Tadarus Buku di Bandung: Kini dan Dulu

- Selasa, 24 Mei 2022 | 16:24 WIB
Kawasan Cicalengka pada akhir abad ke-19. (digitalcollections.universiteitleiden.nl)
Kawasan Cicalengka pada akhir abad ke-19. (digitalcollections.universiteitleiden.nl)

Di dalam ruangan yang penuh dengan kursi berwarna merah buku The Bandung Connection mengawali tadarusan laiknya kegiatan percobaan. Satu bulan selanjutnya Deni mengajak empat orang pegiat literasi untuk membentuk Asia Afrika Reading Club. Keempat orang itu yakni Adew Habtsa, Puji Wiranti, Theoresia Rumthe dan Letare Aldo Manurung. Dari The Bandung Connention komunitas ini mulai bergerak dan terus berkelanjutan. Tepatnya pada pertengahan tahun, Agustus 2009. Itulah titik pertama Asian Afrika Reading Club yang dinahkodai Deni menjalankan kegiatan tadarus buku dan bergulir selama beberapa bulan.

Sampai tahun 2011 Deni sudah menampilkan lebih dari 20 buku untuk ditadaruskan. Buku yang paling lama yaitu, Di Bawah Bendera Revolusi (jilid 1) yang memang mempunyai ketebalan sekitar 699 halaman.

“Yang paling lama, buku Di Bawah Bendera Revolusi, sampai berbulan-bulan” papar Deni.

Tiba saatnya Deni berhenti sebagai nahkoda. Sosok selanjutnya tertuju kepada Adew yang sedari awal paham betul perkembangan komunitas ini. Pada tahun 2011 AARC mengadakan pemilihan ketua yang baru. Forum pun sepakat untuk menunjuk Adew. Maka Adew terpilih sebagai ketua selanjutnya. Dari tahun 2011 sampai sekarang, Adew banyak membawa suasana baru ke dalam AARC.

Kegiatan tadarus pun tidak saja diadakan di dalam museum, tetapi juga sempat digelar di beberapa kampus di Bandung dan lembaga formal lainnya. Sebelum tadarus berlangsung, Adew memimpin jalannya acara. Mula-mula ia mendoakan para pahlawan yang sudah lama wafat. Mulutnya berkomat-kamit. Setelah itu dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya seraya memainkan gitar dan mengiringi para peserta untuk bernyanyi bersama-sama.

“Marilah kita berdoa untuk para pendiri bangsa. Untuk Sukarno, Hatta, Sjahrir dan tokoh lain yang sudah berdarah-darah membela Tanah Air”, tutur Adew.

Selain memimpin AARC Adew juga seorang penulis dan musisi. Satu bukunya yang sudah terbit yaitu, Menjadi Bangsa Pembaca (2014), serta beberapa lagunya yang berisi tentang pengalaman Adew sejak bersinggungan dengan Museum Asia Afrika (MKAA) yaitu, Damai, Bandung, Egaliter dan Pojok Museum. Sebagai musisi Adew juga punya keahlian untuk menarik massa. Massa yang mengikuti kegiatan tadarus di AARC pun kian bertambah tidak hanya dari kalangan anak muda, tetapi hadir pula orang-orang yang sudah sepuh.

Pernah pada tahun 2014 peserta tadarus tumpah di ruang audiovisual MKAA. Di tempat berdimensi sekitar 5x7 meter persegi itu puluhan orang memadati ruangan. Mereka terdiri dari mahasiswa, dosen, pegiat seni dan pembaca sejarah. Buku yang dipilih yakni, Islam dan Sosialisme karya Tjokroaminoto. Tentu saja bukan hanya isi bukunya yang menjadi perhatian, namun juga minat para peserta terhadap pemikiran tokoh besar Sarekat Islam itu, sehingga diskusi pun menjadi hangat.

Baca Juga: Gubernur Jenderal Makan Siang di Cicalengka pada 20 Juli 1860

Bagi Adew kehadiran para peserta tadarus memang mengalami pasang surut. Kadang banyak yang hadir, kadang hanya segelintir orang saja. Meski demikian, hal itu tidak menghentikan guliran tadarus yang tetap diadakan setiap Rabu sore. Untuk mensiasati para peserta yang hadir Adew harus jeli memilih buku yang akan ditadaruskan. Misalnya buku sastra yang sudah tiga kali berturut-turut digulirkan selama pandemi. Bahkan saat ini AARC sedang merampungkan kumpulan cerpen karya Putu Wijaya untuk menarik minat kalangan generasi milenial.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Wisata dari Titik Nol Bandung

Senin, 8 Agustus 2022 | 20:11 WIB

Penempatan Siswa di Kelas berdasar Gaya Belajar

Senin, 8 Agustus 2022 | 19:45 WIB

Paypal Diblokir, Bagaimana Nasib para Freelancer?

Senin, 8 Agustus 2022 | 15:19 WIB

Mari Kita Sukseskan Desa Cantik

Jumat, 5 Agustus 2022 | 09:51 WIB

Citayeum, Citayem, dan Citayam

Kamis, 4 Agustus 2022 | 16:50 WIB

Curug Pelangi, Seindah Namanya

Senin, 25 Juli 2022 | 15:20 WIB
X