Jutaan Anak Negara Berkembang Kehilangan Masa Depan Akibat Perang

- Senin, 30 Mei 2022 | 11:52 WIB
Ilustrasi anak korban perang | Para politisi, perencana perang mengabaikan jutaan anak telah menjadi korban akibat perang. Mereka kehilangan masa depan. (Pixabay/ArmyAmber)
Ilustrasi anak korban perang | Para politisi, perencana perang mengabaikan jutaan anak telah menjadi korban akibat perang. Mereka kehilangan masa depan. (Pixabay/ArmyAmber)

Para politisi, perencana perang mengabaikan jutaan anak telah menjadi korban akibat perang. Mereka kehilangan masa depan. Ironisnya, yang menjadi korban adalah anak-anak di negara berkembang. Mengapa?

Dalam perang tradisional, serdadu merupakan target utama sedangkan penduduk sipil terlebih dulu diperingatkan hingga ada waktu untuk melarikan diri, menghindari daerah pertempuran. Namun kemajuan teknologi persenjataan dan perubahan dalam strategi perang, membuat perang terjadi di tempat tinggal penduduk sipil.

Perang modern menggunakan ranjau, rudal atau peluru altileri yang berpresisi tinggi, tetapi radius daya ledaknya lebih luas hingga dampaknya lebih besar. Selain berisi bahan peledak , kepala rudal maupun peluru altileri juga dapat diisi dengan materi bahan kimia atau biologi yang berbahaya untuk manusia, khewan dan lingkungan. Pencemaran yang ditimbulkan bisa bertahan belasan tahun.

Para ahli dari Swedia, Amerika Serikat dan Polandia mendapati, yang dimuat dalam laman Frontiers, jumlah korban sipil terus meningkat. Dalam perang pada abad 19, persentase korban sipil mencapai 5% dari jumlah seluruh korban. Pada PD I 15%, lalu 65% pada Perang Dunia II. Lebih dari 90% pada perang tahun 1990-an. Dari persentase itu, lebih banyak anak-anak yang menjadi korban dibandingkan dengan tentara.

Perang di Ukraina

Sejak Rusia menginvasi Ukraina pada 24 April 2022, jumlah anak-anak yang tewas mencapai 153 dan 246 luka-luka. Sementara dari 7,5 juta anak di Ukraina , hampir dua pertiga diantaranya telah meninggalkan rumah pergi ke negara tetangga atau berpindah tapi masih di Ukraina. PBB merinci, 2,8 juta anak berpindah tempat di negaranya sendiri, sedangkan dua juta lainnya melarikan diri ke Polandia dan negara-negara lain.

PBB dan organisasi Save the Children khawatir, jumlah yang diperoleh jauh lebih kecil dari kenyataan yang sebenarnya. Dalihnya, tidak semua daerah dapat dijangkau karena masih menjadi lokasi pertempuran, selain itu rumah sakit dan sekolah-sekolah turut menjadi sasaran senjata-senjata ‘canggih’.

Adapun anak-anak yang masih hidup, nasibnya di ujung tanduk. Mereka terancam kelaparan karena kekurangan makanan, air dan obat-obatan.
Jumlah kematian anak-anak maupun dewasa di Ukraina diperkirakan terus bertambah karena prospek perdamaian masih jauh. Presiden Putin dan Presiden Zelensky masih belum menemukan kata sepakat untuk bertemu.

Di lain pihak negara-negara pendukung Ukraina menginginkan aspek yang lebih luas yakni, melemahkan Rusia dan menjatuhkan pemerintahan Putin. Pandangan ini tidak mempedulikan kerusakan infrastruktur fisik dan sosial maupun masa depan rakyat Ukraina.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Wisata dari Titik Nol Bandung

Senin, 8 Agustus 2022 | 20:11 WIB

Penempatan Siswa di Kelas berdasar Gaya Belajar

Senin, 8 Agustus 2022 | 19:45 WIB

Paypal Diblokir, Bagaimana Nasib para Freelancer?

Senin, 8 Agustus 2022 | 15:19 WIB

Mari Kita Sukseskan Desa Cantik

Jumat, 5 Agustus 2022 | 09:51 WIB

Citayeum, Citayem, dan Citayam

Kamis, 4 Agustus 2022 | 16:50 WIB

Curug Pelangi, Seindah Namanya

Senin, 25 Juli 2022 | 15:20 WIB
X