Mengelola Nilai Kebijaksanaan

- Senin, 16 Mei 2022 | 19:37 WIB
Kehadiran peringatan Tri Suci Waisak 2566 BE ini menjadi momentum awal untuk terus menghidupkan nilai-nilai dan tradisi kebijaksanaan. (Pixabay/JT_Ryan)
Kehadiran peringatan Tri Suci Waisak 2566 BE ini menjadi momentum awal untuk terus menghidupkan nilai-nilai dan tradisi kebijaksanaan. (Pixabay/JT_Ryan)

Ingat, salah satu warisan E.F. Schumacher bagi dunia adalah keyakinannya bahwa "kita memerlukan keberaniaan untuk berkonsultasi dengan dan mengambil manfaat dari tradisi-tradisi kebijaksanaan untuk manusia."

Pasalnya, ilmu pengetahuan modern telah mengkikis kosmologi dari tradisi-tradisi tersebut, sementara kebudayaan sosial dari masa yang dicerminkan kosmologi-kosmologi tersebut--struktur kelas, relasi gender--harus ditelaah ulang berdasarkan perubahan zaman dan perjuangan terus menerus mencapai keadilan.

Namun, jika kita memilih memilah kesimpulan mereka tentang realitas dan bagaimana hidup seharusnya dijalani, nilai-nilai dan tradisi-tradisi itu mulai terlihat seperti kebijaksanaan dari umat manusia.

Baca Juga: 2 Rahasia Jitu Timnas Indonesia U-23 Berhasil Pecundangi Myanmar

Di rahan etika, dekalog (dasa titah) boleh dibilang meringkaskan itu semua. Kita tidak boleh membunuh (termasuk aksi bom bunuh diri, terorisme), mencuri, berbohong dan berzina. Ini adalah panduan minimal, tapi bukannya sia-sia bila kita menyadari setelah merenungkan betapa dunia akan jauh lebih baik jika panduan-panduan itu dihormati secara universal.

Dengan beranjak dari landasan etis ini, dalam mencari jenis manusia yang kita cita-cita, maka kita akan mencapai pada dasarnya 3 kebajikan manusia; kerendahan hati, kebaikan hati dan ketepatan. Kerendahan hati bukanlah merendahkan diri, melainkan kemampuan untuk menganggap diri sebagai satu pribadi penuh, tapi tidak lebih dari satu. Kebaikan hati memindahkan beban ke kaki lain, yaitu menganggap tetangga kita sebagai pribadi yang sama penuhnya dengan kita. Ketepatan, hal demikian meluas dan kejujuran dasar menjadi objektivitas sublim--kemampuan untuk melihat hal ihwal sebagaimana adanya, yang terbebas dari distorsi subjektif.

Tatkala keserakahan, kebencian dan khayalan itu dihapuskan, maka datanglah penyerahan diri (keredahan hati), belas kasih (kebaikan hati), dan melihat hal ihwal sebagaimana adanya (ketepatan).

Memang dari sudut pandang manusia murni, tradisi-tradisi kebijaksanaan adalah upaya paling panjang dan serius dari spesies manusia untuk menebak gambar bagian depan permadani kehidupan tatkala kita melihatnya dari belakang. Manakala keindahan dan keserasian rancarang permadani itu tergambar dari jejalin bagian-bagiannya, maka rancangan itu memberikan makna bagi bagian-bagian tersebut, yang tidak akan bermakna jika dilihat secara terpisah.

Kita bisa mengatakan bahwa melihat diri kita berasal dari kesatuanlah, yang menjadi inti agama. Inilah upaya mendasar umat manusia untuk melakukan penyatuan dengan (nilai nilai dan) tradisi-tradisi kebijaksanaan. (Huston Smith, 2015:425-427).

Pada saat orang lain berhasil mencapai kebijaksaan yang tak terhalangi dan sempurna, sifat sejati segala sesuatu yang mampu menghentikan nafsu keinginan apa pun, ia telah mencapai alam transendental, pikirannya telah melampaui kondisi duniawi. Ketika ia telah melepaskan sepenuhnya dan sebaik-baiknya semua kotoran batin, pikirannya akan bebas permanen dari semua hal-hal duniawi ini yang sebelumnya ia sukai dan benci.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Nama Mahluk Halus Jadi Nama Geografi

Rabu, 17 Agustus 2022 | 16:18 WIB

Sudah Menjaga Pola Makan, Kenapa Masih Sering Sakit?

Selasa, 16 Agustus 2022 | 21:15 WIB

Raden Dewi Sartika di Cicalengka (1894-1902)

Senin, 15 Agustus 2022 | 16:33 WIB

Nama Geografi Menjadi Istilah Geomorfologi Khas Sunda

Sabtu, 13 Agustus 2022 | 13:55 WIB

Wisata dari Titik Nol Bandung

Senin, 8 Agustus 2022 | 20:11 WIB

Penempatan Siswa di Kelas berdasar Gaya Belajar

Senin, 8 Agustus 2022 | 19:45 WIB

Paypal Diblokir, Bagaimana Nasib para Freelancer?

Senin, 8 Agustus 2022 | 15:19 WIB

Mari Kita Sukseskan Desa Cantik

Jumat, 5 Agustus 2022 | 09:51 WIB

Citayeum, Citayem, dan Citayam

Kamis, 4 Agustus 2022 | 16:50 WIB
X