Mengelola Nilai Kebijaksanaan

- Senin, 16 Mei 2022 | 19:37 WIB
Kehadiran peringatan Tri Suci Waisak 2566 BE ini menjadi momentum awal untuk terus menghidupkan nilai-nilai dan tradisi kebijaksanaan. (Pixabay/JT_Ryan)
Kehadiran peringatan Tri Suci Waisak 2566 BE ini menjadi momentum awal untuk terus menghidupkan nilai-nilai dan tradisi kebijaksanaan. (Pixabay/JT_Ryan)

Sebagaimana Buddha mencapai pencerahan melalui meditasi, maka meditasi juga penting bagi semua umat Buddha, baik yang ditahbiskan maupun umat awam. Ada dua bentuk meditasi dasar; Pertama, Samatha dilakukan untuk menciptakan perkembangan pikiran dan ketenangan bati yang sejati. Biasanya pikiran berada dalam kondisi yang berubah-ubah karena adanya gangguan dari indera, keinginan-keinginan dan refleksi. Meditasi jenis ini membebaskan pikiran dan mengarahkan ke fokus tertentu.

Kedua, Vipassana dilakukan untuk memberikan pemahaman mendalam akan kebenaran terhadap hal-hal yang dapat berubah-ubah (anicca), penderitaan (duka) dan ketidakabadian jiwa (anatman). Vipassana lebih tinggi tingkatannya daripada Samatha karena Vipassana merupakan meditasi Buddha yang sangat istimewa dan menghasilkan jenis pemahaman yang membawa umat Buddha kepada pencerahan Vipasssana membentuk dasar pengajaran dari seluruh inti meditasi Therevada. (Michael Keene, 2006:80-81).

Dengan demikian, doa dan meditasi merupakan salah satu jalan terpenting bagi umat Buddha untuk memperoleh ketenangan batin dan meraih kebijaksanaan hidup.

Saking pentingnya tentang kebijaksanaan Sang Buddha mengingatkan kepada umatnya untuk menahan amarah, balas dendam dan membalasnya dengan belas kasih. Sang Buddha bersabda “Rago doso mado moho yattha panna na gadhati/Dimana terdapat nafsu, kebencian, kemabokan dan kedungguan disitu tidak terdapat kebijaksanaan.”

Walaupun kebijaksanaan dikatakan tak bergerak, ini tidak berarti benda mati, seperti kayu (batu). Kebijaksanaan bergerak ke arah pikiran biasa bergerak: maju (mundur), ke kiri (kanan), ke sepuluh penjuru dan ke delapan arah mata angin. Pikiran yang tak berhenti sama sekali disebut kebijaksanaan yang tak bergerak.

Fudo Myoo menggenggam sebilah pedang dengan tangan kanan dan memegang seutas tali dengan tangan kiri. Dia memperhatikan gigi geliginya dan matanya berkilat-kilat marah. Dia memangan kuda-kuda, siap mengalahkan roh jahat yang akan menghalangi hukum Buddha. Hal ini tidak tersembunyi di negara mana pun. Wujudnya dibuat berbentuk pelindung ajaran Buddha, sementara ekspresi yang ditunjukkannya merupakan kebijaksanaan tak bergerak. Inilah yang ditunjukkan kepada makhluk hidup. 

Jika melihat bentuk Fudo Myoo, orang bisa akan menjadi takut dan tidak lagi mempunyai pikiran untuk menjadi musuh ajaran Buddha. Orang yang hampir mencapai tingkat pencerahan mengerti bahwa hal ini melambangkan kebijaksanaan tak bergerak dan melenyapkan semua delusi. Bagi oarang yang dapat memperlihatkan kebijaksanaan tak bergeraknya dan mampu secara fisik melaksanakan ajaran kejiwaan ini sebaik Fudo Myoo, roh jahat tak akan bertambah. Inilah tujuan perwujudkan Fudo Myoo.

Konon, yang disebut dengan Fudo Myoo adalah pikiran yang tak bergerak dan gerakan tubuh yang tidak ragu-ragu. Tidak ragu-ragu berarti tidak tertahan oleh apa pun. Melihat sesuatu secara sekilas tanpa menghentikan pikiran disebut tak bergerak. Alasannya, jika pikiran berhenti pada sesuatu, saat kau dipenuhi dengan berbagai penilaian, akan ada berbagai gerkan dalam tubuhmu. Saat gerakan itu berhenti, pikiran yang berhenti akan bergerak, tetapi tidak bergerak sama sekali. (Takuan Soho, 2007:4-5) 

Menghidupkan Nilai

Di tengah-tengah kehidupan bergama di Indonesia yang sering terjadi konflik, pertikaian dan kekerasan atas nama agama, maka usaha menghidupkan berbagai tradisi kebijaksanaan agama-agama menjadi bagian penting yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. 

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Nama Mahluk Halus Jadi Nama Geografi

Rabu, 17 Agustus 2022 | 16:18 WIB

Sudah Menjaga Pola Makan, Kenapa Masih Sering Sakit?

Selasa, 16 Agustus 2022 | 21:15 WIB

Raden Dewi Sartika di Cicalengka (1894-1902)

Senin, 15 Agustus 2022 | 16:33 WIB

Nama Geografi Menjadi Istilah Geomorfologi Khas Sunda

Sabtu, 13 Agustus 2022 | 13:55 WIB

Wisata dari Titik Nol Bandung

Senin, 8 Agustus 2022 | 20:11 WIB

Penempatan Siswa di Kelas berdasar Gaya Belajar

Senin, 8 Agustus 2022 | 19:45 WIB

Paypal Diblokir, Bagaimana Nasib para Freelancer?

Senin, 8 Agustus 2022 | 15:19 WIB

Mari Kita Sukseskan Desa Cantik

Jumat, 5 Agustus 2022 | 09:51 WIB

Citayeum, Citayem, dan Citayam

Kamis, 4 Agustus 2022 | 16:50 WIB
X