Gubernur Jenderal Makan Siang di Cicalengka pada 20 Juli 1860

- Minggu, 22 Mei 2022 | 17:48 WIB
Lukisan Charles Ferdinand Pahud (1803-1873), gubernur jenderal Hindia Belanda antara 1855-61, koleksi Rijksmuseum, Belanda. (Wikimedia Commons)
Lukisan Charles Ferdinand Pahud (1803-1873), gubernur jenderal Hindia Belanda antara 1855-61, koleksi Rijksmuseum, Belanda. (Wikimedia Commons)

Pada 1860, C.F. Pahud mengadakan perjalanan ke Priangan, antara lain singgah di Cicalengka pada 20 Juli 1860. (Java-bode, 28 Juli 1860.)

Hampir satu abad setengah setelah perjalanan Abraham van Riebeeck, Cicalengka disinggahi orang nomor satu di Hindia Belanda: Charles Ferdinand Pahud. Ia sempat makan siang di Cicalengka pada 20 Juli 1860, atau setahun sebelum dia pensiun sebagai gubernur jenderal.

Namun, agar gambarannya lebih utuh, mari kita lihat sedikit biografinya sebagaimana yang ditulis Rooseboom (dalam Nieuw Nederlandsch biografisch woordenboek [1924: 945-949] suntingan P.J. Blok dan P.C. Molhuysen).

Menurut Rooseboom, Charles Ferdinand Pahud lahir di Amsterdam pada 18 April 1803 dari pasangan Abraham Daniel Ferdinand Pahud, kepala de wees- en boedelkamer di Semarang, dan Antoinette Philippine Christine Walther. Ia mulai tercatat sebagai pegawai kolonial pada 15 April 1823. Melalui keputusan Belanda pada 21 November 1855, Charles diangkat menjadi gubernur jenderal Hindia Belanda.

Di masa pemerintahan Charles Ferdinand Pahud, kata Rooseboom, terjadi peristiwa-peristiwa penting, antara lain budidaya kopi dan tebu yang paling penting, sementara hasil budidaya indigo atau nila dan teh tidak menguntungkan. Jalur telegraf pertama kali dioperasikan di Pulau Jawa. Regulasi 8 April 1856 terkait aturan percetakan yang diterbitkannya menimbulkan ketidakpuasan. Pada 1859, didirikan Gymnasium Willem III di Batavia untuk pendidikan menengah dan persiapan. Keamanan Pulau Jawa terkendali. Tetapi pada Januari 1860 terjadi konspirasi pemberontakan dan desersi garnisun Swiss di Jawa Tengah. Antara 1860-1861, sebagian wilayah Jawa terlandar banjir.

Dalam kerangka inspeksi budidaya itu pula, sejak 16 Juli 1860, Gubernur Jenderal Charles Ferdinand Pahud melalukan perjalanan ke sekitar Bandung. Konteks lebih luasnya dapat dibaca dari pemberitaan Java-bode edisi 28 Juli 1860, De Oostpost (1 Agustus 1860), dan Rotterdamsche Courant (14 September 1860 dan 1 Oktober 1860).

Baca Juga: Belajar Regulasi Adopsi Anak lewat Film 'Instant Family'

Dari sumber-sumber sezaman itu, diperoleh gambaran bahwa Charles memulai perjalanannya dimulai pada 6 Juli 1860. Saat itu dia berada di Rangkasbitung, Banten, dalam kerangka memeriksa bangunan pemerintah dan masjid yang sedang dibangun. Pada 7 Juli 1860, gubernur jenderal menuju Sajra ke arah Bogor dan sebelum malam tiba di lahan milik Van Motman di Naggung. Esoknya setelah memeriksa lahan milik Motman dan Ciampea, gubernur jenderal tiba di Istana Bogor.

Perjalanan Charles ternyata dilanjutkan. Ia berlanjut ke Cianjur. Setelah menjumpai Distrik Sukabumi pada 13 Juli 1860, gubernur jenderal berangkat dari Cianjur ke Bandung. Setiba di Bandung, para pejabat baik kalangan Eropa dan pribumi menyambutnya serta makan malam bersama. Pada 15 Juli 1860, sang gubernur jenderal mengunjungi perkebunan kina Nagrak di lereng Gunung Tangkubanparahu dan dua kawah gunung itu. Perkebunan Nagrak berada di bawah pengawasan Inspecteur voor Natuurkundige Onderzoekingen in Ned. Indië (pengawas penyelidikan alam di Hindia Belanda) Dr. Junghuhn. Saat itu Junghuhn tinggal di Lembang.

Setelah menghadiri perburuan kijang di padang Munjul dan makan siang di Banjaran, Charles tiba di Cisondari pada jam 14.00, 16 Juli 1860. Di sana dia menginap di pesanggrahan yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Setelah bermalam, sang gubernur jenderal merasa yakin bahwa budidaya kina di utara Bandung memuaskan. Selama dua hari di sana dia ditemani Junghuhn, residen Priangan, dan Inspecteur voor Scheikundige Onderzoekingen in Ned. Indië (pengawas penyelidikan kimia Hindia Belanda) Dr. J. E. de Vrij. Gubernur jenderal melanjutkan perjalanannya dari lembah Cisondari ke cekungan Pangalengan.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Nama Mahluk Halus Jadi Nama Geografi

Rabu, 17 Agustus 2022 | 16:18 WIB

Sudah Menjaga Pola Makan, Kenapa Masih Sering Sakit?

Selasa, 16 Agustus 2022 | 21:15 WIB

Raden Dewi Sartika di Cicalengka (1894-1902)

Senin, 15 Agustus 2022 | 16:33 WIB

Nama Geografi Menjadi Istilah Geomorfologi Khas Sunda

Sabtu, 13 Agustus 2022 | 13:55 WIB

Wisata dari Titik Nol Bandung

Senin, 8 Agustus 2022 | 20:11 WIB

Penempatan Siswa di Kelas berdasar Gaya Belajar

Senin, 8 Agustus 2022 | 19:45 WIB

Paypal Diblokir, Bagaimana Nasib para Freelancer?

Senin, 8 Agustus 2022 | 15:19 WIB

Mari Kita Sukseskan Desa Cantik

Jumat, 5 Agustus 2022 | 09:51 WIB

Citayeum, Citayem, dan Citayam

Kamis, 4 Agustus 2022 | 16:50 WIB
X