Mendesak Perlunya Tim Ahli Toponimi di Daerah

- Jumat, 20 Mei 2022 | 16:02 WIB
Ilustrasi jalanan Kota Bandung. Sangat mendesak untuk dibentuk tim ahli toponimi di tingkat Kabupaten dan Kota, yang memberikan rekomendasi nama-nama geografi. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)
Ilustrasi jalanan Kota Bandung. Sangat mendesak untuk dibentuk tim ahli toponimi di tingkat Kabupaten dan Kota, yang memberikan rekomendasi nama-nama geografi. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

Sangat mendesak untuk dibentuknya tim ahli toponimi di tingkat Kabupaten dan Kota, yang memberikan rekomendasi kelayakan dan kepatutan nama-nama geografi.

Pemberian nama-nama geografi yang tidak sesuai dengan karakter bumi, hayati, dan budaya masyarakatnya, kini merajalela di berbagai daerah, dan direstui oleh otoritas Negara, bahkan kekacauan pemberian mana ini mewabah di tingkat Kabupaten dan Kota.

Bukan saja nama-nama perumahan, tapi juga nama gedung, jalan, dan nama daya tarik pariwisata.

Di Kota Bandung ada istilah Bandung Smart City, ada gedung Bandung Creative Hub, ada Pet Park, dan lain-lain.

Ketika di suatu kota ada stadion memakai nama internasional, maka di tempat lainnya memakai internasional juga.

Di Provinsi Banten ada Banten International Stadium, kemudian di Provinsi DKI Jaya ada Jakarta International Stadium (JIS).

Ketika di suatu daerah ada nama gedung atau stadion yang memakai nama pejabat yang masih menjabat, masih hidup, maka di tempat lain pun mengikuti jejak kekeliruannya. Padahal aturan tentang pemberian nama-nama geografi itu sudah terang-benderang. 

Sebagai contoh, tiga nama perumahan di Bandung, Dago Village, lokasi: Jl Lebaksiuh, Jl Bukit Pakar Timur, Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Green Valley Residence, lokasi: Jl Sasakbatu, Jatihandap, Kecamatan Mandalajati, Kota Bandung, Jawa Barat. Dream Hill Residence, lokasi: Laksanamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, dan banyak lagi nama-nama perumahan yang memakai bahasa asing.

Baca Juga: Peran Guru Mewujudkan Sumedang Simpati

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Bahan Bangunan dari Cicalengka (1907-1941)

Senin, 3 Oktober 2022 | 16:01 WIB

Penguatan Status Kepegawaian Perangkat Desa

Minggu, 2 Oktober 2022 | 07:00 WIB

Mari Memperbanyak Boks Buku di Stasiun Kereta Api!

Kamis, 29 September 2022 | 11:27 WIB

Invasi Rusia di Ukraina Menuju Tahap Akhir

Kamis, 22 September 2022 | 20:11 WIB

Memahami Tatib Sekolah dengan Menjadi Reporter

Selasa, 20 September 2022 | 21:15 WIB

Citisuk

Senin, 19 September 2022 | 15:35 WIB

Indische Partij Cabang Cicalengka Tahun 1913

Minggu, 18 September 2022 | 14:51 WIB

Bogor Menjadi Destinasi Favorit yang Harus Dibenahi

Rabu, 14 September 2022 | 21:13 WIB
X