Tadarus Buku di Bandung: Kini dan Dulu

- Selasa, 24 Mei 2022 | 16:24 WIB
Kawasan Cicalengka pada akhir abad ke-19. (digitalcollections.universiteitleiden.nl)
Kawasan Cicalengka pada akhir abad ke-19. (digitalcollections.universiteitleiden.nl)

Jauh sebelum kemunculan AARC, sudah hadir kelompok membaca yang bermarkas di Cicalengka.

Sore itu matahari mulai tergelincir. Panasnya cenderung meredup dan tersorot kuning kemerahan. Saya segera bergegas untuk pergi ke Museum Asia Afrika, tempat terselenggaranya tadarus buku yang digelar oleh komunitas Asian African Reading Club.

Di ruangan audiovisual, beberapa orang sudah menunggu giliran untuk membaca buku. Masing-masing mendapat giliran membaca satu bab dengan suara keras tanpa langgam yang khas. Biasanya kegiatan ini berlangsung setiap Rabu sore, tepat pukul 16.00. Sampai menjelang magrib tadarus dihentikan sementara lalu dilanjutkan kembali usai salat magrib dengan sesi diskusi.

Sejak tahun 2009 Asian African Reading Club (AARC) memang intens mengadakan tadarus buku. Menurut Deni Rachman, pendiri sekaligus ketua pertama AARC, komunitas ini melanjutkan gagasan Klab Baca Pramoedya yang muncul pada medio tahun 2003. Deni sendiri merupakan pentolan Klab Baca Pramoedya. Bersama Daniel Mahendra ia mengusung kegiatan khataman buku persis seperti metode tadarus Al-Qur’an, dengan beberapa orang membentuk lingkaran. Sayangnya, klab membaca yang lebih dulu lahir dari AARC itu harus vakum pada tahun 2006.

“Iya, AARC berdiri tahun 2009. Waktu itu saya bersama empat orang lainnya mendirikan komunitas ini, dengan meneruskan gagasan Klab Baca Pramoedya yang berakhir di tahun 2006. Nama tadarus buku saya pakai belakangan untuk kegiatan reguler Asian African Reading Club.”, ujar Deni.

Hingga kini, Asian African Reading Club masih eksis menggulirkan tadarus buku. Menurut penuturan Deni, jumlah buku yang pernah ditadaruskan berkisar lebih dari 40 buku. Tentu saja buku-buku yang berlatar Asia Afrika. Baik yang berbentuk sastra, sejarah maupun pemikiran tokoh-tokoh di benua Asia Afrika.

Deni juga menceritakan bahwa buku pertama yang ditadaruskan adalah The Bandung Connection karya Roeslan Abdulgani. Konon, buku ini menaruh semangat peaceful coexistence karena berkisah tentang jejak Konferensi Asia Afrika di Bandung yang gandrung menentang kolonialisme. Mula-mula Deni ditawari oleh kepala Museum KAA untuk mendiskusikan buku tersebut. Kala itu The Bandung Connection masih terbilang langka, bahkan Deni sendiri belum pernah membacanya.

“Saya juga baru melihat buku itu setelah Isman Pasha, kepala Museum KAA, menawari saya untuk mentadaruskan The Bandung Connection sebelum kegiatan AARC dimulai”, ucap Deni.

Baca Juga: Gambaran J.E. Teijsmann tentang Cicalengka Tahun 1853

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kerbau di Cicalengka Tahun 1880-1900

Minggu, 3 Juli 2022 | 19:36 WIB

Menengok Alasan Seseorang Tetap Melajang

Jumat, 1 Juli 2022 | 15:53 WIB

ASEAN Diapit Dua Konflik

Senin, 27 Juni 2022 | 14:49 WIB

Mengapa India Ditinggalkan Australia cs?

Kamis, 23 Juni 2022 | 13:55 WIB

Ukraina di Ambang Perdamaian?

Selasa, 21 Juni 2022 | 15:14 WIB

Cibacang dan Cilimus yang Abadi dalam Toponimi

Minggu, 19 Juni 2022 | 15:42 WIB

Haruskah Indonesia Bergabung dengan BRICS?

Selasa, 14 Juni 2022 | 22:08 WIB
X