka dan wakilnya berkunjung ke Batavia pada 28 Juli 1924 untuk mencari bantuan pendirian gedung sekolah di Cicalengka. (Sumber: Koran Sin Po, 29 Juli 1924.)

Penduduk Tionghoa Cicalengka berkaitan pula dengan organisasi Tiong Hwa Hwee Koan (THHK). Menurut Nio Joe Lan (Riwajat 40 Taon dari Tiong Hoa Hwee Koan-Batavia, 1900-1939, 1940), cabang Bandung mulai ada sejak 16 September 1901. Nampaknya masih dibutuhkan beberapa waktu lagi hingga THHK menyebar ke Cicalengka, karena pada Juli 1924 baru dikatakan ada Kwa Djin Tjay yang menjadi presiden THHK Cicalengka, sementara wakilnya Lie Khoa.

Dalam Sin Po edisi 29 Juli 1924 dikatakan, “Dari Tjitjalengka soeda dateng kemari toean-toean Kwa Djin Tjay dan Lie Khoa, jaitoe president dan vice-president dari THHK Tjitjalengka, perloenja boeat minta bantoean pada orang-orang dermawan aken diriken satoe roemah bagi THHK terseboet”.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mari Kita Sukseskan Desa Cantik

Jumat, 5 Agustus 2022 | 09:51 WIB

Citayeum, Citayem, dan Citayam

Kamis, 4 Agustus 2022 | 16:50 WIB

Curug Pelangi, Seindah Namanya

Senin, 25 Juli 2022 | 15:20 WIB

Asa di Fenomena Citayam Fashion Week SCBD

Rabu, 20 Juli 2022 | 15:38 WIB

Musim Kondangan dan Fenomena Amplop Digital

Selasa, 19 Juli 2022 | 19:30 WIB

Dua Nama Geografi yang Sering Keliru Dimaknai

Selasa, 19 Juli 2022 | 15:30 WIB
X